Lanjut ke konten

Apa Makna Operasi Zebra Jaya 2014?

26 November 2014

lokasi lawan arus jakarta

HUJAN deras mengguyur Jakarta. Padahal, pagi baru saja mau memasuki siang.

Lalu lintas jalan utama di Jakarta, seperti di Jl Jenderal Gatot Subroto disesaki kendaraan bermotor. Tak sedikit pesepeda motor yang menepi. Ada yang bertujuan memakai jas hujan dan sebagian memilih berteduh.

Perjalanan saya ke studio Berita Satu TV pun melenggang ditemani “jari-jari lentik” turun dari langit. Ada rasa segar di wajah yang dibelai “jari-jari lentik” tadi. Tas laptop aman bersembunyi di balik jas hujan.

Di studio sudah menanti AKBP Budiyanto, kabagops Ditlantas Polda Metro Jaya. Sedang Ira Syarif, host siang itu sedang membacakan berita di dalam acara “Jurnal Siang”, Selasa, 25 November 2014.

Kedatangan saya atas ajakan kolega di redaksi Berita Satu TV. Siang itu topik yang dibahas soal “Tertib Berkendara Selamat di Jalan Raya”. Topik tadi terkait dengan pelaksanaan Operasi Zebra Jaya 2014, khususnya di wilayah Polda Metro Jaya. Wilayah Polda itu mencakup DKI Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang.

“Fokus Operasi kali ini adalah terkait pelanggaran melawan arus kendaraan dan angkutan umum yang berhenti sembarangan,” kata Budiyanto.

Namun, lanjutnya, pelanggaran-pelanggaran lain juga menjadi perhatian Operasi yang menelan sekitar Rp 2 miliar tersebut. Dia mencontohkan, pelanggaran marka dan rambu serta pesepeda motor yang tidak memakai helm juga bakal dikenai sanksi.

Terkait penindakan lawan arus, lanjutnya, terdapat 19 lokasi yang tersebar di seantero Jakarta dan sekitarnya. Ke-19 lokasis tersebut di antaranya adalah Jl Raya Lenteng Agung, bawah fly over Slipi, Jl Dewi Sartika, dan Jl Raya Bogor.

“Operasi ini mengedepankan tindakan preventif dan penegakkan hukum secara tegas namun humanis,” katanya.

Budiyanto menambahkan, komposisi tindakan-tindakan tersebut mencakup 10% preemtif, 10% preventif, dan 80% represif. “Kami fokus pada penindakan terhadap pelanggaran yang berpotensi memicu terjadinya kecelakaan,” tegas dia.

Makna Operasi Zebra

Lantas, apa makan Operasi Zebra bagi keselamatan jalan?

Kepolisian Polda Metro Jaya mengaku bahwa belajar dari operasi tahun-tahun sebelumnya, selama pelaksanaan operasi terjadi penurunan pelanggaran lalu lintas jalan. Bahkan, mampu menurunkan angka kasus kecelakaan dan fatalitasnya.

Contohnya, pada 2013, selama digelarnya operasi mampu menurunkan angka kecelakaan sepeda motor hingga 28% bila dibandingkan dengan 14 hari sebelum Operasi Zebra Jaya 2013. Sedangkan fatalitas kecelakaan bisa ditekan hingga 18%.

Hal itu tak bisa dilepaskan dari langkah represif yang dilakukan Polda Metro Jaya. Dalam Operasi Zebra Jaya 2013, Kepolisian meningkatkan jumlah tilang. Bila pada 2012 sekitar 10 ribu tilang, setahun kemudian sekitar 54 ribuan tilang.

Artinya, bila pelanggaran dapat ditekan, praktis bisa mempengaruhi kasus kecelakaan. Rasanya menjadi masuk akal pernyataan bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Karena memang faktanya, di Indonesia mayoritas pemicu kecelakaan adalah perilaku tidak tertib. Pada 2013, sekitar 42% kasus kecelakaan dipicu perilaku ugal-ugalan di jalan itu.

Peran kepolisian dalam menekan kecelakaan, khususnya dari sisi penegakan hukum rasanya menjadi absolut. Inilah makna dari Operasi Zebra Jaya maupun Operasi secara nasional. Pengguna jalan di Indonesia rasanya bisa patuh pada aturan dan penegakan hukum. Lewat operasi seperti ini diharapkan mampu menempatkan kewibawaan para penegak hukum pada posisi yang tepat.

Banyaknya aturan di jalan bila tanpa dibarengi penegakan yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu bakal merongrong kewibawaan hukum. Berbekal dari perilaku masyarakat yang masih mau taat jika ada petugas didekatnya, rasanya penegakan hukum mesti dilakukan setiap saat. Petugas yang bersih dan kredibel menjadi kata kunci.

Saya jadi ingat hasil survey Road Safety Association (RSA) Indonesia pada semester pertama 2014 yang menyebutkan bahwa mayoritas pengguna jalan butuh peraturan di jalan. Walau, sebagian besar dari mereka juga merasa penegakan hukum belum tegas dan konsisten. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 29 November 2014 11:20

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: