Skip to content

Jangan Sepelekan Hati Perempuan yang Terluka

12 Desember 2014

forwot foto 2014

KETIKA perasaan seorang perempuan terluka, dia bisa bersikap lebih keras dari yang terlihat secara kasat mata. Apalagi jika perempuan itu adalah seorang ibu. Jangan sepelekan hati perempuan yang terluka.

Hal itu yang terlihat ketika saya berbincang dengan seorang kolega di kantor. Dia geram sekali ketika anaknya yang di bawah umur disuruh mengantar sang bapak ke stasiun kereta. Sang anak mengendarai sepeda motor.

Perasaan sang ibu bercampur baur antara geram dan sedih manakala sang anak terluka akibat kecelakaan sepeda motor. Kakinya dijahit dengan ongkos pengobatan tak kurang dari Rp 700 ribu. Empat hari sang anak tidak sekolah untuk memulihkan lukanya.

“Lukanya belum sembuh benar, eh disuruh lagi mengantar sang bapak, naik motor lagi,” sergahnya dengan sorot mata memendam kemarahan, saat berbincang dengan saya, di Jakarta, Senin, 8 Desember 2014 malam.

Kedua orang tua sang bocah sudah berpisah. Sang bocah tinggal dengan sang ayah. Sekalipun demikian, sang ibu kapan pun bisa bercengkerama dengan si buah hati.

Kembali soal lukanya hati sang ibu. Kolega saya ini bercerita, kini dia bertekad untuk mengajak ibu-ibu lain untuk menjaga buah hatinya dengan seksama. “Para orang tua harus kita ajak untuk memproteksi anak-anak mereka agar tidak celaka di jalan. Saya ingin kampanyekan agar dunia mendengar,” paparnya dengan mata berbinar-binar.

Ya. Tahun 2013, kita disodori fakta bahwa kontribusi anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan melonjak signifikan. Dari semula sekitar 5% pada 2012 menjadi sekitar 7% pada 2013. Tahun lalu, jumlah total pelaku kecelakaan di bawah umur mencapai 7.000-an orang.

Dia mengaku ingin mengajak masyarakat seluas-luasnya untuk mencegah anak di bawah umur menjadi korban maupun pelaku kecelakaan. Anak-anak adalah korban dari sistem masyarakat yang buruk soal keselamatan berkendara. Ketika para orang tua bersikap permisif mengizinkan sang anak di bawah umur untuk berkendara, risiko terlibat dalam kecelakaan kian lebar. Padahal, anak-anak di bawah umur belum mampu mempertanggung jawabkan apa yang dilakukannya. Orang tualah yang harus tampil memproteksi sekuat mungkin.

Ibu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak tahu betul bagaimana getirnya kepedihan manakala sang buah hati terluka. Segala upaya bakal ditempuh agar sang anak pulih dan kembali ceria menghadapi kehidupan. Eloknya, semua keluarga menutup peluang terjadinya kecelakaan sekecil mungkin. Salah satu ikhtiar adalah tidak mengizinkan sang anak di bawah umur untuk berkendara. Pepatah bilang, lebih baik mencegah daripada mengobati. Jangan sampai, rumput mendekati kuda. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 12 Desember 2014 10:08

    betul om
    MX king nich
    http://orongorong.com/2014/12/12/kemungkinan-jupiter-mx-king-150-meluncur-bulan-februari/

  2. andra permalink
    13 Desember 2014 08:38

    Bapaknya egois banget sih. Uang 700ribu untuk pengobatan jauh lebih mahal ketimbang naik ojek. Mending naik ojek saja tuh bapaknya.

  3. 13 Desember 2014 22:09

    Hati yang terluka… seperti lagunya Betharia Sonata… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: