Skip to content

Ini Dia Lima Pelanggaran yang Bisa Memicu Kecelakaan

11 November 2014

pesan laka ponsel nyopir

JARGON bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan cukup relevan. Coba saja simak data-data maupun fakta yang mencuat di berbagai media massa, tak jarang disebutkan soal mengantuk atau ngebut.
Lantas, apa saja pelanggaran yang memungkinkan sebagai pemicu kecelakaan lalu lintas jalan? Dan siapa saja pelanggar aturan yang dimaksud?
Berikut ini lima pelanggaran yang mungkin bisa memicu terjadinya kecelakaan di jalan.

Pertama, pelanggaran soal konsentrasi. Aturan yang berlaku saat ini, UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan pengendara berkonsentrasi saat mengemudi. Hal-hal yang bisa mengganggu konsentrasi antara lain, mengantuk, sakit, mabuk, lelah, dan menelepon. Satu saja dari aspek-aspek itu terpenuhi ketika berkendara, praktis ruang untuk terjadinya kecelakaan kian melebar. Tak jarang kita mendengar kabar terjadinya kecelakaan karena sang pengemudi mengantuk atau mabuk.

Kedua, pelanggaran terhadap marka dan rambu. Contohnya, melanggar rambu larangan masuk ke jalur Trans Jakarta atau yang populer disebut busway. Jalur yang semestinya hanya untuk angkutan umum Trans Jakarta diembat oleh pesepeda motor atau mobil pribadi. Dampaknya, kita kerap mendengar kabar bus Trans Jakarta bertabrakan dengan sepeda motor.

Ketiga, pelanggaran melawan arus. Pergerakan kendaraan di jalan raya sudah diatur menjadi satu arah atau dua arah. Ketika ada pengendara yang memaksakan diri melawan arah lantaran demi memangkas waktu, tinggal menunggu giliran saja terjebak dalam kecelakaan. Melawan arus bukan semata membuka peluang kecelakaan menjadi kian besar, tapi bukan mustahil menimbulkan gesekan horizontal. Tak semata adu mulut, ujung-ujungnya juga bisa adu otot. Ketika itu semua terjadi yang dirugikan semua pihak, termasuk pihak lain yang tidak terlibat adu mulut/adu otot karena terjebak antrean panjang kemacetan.

Keempat, pelanggaran batas kecepatan. Ngebut bisa merusak konsentrasi dan termasuk kesulitan menghentikan kendaraan pada posisi yang aman dan selamat. Melampaui batas kecepatan yang sudah ditentukan, misalnya, maksimal 80 kilometer per jam (kpj) di jalan tol, memperlebar celah terjadinya kecelakaan.

Kelima, pelanggaran infrastruktur jalan. Bila keempat pelanggaran di atas titik utamanya di pengemudi, pelanggaran yang kelia ini dilakukan oleh penyelenggara jalan. Pihak penyelenggara jalan, baik itu kementerian pekerjaan umum maupun hingga di dinas pekerjaan umum, bisa melanggar aturan yang berujung kecelakaan. Aturan yang berlaku saat ini sudah menegaskan bahwa jalan yang rusak mesti segera diberi tanda dan tentu saja segera diperbaiki. Namun, ketika jalan rusak itu tidak diberi tanda selama belum diperbaiki, bukan mustahil bisa menelan korban akibat kecelakaan.

Setelah kita mengetahui lima jenis pelanggaran aturan yang bisa memicu kecelakaan di atas, tinggal bagaimana kita menghindari terjadinya pelanggaran. Semoga kita lebih beradab lagi ketika di jalan raya. Terus wujudkan lalu lintas jalan yang humanis, lalu lintas jalan yang sudi toleran dan menghargai aturan. Muaranya, kian menurun fatalitas akibat kecelakaan yang saat ini merenggut 70-an jiwa per hari. Semoga. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. Aa Ikhwan permalink
    11 November 2014 08:26

    sip ajib eyang infonya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: