Skip to content

Negeri di Batas Lampu Merah

10 November 2014

lamer dan beragam reaksi

NUSANTARA negeri subur, gemah ripah lohjinawi dengan masyarakatnya yang ramah tamah dan murah senyum. Inilah negeri nan elok dengan belasan ribu pulau dan beragam suku bangsa . Itulah Indonesia yang kini dihuni tak kurang dari 240 juta anak negeri.

Pada 2014 ini negeri yang membentang dari Sabang hingga Merauke juga dipadati oleh beragam kendaraan bermotor. Data kementerian perhubungan memperlihatkan nyaris 121 juta kendaraan menghuni rumah-rumah anak negeri. Jangan heran bila sekitar 83% dari total kendaraan tersebut adalah sepeda motor.

Si roda dua terus meruyak seiring pertumbuhan ekonomi anak negeri. Kemampuan daya beli anak bangsa terus meningkat. Produksi dan penjualan sepeda motor pun ikut terkerek. Sekadar ilustrasi, sepanjang Januari-Oktober 2014, tak kurang 6,7 juta sepeda motor menggerojok pasar dalam negeri. Bahkan, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) Gunadi Sindhuwinata berkeyakinan bahwa tahun ini bisa mencapai angka delapan juta unit. Artinya, kejayaan sang roda dua menyamai tahun 2011. Kita lihat saja nanti.

Meruyaknya si roda dua dapat dilihat di sekitar kita. Di kota-kota besar, kendaraan bermotor roda dua ini menjadi alternatif di tengah masih belum maksimalnya angkutan umum mengakomodasi hak mobilitas warga kota. Sepeda motor dianggap lebih mangkus dan sangkil. Sang penunggang bisa wira-wiri ke segala tujuan sekehendak hati.

Saking praktisnya, sang sepeda motor begitu lincah untuk diajak menjarah aturan yang ada di jalan. Tengok saja di sekeliling kita. Saat berada di lampu merah pertigaan jalan atau di perempatan jalan dengan mudah kita disuguhkan aksi menantang peraturan. Setidaknya, mereka mempertontonkan aksi melibas marka jalan, baik itu garis setop maupun marka zebra cross. Bahkan, yang lebih mengerikan, melabrak lampu pengatur lalu lintas alias menerobos lampu merah.
Untuk urusan melibas zebra cross, kita seakan permisif akan perilaku merampas hak orang lain. Kita semua tahu bahwa marka tersebut fasilitas bagi pedestrian untuk menyeberang jalan. Namun, kenapa para pengguna kendaraan bermotor demikian arogan menindas si lemah, pedestrian.

Aksi melabrak aturan juga seakan menantang maut. Bagaimana tidak, fakta memperlihatkan bahwa mayoritas kecelakaan lalu lintas jalan diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Pada 2013, setidaknya 42% kecelakaan dipicu oleh perilaku ugal-ugalan alias tidak tertib alias melanggar aturan. Entah apa yang ada di benak para pelanggar aturan tersebut.

Perilaku sekehendak hati dengan merampas hak pengguna jalan yang lain mencerminkan kebengisan. Semestinya ini bertolak belakang dengan karakter bangsa kita yang dikenal ramah dan murah senyum. Entah apa yang membuat para pengendara demikian nafsu untuk memburu waktu. Kita dengan mudah mendengar alasan pelanggaran karena terburu-buru. Alasan lain, tidak ada penindakan yang membuat sang pelanggar jera.

Rasanya alasan itu masih belum pas benar dengan kenyataan yang ada. Hingga suatu ketika sempat menyeruak sebuah pendapat bahwa alasan mereka melanggar aturan karena mereka belum merasa dirugikan oleh tindakan mereka tersebut. Artinya, sang pelanggar belum merasa rugi secara finansial atau rugi fisik. Misal, didenda dengan maksimal atas pelanggaran. Atau, amit-amit deh, merasakan kecelakaan lalu lintas jalan lantaran ugal-ugalan.

Apakah demikian karakter bangsa kita? Tak adakah sedikit celah untuk berbagi ruas jalan? Tak adakah rasa sudi toleran bahwa selamat sampai tujuan sebagai suatu kehendak bersama?

Jangan-jangan, keserakahan dan kepongahan yang dipertontonkan lewat aksi melanggar aturan di jalan adalah sebuah drama sistemik. Sebuah desain dari sebuah kekuatan yang ingin meluluhlantakan kehidupan masyarakat kita. Bagaimana tidak, setiap hari kita disuguhi fakta tewasnya 70-an anak bangsa akibat kecelakaan di jalan. Inilah salah satu mesin pembunuh di abad moderen yang bisa mengoyak-ngoyak suatu negeri.

Penyakit mematikan atau perang konvensional yang membunuh dengan peluru bisa kalah oleh mematikannya kecelakaan di jalan. Di Indonesia, sejak kemerdekaan tahun 1945, rasanya kematian akibat kecelakaan di jalan lebih tinggi dibandingkan dengan kekerasan lain yang mengoyak-ngoyak nurani kita. Di luar faktor penyakit, rasanya kecelakaan lalu lintas jalan mesti kita waspadai sebagai pembunuh berdarah dingin. Bagaimana tidak, sepanjang 1992 hingga 2013, tak kurang dari 300 ribu anak negeri yang menggelapar di permukaan aspal. Semua berawal dari perilaku yang dianggap sepele, melanggar aturan di jalan. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: