Skip to content

Penampakan Empat Penunggang Kuda Besi

29 November 2014

hujan pemotor berempat

HUJAN turun deras. Lalu lintas jalan cukup ramai di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur. Banyak pesepeda motor yang memilih berteduh di emperan toko, tapi juga ada yang terus melaju. Menembus derasnya hujan.

Memasuki penghujung November 2014, hujan kian rajin mengguyur Jakarta. Seperti siang itu ketika saya melintas di kawasan Pasar Kramat Jati. Derasnya hujan sulit diajak kompromi, pilihan logisnya adalah berteduh.

Setelah memarkirkan si kuda besi di ‘halaman’ toko, saya memilih sudut toko untuk berteduh. Tentu saja setelah meminta izin kepada sang penjaga toko yang sempat kaget karena saya masuk ke ‘halaman’ tokonya.

Terpaan air hujan seperti mengusap wajah. Posisi emperan toko menyisakan sedikit ruang untuk berdiri. Saya sendirian. Hingga tiba-tiba muncul empat penunggang kuda besi. Tampaknya mereka berhenti untuk memakai jas hujan. Keempatnya terdiri dari satu pria dewasa, satu perempuan dewasa, dan dua bocah di bawah umur. Mereka berjejalan dalam satu sepeda motor.

Keempatnya sibuk memakai jas hujan. Dari jarak sekitar dua meter sempat saya mendegar dialog diantara mereka. Sang pria dewasa memberikan sejumlah instruksi kepada dua anak di bawah umur yang saya taksir usianya berkisar 8-11 tahun. Keempatnya memakai jas hujan.

“Handphone-nya sudah disimpan?” tanya sang pria dewasa, Jumat, 28 November 2014 siang.

Pertanyaan dijawab dengan anggukan.

Setelah memakai jas hujan mereka kemudian melanjutkan perjalanan menembus hujan yang cukup deras. Mereka berempat dalam satu sepeda motor jenis bebek.

Ya. sepeda motor masih dianggap sebagai alat transportasi alternatif. Si kuda besi dianggap lebih mangkus dan sangkil jika dibandingkan dengan angkutan umum yang ada. Banyak orang yang saya temui berdalih bahwa naik sepeda motor lebih murah biaya operasionalnya dibandingkan dengan naik angkutan umum.

Segenap risiko yang dipikul seakan tak mengendorkan semangat berkuda besi. Termasuk seperti yang diperlihatkan oleh keempat orang yang saya jumpai tadi. Mereka bukan tidak mungkin menyadari risiko yang ada. Namun, dengan dalih butuh bermobilitas, tetap melanjutkan bersepeda motor sekalipun didera hujan dari langit.

Risiko bersepeda motor saat hujan bukan tidak sedikit. Kalau merujuk pada data Korlantas Polri , pada 2013, rata-rata terjadi dua kasus kecelakaan yang dipicu oleh hujan.

Kita semua tahu, bagi pesepeda motor berkendara saat hujan menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari kondisi permukaan jalan yang kian licin hingga menurunnya kondisi fisik lantaran angin dan terpaan air. Belum lagi kondisi dingin yang mendera sekujur tubuh. Karena itu, bukan mustahil risiko kian besar. Lengah sedikit, celah terjadinya kecelakaan kian melebar. Barangkali bisa dicoba sejumlah tips disini ketika menghadapi hujan.

Kecelakaan lalu lintas jalan bisa terjadi kapan pun dan dimana pun. Langkah yang bisa kita lakukan adalah berupaya mengurangi potensi dan tingkat fatalitas. Sekali lagi, berikhtiar tidak ada salahnya. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 29 November 2014 05:16

    Kalo hujan deras saya milih ngiyup

  2. 29 November 2014 06:54

    siip

  3. 29 November 2014 08:07

    berlima malah 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: