Skip to content

Waspada di Jalan Simatupang Ini

22 November 2014

jalan rusak simatupang

PAGI terus merangkak memasuki siang hari. Kendaraan bermotor berjejal di kawasan jalan arteri TB Simatupang. Di sisi kanannya, yakni jalan tol Lingkar Luar Jakarta kondisinya tak jauh berbeda.

Pemandangan agak berbeda kini mewarnai jalan arteri yang bakal disesaki 20-an lebih gedung pencakar langit itu. Antrean kendaraan bermotor kian sesak terutama selepas fly over di depan Gedung Aneka Tambang ke arah Pertigaan Ragunan, Jakarta Selatan. Antrean terjadi lantaran terjadi penyempitan.

Persis di depan Menara Oleos, antrean kian mengular. Maklum, kendaraan yang hendak melintas harus berjalan satu persatu. Kesabaran pun diuji.

Di area itu tampak sedang ada pekerjaan perbaikan gorong-gorong jalan. Sejumlah alat berat tampak sedang menunaikan tugasnya. Perbaikan perlu dilakukan lantaran di kawasan itu kerap digenangi air yang lumayan tinggi ketika hujan deras mengguyur Jakarta.

Nah, kewaspadaan mesti digandakan ketika kini, pada pertengahan November 2014, pekerjaan perbaikan sudah diwarnai oleh bertebarannya kerikil. Praktis, kendaraan bermotor seperti si roda dua, mesti ekstra waspada. Salah-salah bisa tergelincir.

Sang pelaksana pekerjaan perbaikan jalan tersebut lumayan peduli pada nasib pengguna jalan. Di beberapa titik dipasang pengumuman dengan warna yang cukup mencolok seperti tertera di foto dalam tulisan ini. Saat saya melintas baru-baru ini terlihat bahwa tanda peringatan itu turut membantu agar pengguna jalan lebih berhati-hati.

Penanggung jawab atau penyelenggara jalan wajib memberi tanda pada ruas jalan yang rusak. Itu sudah menjadi amanat Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Maklum, bila penyelenggara jalan lalai tidak memberi tanda pada jalan yang rusak lalu menimbulkan kecelakaan lalu lintas jalan, bisa dikenai sanksi.

UU tersebut memberi ruang untuk meminta pertanggung jawaban para penyelenggara jalan bila infrastruktur jalan menyebabkan kecelakaan. Merujuk pada UU itu, sanksi yang diberikan kepada penyelenggara jalan berbeda-beda tergantung dari tingkat persoalan. Pasal 273 ayat satu hingga empat dalam UU tersebut secara berurutan mencantumkan sanksi sebagPertama, jalan rusak yang mengakibatkan kecelakaan, menimbulkan korban luka ringan, bisa menyeret penyelenggara jalan dipenjara maksimal enam bulan atau denda maks Rp 12 juta.

Tapi, kalau kecelakaannya bikin korban luka berat, penyelenggara jalan bisa dipidana maksimal satu tahun atau denda maksimal Rp 24 juta. Bikin korban tewas sanksinya maksimal lima tahun atau denda paling banyak Rp 120 juta.
Nah, penyelenggara jalan yang tidak memberi tanda atau rambu pada jalan yang rusak dan belum diperbaiki bisa dipidana penjara maksimal 6 bulan atau denda maksimal Rp 1,5 juta. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 22 November 2014 05:14

    Alhamdulillah sudah di pasang pengumuman seperti itu, minggu lalu belum ada hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: