Skip to content

Suara Lantang dari Pabelan Solo

19 November 2014

Uns solo road show buku_resized_2

PARA pekerja bangunan tampak sibuk mengerjakan pembangunan gedung. Konstruksi bangunan sudah berdiri tegak. Di sampingnya, bangunan berlantai empat sudah berdiri dengan dominan warna putih.

Pagi itu, saat menjejakkan kaki di bangunan tersebut tampak sejumlah anak-anak muda sedang bercengkerama. Lagi-lagi, anak-anak muda itu dominan memakai kemeja putih dengan celana panjang warna hitam. Mereka tampak ada yang asyik berbincang-bincang, tapi juga tampak ada yang asyik berkutat dengan notebook-nya.

Begitulah suasana yang saya temui Senin, 18 November 2014 pagi di gedung JPTK FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah. Saya hadir dalam rangka road show buku ‘Menghapus Jejak Roda’ yang kali ini dibalut dengan seminar bertajuk ‘Safe Riding Family Waiting’. Kira-kira bermakna berkendaralah yang aman dan selamat karena keluarga menanti di rumah. Sebuah ajakan yang mulia.

Saya tidak sendiri. Pagi itu hadir Dekan JPTK FKIP UNS Solo M Furqon, dosen UNS Solo Bambang DW, Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Surakarta AKP Jamal Alam, Ketua Yayasan AHM Hari Sasono, Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata, dan Emerson dari Astra Honda Motor. Sebelum menuju aula kampus yang terletak di lantai empat, kami diterima Dekan JPTK FKIP UNS Solo di ruang tamu di lantai bawah.

“Seminar dan bedah bukunya mulai pukul 08.30 mas,” papar Bambang DW kepada saya, Selasa pagi itu.

Suara Lantang

Seminar pun dimulai tepat waktu. Ruang aula sudah dipadati peserta yang berasal dari mahasiswa, dosen, para undangan yang terdiri atas pelajar SLTA di Surakarta, dinas perhubungan, hingga kalangan kepolisian setempat. Sebanyak 150-an peserta duduk rapih di bangku yang disediakan, sedangkan sebagian berada di sisi ruangan aula yang pintunya dibiarkan terbuka.

Uns solo dekan hari edo-1_resized_1

“Mahasiswa UNS di Pabelan harus bisa menjadi contoh berkendara yang aman dan selamat. Dari acara ini bisa belajar banyak mengenai bagaimana berkendara yang aman dan selamat,” ujar Dekan saat membuka seminar.
Dia mengaku saat ini kondisi lalu lintas jalan sudah semakin tidak sehat. Ada pengendara yang mendahului dari sisi kiri jalan. Bahkan, ada yang berbelok tanpa memberi lampu isyarat sein. “Sudah tidak sehat, ketika kita beritahu, sang pelanggar malah melotot,” ujarnya.

Papara para pembicara pun bergulir. Tanya jawab cukup intens. Hal yang menarik, mahasiswa UNS Solo ternyata cukup banyak yang menyoal penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM). Kepolisian dinilai mempersulit masyarakat untuk memperoleh lisensi mengemudi tersebut. “Saya sampai ikut tiga kali tes baru bisa dapat SIM, itupun dengan cara ‘nembak’,” sergah seorang mahasiswa UNS Solo, saat tanya jawab.

Jamal Alam mengatakan, masalah SIM memang menjadi perhatian banyak kalangan. Dalam banyak kesempatan, katanya, tentu termasuk di seminar dan diskusi hal itu dilontarkan oleh peserta. “Ujian SIM memang sulit, tapi bukan dipersulit. Tes yang ada sulit karena untuk melahirkan orang yang berkompeten dalam berkendara di jalan raya,” kata dia menjawab pertanyaan mahasiswa.

Menurut dia, pihaknya menerima pembuatan SIM kolektif, tapi para calon pemegang SIM harus mampu memenuhi ketentuan yang ada di dalam UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Misalnya, kata dia, berusia minimal 17 tahun untuk SIM C, yakni bagi pengendara sepeda motor.

“Selain itu, tentu saja lolos tes tertulis dan ujian praktik,” ujarnya.

uns solo jamal alam

Dia berharap, masyarakat ikut bantu mengawasi proses penerbitan SIM. Kini, lanjut Jamal, pihaknya sudah jauh berubah dengan lebih transparan dan pengawasan internal yang ditingkatkan.

“Kami akan memberi punishment bagi petugas yang kedapatan menyimpang,” tegasnya.

Bagi saya, Kepolisian semestinya lebih serius dalam mekanisme penerbitan SIM. Kepolisian punya peran di hulu dalam soal pemberian izin kepada seseorang untuk mengemudi di jalan raya. Kompetensi amat penting untuk mencegah terjadinya fatalitas kecelakaan di jalan raya.

Menyitir data Korlantas Polri, pada semester pertama 2014, sebanyak 56,12% pelaku kecelakaan tidak memiliki SIM. Pada enam bulan pertama 2014 itu ada sekitar 44 ribu lebih pelaku kecelakaan. Bila dibandingkan periode sama 2013, jumlah mereka yang menjadi pelaku kecelakaan turun sekitar 10%.

Kecelakaan tampaknya masih belum mau beranjak dari bumi Nusantara. Pada enam bulan pertama 2014, rata-rata setiap harinya ada 246 kasus kecelakaan di jalan. Angka itu memang turun sekitar 10% bila dibandingkan dengan periode sama 2013. Namun, kasus kecelakaan semester pertama 2014 menyebabkan lebih dari 73 ribu orang menderita. Ironisnya, sekitar 15% dari korban tersebut harus menemui ajal.

“Kembali soal SIM. Pada rentang Januari-Juni 2014, pengendara yang tidak memiliki SIM memicu 138 kasus kecelakaan per hari. Tentu bukan persoalan sepele,” kata Edo Rusyanto.

Di dalam UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) disebutkan bahwa sanksi denda maksimal Rp 1 juta bagi pengemudi yang tidak memiliki SIM. Sedangkan sanksi pidana penjara maksimalnya empat bulan.

Produsen Mesti Peduli

Selain soal SIM, mahasiswa lainnya mencuatkan pertanyaan soal peran industri dan penjual motor dalam keselamatan jalan. “Pembuatan motornya sudah aman, tapi bagaimana membuat konsumen bisa menganggap safety riding merupakan hal yang dibutuhkan?” Tanya Ridwan, mahasiswa UNS Solo.

20141118_105127_resized_1

Hari Sasono mengaku, kepedulian produsen sepeda motor diawali dengan menciptakan motor yang sesuai standar keselamatan. Dia menjelaskan, apa yang dilakukan Yayasan AHM juga bagian dari mengedukasi konsumen. “Walau kami juga mengedukasi masyarakat secara lebih luas seperti ke sekolah dan perguruan tinggi,” katanya.

Menurut Gunadi Sindhuwinata, produsen sepeda motor punya tanggung jawab untuk mengedukasi pengguna sepeda motor. Anggota AISI mengaku peduli keselamatan jalan, tidak hanya memproduksi dan menjual motor. “Kedepan kami harapkan penjual motor juga menjelaskan soal safety riding kepada calon konsumen,” katanya.

Dia mengatakan, AISI fokus pada kampanye HHRT yakni; helmet, headlamp, roadsurface, dan training. AISI mengaku tidak mau dituding hanya bisa berjualan tapi tidak peduli keselamatan. “Karena itu kami berikan satu helm saat konsumen membeli motor,” katanya.

Uns solo peserta 3_resized

Road Show Menghapus Jejak Roda adalah gerakan kampanye keselamatan jalan yang dibalut dengan bedah buku berjudul sama, yakni Menghapus Jejak Roda, terbitan tahun 2014 karya Edo Rusyanto. Road show dilakukan di enam kampus di enam kota dan lima provinsi di Pulau Jawa, yakni UPN Veteran Jakarta (DKI Jakarta), Unika Soegijapranata, Semarang (Jawa Tengah), Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo (Jawa Tengah), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta (DI Yogyakarta), dan Poltek Pajajaran, Bandung (Jawa Barat). Terakhir, akan digelar di Universitas Brawijaya, Malang (Jawa Timur) pada pekan pertama Desember 2014. (edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 19 November 2014 10:54

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Trackbacks

  1. Ini yang Seharusnya Dilakukan oleh Produsen Sepeda Motor. | Muda Grafika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: