Skip to content

Punggawa Gedung Jangkung Bahas Road Safety

14 November 2014

IMG-20141113-WA002

TIGA puluhan orang duduk rapi berjajar di ruang berpendingin yang cukup apik. Perhatian mereka fokus ke bagian depan dan terasa cukup antusias. Bergulirlah dialog yang mengajak peserta diskusi agar lebih mewaspadai kebengisan sang jagal jalan raya yang tak pernah letih mengintai pengguna jalan yang lengah.

“Di lingkungan kantor kami, setiap bulan ada dua kasus kecelakaan lalu lintas jalan yang menimpa karyawan dan manajemen,” ujar M Zainal Fatah, health, safety, and environment PT Triyasa Propertindo, saat membuka ‘Road Safety Clinic’, di gedung Triyasa, di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 13 November 2014 siang.

Kata dia, bila hal itu tidak dicegah khawatirnya bisa menimbulkan fatalitas. Nah, road safety clinic kali ini, kata dia, selain mempromosikan road safety awarness, juga ingin menurunkan fatalitas kecelakaan di lingkungan kantornya.

Bagi tim Road Safety Association (RSA) Indonesia yang didaulat sebagai pemrasaran, niat luhur yang diutarakan Zainal bak pucuk dicinta, ulam pun tiba. Maksudnya, di tengah kegelisahan untuk terus menyuarakan pentingnya berkendara yang aman dan selamat, respons dari masyarakat seperti dari Triyasa menjadi sebuah oase. Triyasa yang merupakan pengembang properti pembangun gedung jangkung perkantoran di Segitiga Emas Jakarta, patut mendapat apresiasi karena sudi menyediakan effort yang tinggi.

Bagi saya, kehadiran Tim RSA Indonesia menjadi mutlak. Karena itu, saya ajak tiga tim yang berperan saling menopang agar road safety clinic berjalan mulus. Ada Ivan yang membantu paparan aspek teknis. Ada Lucky yang melaporkan jalannya kegiatan secara langsung via media sosial. Dan, ada Dito yang membantu penilaian pre and post test bagi peserta.

Upaya menekan potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan di lingkungan perusahaan menjadi mutlak. Pasalnya, fakta memperlihatkan bahwa dari segi profesi, korban kecelakaan terbesar adalah kalangan pekerja, tentu saja termasu para karyawan di perusahaan swasta. Kesadaran dibangun lewat beragam medium. Salah satunya seperti klinik kali ini.

triyasa rsa 2014 a

Kita semua tahu, kecelakaan bisa merusak produktifitas kerja sang korban yang ujungnya memengaruhi produktifitas perusahaan. Di sisi lain, bukan mustahil juga bisa merusak finansial keluarga terlebih bila sang korban adalah tiang ekonomi keluarga. Karena itu, para pengguna jalan mau tidak mau, suka tidak suka, mesti berikhtiar untuk menutup celah potensi kecelakaan semaksimal mungkin. Ikhtiar atau upaya melindungi diri menjadi absolut mengingat peran para pemangku kepentingan juga belum maksimal dalam memproteksi para pengguna jalan.

RSA Indonesia menuangkannya dalam Segi Tiga RSA, yakni rules, skill, dan attitude. Sebuah peraduan dari menaati aturan, ketrampilan yang mumpuni, dan berperilaku yang menjunjung kenyamanan dan selamatan berkendara. Pada muaranya, lalu lintas jalan yang humanis lebih dapat memperlihatkan wajah manisnya ketimbang kebengisan yang dipertontonkan sang jagal jalan raya.

Interaksi dari peserta juga cukup tinggi. Fokus perhatian cukup tinggi pada permasalah ketaatan pada aturan di jalan. “Pelanggaran terjadi karena penegakan hukum belum tegas dan konsisten,” kata peserta perempuan.

Bahkan, seorang peserta pria menganalisis bahwa situasi kehidupan yang keras saat ini membuat masyarakat menjadi terlalu berani memikul risiko. Contohnya, melanggar aturan di jalan dengan melawan arus atau menerobos lampu merah.

Interaksi bahkan tak berhenti setelah klinik rampung seiring. Salah seorang peserta, yakni Pram, mengirimi saya surat elektronik terkait materi selama klinik.

Dia mengatakan, pendekatan yang dilakukan RSA Indonesia cukup bagus, yakni dengan masuk ke daerah emosional untuk menggugah awareness. Lalu, katanya, kemudian diikuti dengan penjelasan teknis mengenai data, fakta, aturan, dan teknis yang kesemuanya dirangkum dalam segitiga RSA (the triangle is a great idea!).
“Tapi, terkait teknis (berkendara yang aman dan selamat), saya mendapatkan kesan ulasan kemarin kurang tajam,” kata dia.

Pram juga menyatakan bahwa agar pesan tertancap kuat maka sebaiknya ada pripamr effect untuk menyedot perhatian. Pembawaan inti yang melibatkan fungsi auditory, visual, dan kinestetik, serta ditutup dengan recency effect yang akan tertancap di pikiran peserta. “Nah mengingat bahwa sebagian besar rakyat Indonesia raya ini termasuk emosional, maka pendekatan dengan mengedepankan unsul emosi cocok untuk dijadikan primary & recency effect,”jelasnya. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: