Skip to content

Tanpa Pembatasan Motor, 3 Tahun Terakhir Fatalitas Kecelakaan Turun

22 Desember 2014

laka bus sk tvone

Jumlah sepeda motor di Indonesia terus meningkat. Saat ini, menurut data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia hampir 100 juta sepeda motor menghuni bumi Nusantara. Angka itu setara dengan sekitar 83% dari total populasi kendaraan bermotor yang per 2013 mencapai sekitar 121 juta unit.

Oh ya, jumlah mobil pribadi mencapai sekitar 12 juta unit atau setara dengan sekitar 10% dari total populasi. Sedangkan jumlah bus dan angkutan umum sebanyak 2,7 juta unit atau setara dengan sekitar 2,2% dari total populasi kendaraan bermotor.

Kemenhub juga mencatat bahwa peningkatan mobil pribadi rata-rata sebesar 8,25% per tahun, sedangkan peningkatan sepeda motor sebesar 14,5% per tahun.

Pertanyaannya, kenapa peningkatan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor demikian tinggi?
Bagi saya, ketika negara tidak becus menyediakan angkutan umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, terintegrasi, dan ramah lingkungan maka warga negara mencari solusi sendiri. Mereka mencari jalan keluar untuk memenuhi hak dasarnya sebagai manusia untuk bermobilitas. Pilihan yang relatif terjangkau oleh mayoritas penduduk Indonesia adalah sepeda motor.

Jangan salahkan mereka. Negara justeru harus berkaca diri.

Terkait hal itu, saya jadi teringat tulisan Dahlan Iskan, seorang pengusaha media massa yang juga mantan menteri BUMN. Karya tulis yang diterbitkan pada 1 Januari 2012 itu berjudul “Revolusi Ekonomi Sepeda Motor”.

Berikut ini adalah cuplikannya.

Begitu banyak keluhan terhadap membanjirnya sepeda motor. Tapi saya mencatatnya sebagai dewa penolong.Motor, bagi saya, adalah sarana transportasi yang memberikan kesempatan bagi rakyat kecil untuk mengejar ketertinggalannya. Sepeda motor adalah alat yang paling tepat untuk membawa golongan bawah memiliki kesempatan masuk menjadi golongan menengah.

Memang ada sarana lain yang juga memiliki peran yang sama: internet. Dengan internet (facebook, youtube, email, dst) tidak ada lagi perbedaan antara golongan bawah dan golongan atas. Dengan internet, kesempatan itu sama bagi golongan bawah yang kreatif bisa menembus barikade dan blokade sistem bisnis yang lama.

Demikian juga dengan sepeda motor. Produktifitas golongan bawah langsung bisa mengalami kenaikan yang drastis. Ini karena golongan pemilik sepeda motor bisa memiliki mobilitas yang sama tingginya dengan golongan atas.

Di sisi lain, kita berhadapan dengan masalah kecelakaan lalu lintas jalan. Di Indonesia, keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan masih cukup tinggi. Data Korlantas Polri menyebutkan, pada 2013, keterlibatan sepeda motor mencapai sekitar 71% atau setara dengan sekitar 328 kendaraan per hari. Padahal, pada tahun yang sama, jumlah kasus kecelakaan mencapai sekitar 324 kasus per hari.

Terus Turun

Faktanya, tanpa pembatasan sepeda motor, angka fatalitas kecelakaan terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Data Korlantas Polri menyebutkan, sepanjang 2011-2013, sekalipun fluktuatif, secara rata-rata fatalitas kecelakaan di Indonesia memperlihatkan tren penurunan.

laka dan korban tewas 2010 2013 RI

Sebelum melihat lebih jauh soal penurunan fatalitas kecelakaan, saya ingin menyinggung sedikit soal pelarangan sepeda motor ke dalam kota. Doktor Bambang Susantono, ahli transportasi lulusan Universitas of California, Berkeley, Amerika Serikat yang juga mantan wakil menteri perhubungan mengulasnya dalam buku “Revolusi Transportasi” yang diterbitkan tahun 2014. Dia mencontohkan pelarangan yang dilakukan oleh pemerintah Beijing, Cina. Pelarangan sepeda motor masuk ke kota Beijing dibarengi dengan penguatan angkutan umum. Bahkan, pemerintah memangkas tarif angkutan umum hingga 60%. Namun, pada 2013, rata-rata kemacetan justeru meningkat 25 menit menjadi satu jam 55 menit.

Kembali soal penurunan fatalitas kecelakaan. Di wilayah Polda Metro Jaya, tahun 2011, tingkat fatalitas atau korban yang meninggal dunia akibat kecelakaan turun sekitar 5,45%. Setahun kemudian, pada 2012 turun lagi sekitar 9,25%. Bahkan, pada 2013 anjlok sekitar 26%. Dalam rentang tiga tahun terakhir turun rata-rata sekitar 14%.

Hal serupa terlihat untuk fatalitas di tingkat nasional. Bila pada 2012 fatalitas turun sekitar 9,53%, setahun kemudian atau 2013 turun lagi, yakni 10,58%. Memang, pada 2011 sempat naik tipis, yakni sekitar 4,55%. Namun, secara keseluruhan dalam tiga tahun terakhir terjadi penuruna fatalitas sekitar 5,2%.

Sementara itu, keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan fluktuatif dalam tiga tahun terakhir di tingkat nasional. Namun, secara keseluruhan terjadi penurunan. Mari kita tengok. Pada 2011, keterlibatan sepeda motor naik sekitar 5,07% menjadi sekitar 404 unit per hari. Lalu, pada 2012, anjlok 24,67% menjadi 304 unit per hari. Dan, pada 2013, naik sebesar 7,69% menjadi rata-rata sekitar 328 sepeda motor per hari. Secara keseluruhan, dalam rentang 2011-2013, terjadi penurunan rata-rata 3,97%.

Dari sisi kontribusi, keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan di Indonesia memang masih tergolong tinggi, yakni sekitar 71,05% pada 2013. Demikian pula di wilayah Polda Metro Jaya yang mencapai sekitar 58%.

Nah, biar lengkap mari kita dibandingkan jenis kendaraan yang terlibat dengan populasi kendaraannya. Untuk sepeda motor, pada 2013, prosentasenya sekitar 0,14%. Artinya, sekitar 0,14% sepeda motor terlibat kecelakaan dibandingkan dengan jumlah populasi sepeda motor.

Sedangkan untuk mobil, tentu dari berbagai jenis, terlihat bahwa pada 2013 sebanyak 0,25% terlibat kecelakaan dari total populasi mobil. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: