Skip to content

Tujuh Fakta di Balik Operasi Zebra Jaya 2014

11 Desember 2014

20141202_093918_resized

OPERASI Zebra 2014 sudah selesai. Operasi yang bergulir sepanjang 26 November – 9 Desember 2014 sukses menyodorkan fakta karut marutnya lalu lintas jalan kita. Tak pelak, kita pun disuguhi getirnya karut marut tadi dengan apa yang disebut, kecelakaan lalu lintas jalan.

Secara nasional penindakan pelanggar aturan di jalan atau yang ditilang melonjak sekitar 11%, yakni dari 493.628 kasus menjadi 547.579 kasus. Sedangkan di wilayah Polda Metro Jaya yang mencakup Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi kondisinya tak jauh berbeda. Di Jakarta, kegiatan ini disebut Operasi Zebra Jaya 2014.

“Gile, di Jakarta dan sekitarnya selama Operasi Zebra Jaya 2014 ada 60 ribuan pelanggaran. Itu menunjukan tingginya pelanggaran dan rendahnya disiplin para pengguna jalan,” tukas seorang jurnalis senior saat berbincang dengan saya, di Jakarta, baru-baru ini.

Tapi, tahukah Anda bahwa ada 10 fakta yang bisa jadi catatan kita mengenai Operasi Zebra Jaya 2014 yang berlangsung selama 14 hari itu?

Berikut ini fakta-fakta yang terhimpun dalam lima tahun terakhir pelaksanaan Operasi Zebra Jaya.

Pertama, anggaran Operasi Zebra Jaya 2014 melonjak 163% jika dibandingkan anggaran tahun 2009, yakni dari Rp 1,1 miliar menjadi Rp 2,9 miliar.

Oh ya, anggaran itu dimanfaatkan untuk kebutuhan jalannya operasi seperti untuk biaya sosialisasi tentang pelanggaran-pelanggaran hukum kepada masyarakat. Lalu, untuk uang saku petugas yang mencakup untuk transportasi dan makan. Juga tentu saja untuk alat-alat penunjang seperti , pembuatan spanduk hingga biaya administrasi pembuatan laporan kegiatan.

Kedua, bobot penindakan melonjak drastis. Bila pada Operasi Zebra Jaya 2012 pola operasi lebih menekankan pencegahan dini dan pencegahan yang substansinya berupa imbauan, kini bobotnya pada penindakan. Pada 2012, preemtif dan preventif bobotnya masing-masing 40% dan represif hanya 20%. Namun, pada 2014, preemtif dan preventif masing-masing hanya 10% dan penindakan atau refresif justeru memiliki bobot terbesar, yakni 80%.

Ketiga, jumlah pelanggaran pada Operasi Zebra Jaya 2014 naik 17,59% jika dibandingkan tahun 2011. Bila pada Operasi Zebra Jaya 2011 ada 81.043 kasus, pada 2014 naik menjadi 95.303 kasus. Pada 2011, dua pelanggaran terbesar adalah melanggar rambu sebanyak 11.676 kasus pelanggaran (14,4%) dan melawan arus 9.663 kasus (11,92%). Sedangkan pada 2014, melawan arus melonjak menjadi sekitar 24,65%.

Keempat, titik berat Operasi Zebra Jaya 2014 pada dua bentuk pelanggaran utama, yakni sepeda motor yang melawan arus dan angkutan umum yang menaikkan dan menurunkan penumpang bukan pada tempatnya. Bandingkan dengan operasi serupa pada 2014 yang memiliki sasaran operasi yang mencakup penggunaan rotator dan sirine pada kendaraan pribadi, sterilisasi jalur busway, mengembalikan fungsi trotoar, menertibkan parkir on the street, penertiban motor yang tidak di lajur kiri, serta kendaraan yang menggunakan pelat nomor tidak sesuai spesifikasinya.

Kelima, pada Operasi Zebra Jaya 2009 kegiatan berlangsung selama 10 hari, yakni Senin, 10 Agustus hingga 19 Agustus 2009. Saat itu, operasi melibatkan sebanyak 3.206 personel. Sedangkan Operasi pada 2014 berdurasi 14 hari dengan melibatkan 2.700 personel.

Keenam, jumlah korban tewas akibat kecelakaan selama Operasi Zebra Jaya 2014 dibandingkan operasi serupa tahun 2012 anjlok sekitar 23% menjadi 24 jiwa. Sedangkan kasus kecelakaan melorot sekitar 43%, yakni dari 197 kasus menjadi 112 kasus.

Ketujuh, jumlah kendaraan yang ditindak melonjak drastis, yakni dari sebanyak 13.833 pada 2012 menjadi sekitar 80 ribuan kendaraan pada 2014. Sedangkan jumlah pelanggar sepeda motor masih paling dominan. Pada 2012, kontribusi sepeda motor sebanyak 47,35%, sedangkan pada 2014 melonjak drastis menjadi sekitar 72%.

Operasi Zebra adalah salah satu fitur untuk menertibkan para pengguna jalan. Khusus di Jakarta yang disesaki sekitar 16 juta kendaraan, tentu bukan pekerjaan mudah dalam menertibkan perilaku pengendara. Idealnya, penegakan hukum seperti yang ditekankan dalam Operasi Zebra Jaya 2014 menjadi menu sehari-hari. Bila menunggu operasi yang berbiaya miliaran rupiah, bukan mustahil efeknya hanya sekejap. Semoga penegakan hukum yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu bisa dijalankan setiap hari untuk melindungi pengguna jalan dari potensi terlibat kecelakaan yang fatal. Bukankah Kepolisian selalu mengatakan bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan? (edo rusyanto)

Iklan
5 Komentar leave one →
  1. 11 Desember 2014 19:00

    males bacanya, pasti cari untung…

  2. 12 Desember 2014 10:46

    Reblogged this on OrongOrong.Com.

  3. 12 Desember 2014 11:04

    waduhh negara cari untung dewe ki. wassmeb

    http://nivikoko.com/2014/12/12/nilai-uang-dulu-dan-sekarang/

  4. 12 Desember 2014 11:41

    indonesia ancen joss

  5. 15 Desember 2014 15:47

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: