Skip to content

Jangan Remehkan Kicauan Mereka

25 Desember 2014

Screenshot_2014-12-25-12-10-37_resized

JAGAT lini masa punya kekuatan luar biasa. Kicauan para pemilik akun twitter bisa mewarnai ranah kehidupan sosial. Ketika sentimen-sentimen sosial diungkap ke publik dalam ranah bernama twitter, dalam waktu sekejap bisa menggelorakan kehidupan masyarakat. Bahkan, bisa berujung aksi demonstrasi massa.

Twitter sebagai salah satu jejaring media sosial bisa menjangkau belahan dunia dalam waktu sekejap. Lewat teknologi seluler dan internet dunia berada di dalam genggaman. Tak heran, jika terjadi pergeseran sosial dalam rentang waktu tak kurang dari sepuluh tahun terakhir. Kalau dulu ada pepatah, ‘mulut mu harimau mu’ kini bisa berubah menjadi ‘jempol mu harimau mu’. Kalimat demi kalimat yang diketik di jejaring sosial, termasuk di lini masa bisa berujung pada kebahagiaan atau kenestapaan termasuk meringkuk di balik jeruji penjara. Karena itu, jangan remehkan kicauan mereka.

Salah satu ‘pasukan’ yang getol berkicau di lini masa adalah kelompok Kopdar Pengicau (Kopcau) yang memiliki akun twitter @kopdarpengicau. Komunitas yang berbasis di Jakarta ini baru saja genap berusia dua tahun pada Selasa, 23 Desember 2014.

Ketika didirikan pada dua tahun lalu, kelompok ini berawal dari para admin akun twitter kelompok pengguna sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya. Seiring perjalanan waktu, mereka yang berkumpul tak semata admin dari kelompok seperti itu, namun bisa juga para individu yang memiliki akun twitter.

Nah, karakter yang dibentuk oleh Kopcau adalah kelompok pengicau bersubstansi seputar masalah keselamatan jalan. Awalnya, keselamatan jalan yang terkait dengan para penunggang kuda besi. Segala pernak pernik terkait bersepeda motor di jalan raya pun menghiasi setiap kicauan mereka di lini masa. Saat itu, saya lontarkan agar memudahkan pesan yang ingin disampaikan juga dilengkapi dengan poster digital. Disebut poster digital karena poster yang dimaksud berada di dunia maya.

Poster yang dibuat cukup sederhana, yakni berupa foto karya anggota Kopcau yang diolah dengan dilengkapi kalimat-kalimat pesan keselamatan jalan. Kemudian, poster juga dilengkapi dengan hastag (#) ‘ajakan selamat’ dan ‘aja(r)kan selamat’. Maksudnya, kicauan Kopcau adalah sebuah pesan ajakan untuk selamat saat berlalu lintas jalan. Bukan paksaan.

kopcau hut kedua 2014

Dalam perjalanannya, kicauan yang dibalut dengan poster digital ternyata cukup menarik minat warga lini masa. Para pengikut akun @kopdarpengicau pun berdatangan. Kini, setidaknya ada 2.655 pengikut akun yang baru seumur jagung itu. Di darat, yakni saat mereka berkumpul atau disebut kopi darat (kopdar), jumlahnya pun kini sudah menyentuh dua puluhan orang. Bahkan, mereka yang tergabung dari berbagai kota di Pulau Jawa. Setidaknya ada yang dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cianjur, Sukabumi, Bandung, dan Malang.

Kian Berbentuk

Kicauan Kopcau kerap kali bernuansa persoalan yang ada di sekitar para pengguna jalan. Mengungkap hal-hal yang dianggap kecil, misalnya, bagaimana cara berbelok yang aman dan selamat. Kicauan pun diisi soal pentingnya menyalakan lampu sein dan menengok sejenak ketika hendak berbelok. Terlihat sepele. Tapi, coba lihat sekitar kita, masih banyak pengguna jalan, baik itu pengendara mobil maupun sepeda motor yang dengan entengnya berbelok tanpa menyalakan lampu isyarat sekaligus tidak melihat sekitarnya. Mudah ditebak, kejadian selanjutnya adalah menimbulkan ‘kekacauan’, mulai dari kemacetan hingga insiden kecelakaan lalu lintas jalan.

Ya. Bagi yang menganggap berbelok adalah masalah kecil, perlu diingatkan oleh Kopcau bahwa ‘Hal gede kerap kali diawali oleh masalah yang dianggap sepele.’

Banyak hal-hal yang dianggap sepele saat di jalan raya. Contoh lainnya, berhenti di atas marka zebra cross atau melibas garis setop. Bahkan, ada yang menganggap sepele saat melibas bahu jalan. Termasuk, menganggap sepele aktifitas berponsel sambil mengemudi.

logo kopdar pengicau 2013 pakai

Jujur saja, itu semua adalah perilaku yang diatur dalam regulasi yang berlaku saat ini. Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mengatur seluruh aktifitas yang mengganggu konsentrasi sebagai sebuah tindakan terlarang. Faktanya, masih banyak yang melabrak aturan. Entah karena tidak tahu aturan yang berlaku, atau memang karena menganggap remeh hal-hal seperti disebut di atas.

Buntutnya memilukan. Mayoritas pemicu kecelakaan lalu lintas jalan adalah perilaku tidak tertib. Contohnya ya seperti yang saya tulis di atas. Perilaku ugal-ugalan alias tidak tertib menyumbang sekitar 42% dari total kasus kecelakaan yang mencapai 320-an kasus per hari. Buah dari itu semua cukup getir, yaitu melayangnya 70-an nyawa per hari lantaran kecelakaan di jalan.

kartu pos kopcau 2013
Nah, kehadiran kicauan Kopcau berakar dari hal-hal itu semua. Kopcau ingin lalu lintas jalan menjadi lebih humanis. Lalu lintas jalan yang minim fatalitas kecelakaan sehingga semua pengguna jalan bisa beraktifitas sesuai tujuannya masing-masing tanpa hambatan berarti. Maklum, kecelakaan lalu lintas jalan tak hanya menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial, dia bisa mencerabut generasi penerus bangsa. Bahkan, bisa membawa sang pelaku kecelakaan ke balik jeruji penjara.

Oh ya, setelah dua tahun berjalan, saya berpikir Kopcau mesti memiliki instrumen organisasi untuk menata jalannya komunitas ini. Pada Rabu, 24 Desember 2014 saya minta bro Iful menjadi ketua Kopcau dan diamini oleh seluruh anggota Kopcau yang hadir malam itu. Guna mendampingi bro Iful, ada bro Dest selaku wakil ketua. Lalu, dilengkapi dengan sekretaris bro Acho dan bro Yudi. Serta, bendahara (bro Dito dan Neng Nda), dan humas (bro Eko Nugroho). Eh, saya dan bro Nursal malah didapuk sebagai penasihat Kopcau. Ya, sudah. Jalanlah.

Wujud Kopcau kian nyata. Komunitas ini menggelar kopdar dua minggu sekali setiap Jumat malam di Jakarta. Selama ini, sekalipun sudah beraktifitas di beragam kegiatan seperti pameran poster dan meluncurkan kartu pos road safety dan poster sungguhan di Indonesia Motorcycle Festival (IMF) 2013 dan Safety Riding Day (SRD) 2014 di Jakarta, Kopcau belum memiliki pengurus. Saya jadi tergugah oleh pertanyaan seorang mahasiswa yang sedang membuat skripsi dan memilih Kopcau sebagai bahan skripsi baru-baru ini. Saat itu dia bertanya, “Kok bisa melakukan berbagai aktifitas tapi tidak punya struktur organisasi?”

Secara tidak langsung, pertanyaan itu ikut memotivasi saya untuk membuat wujud ‘organisasi’ Kopcau. Komunitas yang saya gagas sejak dua tahun lalu ini mesti lebih bisa berkibar. Bukan sekadar berkibar, tapi juga berfaedah sebagai kekuatan sosial yang mengingatkan sekaligus mengajak publik agar tidak menjadi pelaku maupun korban kecelakaan lalu lintas jalan. Cukup sudah lebih 300 ribu jiwa anak bangsa melayang sia-sia di jalan raya. Dan, lebih dari satu juta anak negeri yang menderita luka-luka lantaran sang jagal jalan raya. Terus semangat Kopcau. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: