Skip to content

Ngebut Menjemput Maut

31 Desember 2014

mobil ringsek

MELAJU di atas batas kecepatan maksimal alias ngebut bisa berujung maut. Banyak kasus di jalan raya yang memperlihatkan bahwa ngebut setara dengan menjemput maut.

Pengalaman membuktikan bahwa ketika ngebut di jalan raya, kemampuan mengontrol kendaraan dan situasi sekitar menjadi berkurang. Di situlah letak celah lebar terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Repot.

Coba aja tengok data yang dilansir Korlantas Polri tahun 2013. Aspek mengemudi melampaui batas kecepatan menyumbang sekitar 13% pada kecelakaan di seluruh Indonesia. Tahun itu, setiap hari rata-rata ada 36 kasus kecelakaan yang dipicu aspek ngebut.

Aspek ngebut menjadi elemen ketiga terbesar pemicu kecelakaan di faktor manusia. Biang kerok utama masih perilaku tidak tertib, yakni sekitar 46% dan kedua, berkendara dalam kondisi lengah (32%).

Secara keseluruhan faktor manusia, pada 2013 menyumbang sekitar 91% dalam kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Faktor manusia menyumbang sekitar 250 kasus kecelakaan per hari pada 2013. Dahsyat kan?

Lantas, berapa batas kecepatan maksimal yang diizinkan oleh perundangan yang berlaku saat ini?

Yuk kita lihat regulasi berikut ini.

Kecepatan maksimum kendaraan bermotor di jalan raya diatur dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam UU yang diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu kecepatan maksimum diatur lebih rinci dalam peraturan pemerintah (PP) No 79 tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam PP yang lahir pada 10 Desember 2013 tersebut bahkan diatur pula batas kecepatan minimum.

Sebelum lebih jauh, Presiden Soeharto saat berkuasa pun pernah mengatur batas kecepatan maksimum di jalan raya. Saat itu, regulasinya tertuang di Undang Undang No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Lalu, diatur lebih rinci dalam PP 43 tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan.

Mari kita lihat aturan batas kecepatan maksimum yang diatur oleh PP No 79 tahun 2013 yang diteken Presiden SBY. PP tersebut menegaskan bahwa setiap jalan memiliki batas kecepatan paling tinggi yang ditetapkan secara nasional. Batas kecepatan paling tinggi diatur untuk empat jenis jalan, yakni pertama di jalan bebas hambatan. Kedua, batas kecepatan di jalan antarkota. Ketiga, batas kecepatan jalan pada kawasan perkotaan dan keempat, pada jalan di kawasan permukiman.

Untuk di jalan bebas hambatan diatur juga batas kecepatan paling rendah, yakni 60 kilometer per jam (kpj). Sedangkan batas paling tinggi 100 kpj.

Untuk jalan antarkota batas kecepatan paling tingginya adalah 80 kpj. Lalu, untuk di kawasan perkotaan kecepatan maksimal 50 kpj. Sedangkan di kawasan permukiman kecepatan paling tinggi adalah 30 kpj.

Ada catatan penting dalam aturan tersebut, yakni bahwa batas kecepatan paling tinggi dapat ditetapkan lebih rendah jika memenuhi tiga aspek. Aspek pertama yang menjadi dasar pertimbangan adalah frekuensi kecelakaan yang tinggi di lingkungan jalan yang bersangkutan. Kedua, perubahan kondisi permukaan jalan atau geometri jalan atau lingkungan sekitar jalan. Nah yang ketiga, ada usulan masyarakat melalui rapat forum lalu lintas dan angkutan jalan sesuai dengan tingkatan status jalan.

speeding campaign 2014_1

Oh ya, batas kecepatan maksimal maupun perubahan atas batas kecepatan harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas.
Setidaknya ada dua perbedaan yang menonjol di dalam aturan tahun 2013 dengan undang undang sebelum tahun 2009. Pertama, di dalam aturan yang berlaku saat ini diatur soal batas kecepatan terendah di jalan tol. Kedua, ini yang amat menonjol, perubahan atas batas kecepatan bisa dilakukan jika ada usulan masyarakat lewat forum lalu lintas dan angkutan jalan.

Nah, hal yang penting adalah sejauhmana penerapan aturan ini di lapangan? Sejauhmana rambu-rambu yang disediakan oleh dinas perhubungan? Atau, sejauhmana pengawasan dan sanksi atas pelanggaran batas kecepatan? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Oh ya, soal ngebut atau berkecepatan maksimum ternyata juga menjadi sorotan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Badan itu menyatakan, ngebut menjadi masalah keselamatan jalan utama di semua negara. Ngebut meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan dan parahnya dampak kecelakaan lalu lintas jalan.

Dalam laporan WHO yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’ juga disebutkan bahwa pejalan kaki dan pesepeda menjadi kelompok paling berisiko cedera akibat pola berkendara yang berkecepatan tinggi. Tiap hari, rata-rata 747 pejalan kaki tewas atau 31 orang per jam. Sedangkan pesepeda yang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di dunia, tiap hari sebanyak 169 jiwa. WHO menyebutkan kecelakaan lalu lintas jalan merenggut sekitar 1,24 juta jiwa di dunia. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 5 Januari 2015 13:30

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: