Skip to content

Belajar dari Perempuan Taiwan

28 November 2014

a motor taipei

SUATU siang di sudut Jakarta. Kondisi arus lalu lintas jalan cukup padat. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh kehadiran seorang pesepeda motor. Dia memotong jalan saya dari sisi kiri. Untungnya tak ada insiden berarti.

Sang pengendara memakai sepatu berhak tinggi. Saya taksir usia perempuan tadi berkisar 20-30 tahun. Taksiran saya mengerucut setelah melihat dari balik kaca helm open face yang dikenakan sang pengendara muda tadi. Dia membawa tas yang diselempangkan di tubuhnya.

Aksi selanjutnya tak kalah heroik. Persis di pertigaan lampu merah Kalibata, Jakarta Selatan lampu belum lagi berwarna hijau, dia sudah tancap gas. Memang dia tak sendirian, ada pengendara lain yang memelopori. Sebelumnya, mereka dengan gagah mengangkangi garis setop dan zebra cross. Hanya bisa bergumam dalam hati, seperti inikah wajah kedisiplinan pengendara di jalan raya?

Kejadian yang berlangsung pada pertengahan November 2014 tersebut mengingatkan saya pada peristiwa lain di Taiwan. Dua tahun lalu, saat mendapat tugas ke negara pulau itu saya sempat menyaksikan perempuan pengendara skutik. Saat itu, jalan di kota Hualien cukup lengang. Tampak satu dua kendaraan lalu lalang. Pemandangan yang menggoda terjadi di ujung pertigaan jalan.

Ketika itu lampu pengatur lalu lintas jalan berwarna merah. Situasi jalan cukup sepi. Namun, sang perempuan muda penunggang skutik itu tetap berhenti di belakang garis setop. Seorang teman yang menyaksikan dari dalam mobil yang membawa rombongan kami sempat berseloroh, “Disiplin sekali orang itu. Kalau di Jakarta pasti sudah diterobos kalau sepi begini.”

Entah apa yang ada di benak sang perempuan tadi. Saya hanya menebak-nebak bahwa perempuan tadi memang punya nyali untuk disiplin. Dia tak tergoda untuk menerobos walaupun peluangnya ada. Saya juga menduga-duga bahwa kedisiplinan pengguna jalan cukup tinggi lantaran penegakan aturan di Hualien cukup tegas dan konsisten. Atau, denda bagi pelanggar aturan jangan-jangan cukup tinggi.

Kim Chang, seorang dosen di Dong Hua University, Hualien sempat bercerita kepada saya. Menurut dia, sanksi bagi pelanggar lalu lintas jalan cukup tegas. Kim Chang mencontohkan, polisi akan menangkap warga yang tidak memakai helm dan dikenai denda NT$ 1.500. Denda dalam dolar Taiwan itu jika dikonversi ke mata uang rupiah kira-kira setara dengan Rp 600 ribu. Coba bandingkan dengan denda tidak memakai helm yang berlaku di Indonesia saat ini, yakni maksimal Rp 250 ribu. “Polisi memantau pelanggar dengan menggunakan kamera yang dipasang di jalan raya,” kata Kim Chang.

garis setop taiwan

Ya. Boleh jadi tegasnya penegak hukum membuat masyarakatnya menjadi lebih disiplin. Atau, kesadaran warga yang sudah tinggi membuat perilaku berkendaranya cenderung tidak ugal-ugalan.

Bagi kita para pengguna jalan di Indonesia padahal diperlihatkan dengan fakta bahwa perilaku ugal-ugalan adalah biang kerok terjadinya kecelakaan di jalan. Mayoritas pemicu kecelakaan, yakni sekitar 42% adalah perilaku berkendara tidak tertib alias melanggar aturan.

Dari perempuan penunggang motor skutik di Taiwan tadi kita bisa belajar bahwa ketaatan pada aturan bisa membuat lalu lintas jalan menjadi lebih nyaman. Kesan yang ditimbulkan juga membawa nama suatu bangsa menjadi lebih harum. Walau, bisa jadi ada juga pengguna jalan di Taiwan yang sembrono atau ugal-ugalan. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 2 Desember 2014 21:51

    Mungkin ada hubungannya dengan bagaimana orang mendapatkan SIM ya Pak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: