Lanjut ke konten

Menyepelekan Pemakaian Helm dengan Alasan Jarak Dekat

5 Januari 2015

boncengan bertiga dong

SAAT ini masih dengan mudah kita menyaksikan pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm pelindung kepala. Mereka wira-wiri di jalan raya, terutama di jalan kawasan pemukiman.

Penunggang kuda besi yang tak memakai helm tak mengenal gender, baik pria maupun wanita. Bahkan, tak mengenal usia, di antara mereka ada yang usia muda dan tua, termasuk para remaja dan anak-anak. Posisi mereka tak semata sebagai penumpang, tapi juga selaku pengendara.

Bagaimana soal pendidikan dan latar belakang ekonomi? Mereka juga tak mengenal kelas. Bayangkan, dari yang sekadar lulusan sekolah dasar (SD) hingga yang mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi. Dari sisi ekonomi, mulai yang pendapatan bulanannya sekadar buat makan dan minum, hingga yang pendapatannya bisa untuk berpelesiran ke luar negeri.

Soal alasan tidak memakai helm beragam. Mulai yang berdalih tidak punya helm, tidak ada penindakan dari petugas hingga jarak dekat. Untuk alasan yang terakhir ini termasuk yang sering kita jumpai di masyarakat kita. Lantaran hal itu pula saya tergelitik menulis artikel ini. Yuk kita kupas sejenak.

Alasan Jarak Dekat

Mereka yang beralasan tidak memakai helm lantaran naik motor untuk jarak dekat bukan dominasi pengendara pemula. Maksudnya, bukan semata mereka yang tidak tahu soal risiko bila terjadi benturan di kepala dengan permukaan jalan. Tapi, juga mereka yang sebetulnya sangat faham bahwa benturan di kepala bisa menimbulkan risiko fatal. Disinilah letak pengetahuan menjadi tak berguna. Butuh kepedulian atau kepekaan bahwa kecelakaan bisa terjadi di mana saja. Bahkan, butuh kesadaran bahwa hal gede seringkali dimulai oleh hal yang dianggap sepele.

Permukaan aspal jalan yang ada di sekitar pemukiman maupun yang ada di jalan protokol memiliki kekerasan yang sama. Artinya, bila kepala berbenturan dengan permukaan aspal memiliki risiko yang sama. Mau jatuhnya di kampung maupun di kota, risiko yang ditimbulkan sama, bisa melukai penunggang sepeda motor. Bahkan, lebih jauh dari itu bisa menimbulkan kematian karena luka yang diderita cukup parah.

Kalau sudah begitu, apa makna di balik alasan ‘hanya jarak dekat’ ?

Jangan-jangan ada alasan lain, yakni menyepelekan fungsi helm. Atau, tidak mau ribet oleh proses pemakaian helm. Kalau ini yang menjadi akar persoalannya, mudah ditebak bahwa kesadaran berkendara yang aman dan selamat masih amat rendah. Urusan keselamatan jalan masih belum mencapai tahap kebutuhan. Keselamatan saat berkendara masih dianggap sebagai kewajiban. Sekali lagi, levelnya belum sampai pada tahap kebutuhan. Maklum, jika pada tahap kebutuhan, ikhtiar untuk melindungi diri sudah tak mengenal kata ribet. Prioritas adalah bagaimana memperkecil risiko.

Cedera Kepala

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa mayoritas kematian pesepeda motor saat kecelakaan lalu lintas jalan dipicu oleh cedera di leher dan kepala. Seringan apapun tingkat benturan kepala dengan permukaan aspal bisa menimbulkan cedera yang mematikan. Kepala manusia menjadi instrumen tubuh yang penting karena disanalah bersemayam organ otak. Organ inilah yang mengendalikan tubuh. Bila cedera serius, bukan mustahil berujung pada kematian.

Kalau begitu, memakai helm adalah untuk melindungi isi kepala kita karena ada otak di dalamnya.

Bila kita mengutip data WHO terlihat bahwa di negara-negara tertinggal dan berkembang, cedera kepala diperkirakan berkontribusi sekitar 88% terhadap kematian pesepeda motor. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Eropa yang diperkirakan sekitar 75%.

WHO juga bilang, memakai helm standard dengan kualitas baik bisa mengurangi risiko kematian sebesar 40%. Selain itu, helm juga bisa mereduksi risiko cedera serius lebih dari 70%.

Saking seriusnya persoalan melindungi kepala, Negara Indonesia mengaturnya di dalam Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Aturan serupa sebelumnya juga sudah diatur oleh UU No 14/1992 tentang LLAJ yang kini digantikan oleh UU No 22/2009.

Bedanya, bila dalam UU No 14/1992 tentang LLAJ sanksi tidak memakai helm saat bersepeda motor denda maksimalnya Rp 1 juta. Eh, dalam UU No 22/2009 tentang LLAJ yang berlaku saat ini, denda maksimalnya Rp 250 ribu. Atau, pilihan lainnya adalah mendekam di balik jeruji penjara maksimal satu bulan. Waduh!

Selain itu, bila aturan yang sebelumnya mewajibkan hanya pengendara. Kini, pengendara dan penumpang motor sama-sama wajib memakai helm. Bahkan, mewajibkan helm yang dipakai harus sesuai dengan Standard Nasional Indonesia (SNI).
Kalau sudah begitu, tak perlu ada lagi alasan hanya jarak dekat lantas tidak memakai helm dong? (edo rusyanto)

10 Komentar leave one →
  1. 5 Januari 2015 00:08

    Iya aku juga sering melakukannya…follow juga blogku dong mas Edo. Ini Wito Karyono

  2. 5 Januari 2015 03:30

    Memang benar ya kadang ada yang seperti ini… over pede

  3. 5 Januari 2015 13:31

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  4. 5 Januari 2015 19:38

    mau ketempat ibadah juga tak pakai helm karna merasa aman tujuan mulia dan berharap bila kecelakaan tidak akan parah karena sudah berdoa

  5. 5 Januari 2015 21:09

    wah aku juga sering nyepelein masalah helm, padahal kalo liat orang gk make hem marah” gk jelas gitu dalem hati wkwkwkwk 😀

  6. 6 Januari 2015 02:27

    Saya setuju dengan pernyataan yg ini: Kalau begitu, memakai helm adalah untuk melindungi isi kepala kita karena ada otak di dalamnya.

    Mari sayangi kepala kita masing2…. 🙂

  7. 6 Januari 2015 10:57

    susah kalau sudah bicara kebiasaan dan bicara gampang, tenang , beres, santai, artinya kebanyakan kita menyepelakan hal2 yang dianggap sepele,,

  8. yastika permalink
    15 Januari 2015 11:36

    sy dulu juga begitu, tp stlh anak mulai bisa bicara dan berlogika si kecil yang akhirnya menyadarkan…ibu, kenapa kalo dekat ibu ga pake helm??? qiqiqi…susah kan jawabnya?? so, lebih baik ajarkan bagaimana seharusnya dari pada malu sama anak….

Trackbacks

  1. Kemanapun Kita Naik Motor, Aspal Jalan Tetap Keras | Suka Roda Dua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: