Skip to content

Satu Nomor, Dua Nama dan Dua Motor

7 Desember 2014

motor adhi

WAJAH Adhi terlihat terheran-heran saat menceritakan kisah yang dialaminya. Bagaimana tidak, nomor pelat nomor sepeda motornya ternyata sama persis dengan yang dimiliki orang lain. Ibarat kata, satu nomor dua nama.

Barangkali akan ada yang berseloroh, “Tidak aneh” dan “Itulah Indonesia”. Jangankan soal pelat nomor sepeda motor, urusan surat tanah saja bisa ada dua atau tiga nama atas lahan yang sama. Hanya saja, pertanyaannya kenapa bisa begitu?

“Kalau saya ceritanya diawali saat saya minta nomor khusus. Maksudnya, pelat nomor motor disesuaikan dengan yang saya minta dan ternyata bisa walau harus bayar Rp 600 ribu,” sergah Adhi yang sehari-hari berprofesi sebagai jurnalis itu saat berbincang dengan saya, Sabtu, 6 Desember 2014 malam.

Ketika membeli sepeda motor pada enam tahun lalu, Adhi merasa perlu pakai nomor khusus. Makanya, dia meminta dicarikan nomor ke pihak dealer dan ternyata berhasil. “Persoalannya, saat memperpanjang STNK yang lima tahunan, saya baru tahu kalau nomor itu ternyata punya orang lain yang nasibnya sudah gak jelas. Tapi, namanya masih tercatat,” tutur pria penunggang motor Yamaha Vixion itu.

Setelah melalui proses pengurusan yang agak cukup lama, rampung juga proses perpanjangan STNK untuk periode lima tahunan itu. “Tapi saya gak tahu bagaimana dengan nasib nomor atas nama orang lain yang ternyata sudah lebih dulu dibandingkan saya,” katanya.

* * *

Indonesia punya mimpi besar untuk menerapkan electronic law enforcement (ELE) di lalu lintas jalan. Mimpi tadi semestinya dapat terwujud seiring telah diberlakukannya Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). UU tersebut mengamanatkan penerapan elektronik sebagai salah satu instrumen dalam menegakkan aturan di jalan. Lewat penggunaan teknologi maju seperti kamera perekam dan pengukur batas kecepatan laju kendaraan (speed gun), bisa dikurangi interaksi antara petugas dengan pelanggar aturan di jalan. Sudah menjadi rahasia publik bahwa interaksi yang intens antara pelanggar dengan petugas membuka ruang terjadinya kompromi.

Belakangan, pada pertengahan 2014, mencuat kembali niat Korlantas Mabes Polri untuk melakukan ujicoba dalam rangka pemberlakuan ELE. Ujicoba sebelum penerapan itu mencakup penggunaan kamera dalam merekam aktifitas pengguna jalan di jalan raya, khususnya merekam pelanggaran marka dan rambu jalan. Dan, penggunaan kamera beserta speed gun untuk merekam pelanggaran batas maksimum di jalan bebas hambatan (tol). Bila ujicoba berjalan mulus bisa mempercepat pemberlakuan ELE yang memiliki tujuan mulia.

ELE bisa mengurangi potensi terjadinya kompromi-kompromi yang tidak perlu antara petugas dengan pelanggar aturan. Lalu, juga bisa membuat lebih luas lagi jangkauan petugas mengingat jumlah pelanggar cukup tinggi. Di bagian lain, bisa menopang upaya penurunan terjadinya kecelakaan maupun fatalitas kecelakaan. Terkait yang terakhir ini memang masih membutuhkan dukungan dari kesadaran pengguna jalan untuk lebih mentaati aturan sebagai langkah memangkas potensi terjadinya kecelakaan. Maklum, saat ini kecelakaan kerapkali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan.

Penegakkan hukum lalu lintas jalan dengan memanfaatkan elektronik amat mutlak mendapat dukungan sistem pendataan kendaraan bermotor yang akurat. Tentu saja, juga perlu didukung oleh kelengkapan dan kecanggihan teknologi informasi, serta terintegrasinya sistem di kalangan pihak penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Terkait pendataan kendaraan bermotor amat mutlak adanya kerapihan data dan terintegrasinya seluruh jajaran Kepolisian di Indonesia. Bagaimana data di tingkat daerah dan pusat wajib terintegrasi dengan solid. Gampangnya, data harus online dan validitasnya terjaga.

Hal ini mutlak mengingat penindakan atas pelanggar aturan di jalan berbasis pada rekaman kamera atau data yang terekam dari sistem CCTV yang dipasang di jalan. Bila ternyata data pemilik kendaraan berbeda karena sistem pencatatan yang keliru, jangan-jangan bisa menindak orang yang salah. Kalau sudah begini bisa repot urusannya. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 8 Desember 2014 16:34

    Plat motor ada yang kembar, jangan-jangan mobil juga ada. Aneh.

  2. 9 Desember 2014 17:28

    kok bisa gitu ya
    http://orongorong.com/2014/12/09/honda-beat-fi-launching-minggu-depan-ada-2-model/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: