Skip to content

Pedagang Motor Diimbau Beri Dua Helm

31 Oktober 2014

anak pake helm spion

PARA penunggang sepeda motor termasuk yang berisiko tinggi saat berlalu lintas jalan. Baik itu risiko ditabrak, maupun risiko menabrak. Faktanya, sekitar 71% kendaraan yang terlibat kecelakaan pada 2013 adalah sepeda motor.
Langkah yang bisa dilakukan hanya memperkecil risiko, mengingat kecelakaan bisa terjadi kapan dan dimanapun. Pengurangan risiko dari kondisi terburuk bisa dimulai dari kemampuan berkendara. Selain itu, menerapkan perilaku berkendara yang aman dan selamat, hingga sudi toleran termasuk mentaati aturan yang ada di jalan.

Fakta memperlihatkan bahwa cedera di kepala dan leher menjadi penyebab fatalitas bagi pesepeda motor. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan bahwa di negara berkembang cedera tersebut memicu hingga lebih dari 70% kematian pesepeda motor yang terlibat kecelakaan.

Ada tiga hal yang memungkinkan cedera serius di kepala, yakni tidak memakai helm, memakai helm yang kualitasnya tidak mumpuni, dan cara memakai helm yang keliru. Sekalipun, memakai helm atau tidak memakai helm kecelakaan bisa terjadi, perbedaan terletak pada tingkat cedera yang ditimbulkan. Sekadar ilustrasi, jitak aja kepala sendiri saat tidak memakai helm, lalu bandingkan dengan saat memakai helm. Beda kan?

Ironisnya, di sekeliling kita dengan mudah kita menjumpai pesepeda motor yang wira-wiri tanpa memakai helm pelindung kepala. Alasan yang mencuat juga beragam, mulai dari gak punya helm, hanya jarak dekat, hingga terpaksa karena menumpang sehingga tidak menyiapkan helm.

Khusus yang menumpang, misalnya, karena tujuan searah lalu menumpang kepada motor teman perlu menjadi perhatian lebih nih. Sekadar berbagi, posisi penumpang yang tidak memakai helm, sedangkan pengendaranya memakai helm, perlu diingatkan bahwa sang penumpang lebih berisiko terlontar jika terjadi benturan atau pengereman mendadak yang ekstrim. Jika terlontar, mudah ditebak bakal membuka risiko yang lebih buruk saat membentur obyek benturan seperti permukaan aspal.

Saat ini, para pembeli sepeda motor di dealer atau di penjual motor resmi akan memperoleh satu helm dari sang pedagang. Selain helm, biasanya pedagang juga memberikan jaket. “Tapi, helm itu bukan bagian kelengkapan sepeda motor. karena itu, hanya diberi satu. Itu pun, ada yang tidak memakai helm tersebut,” kata Gunadi Sindhuwinata, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi), saat berbincang dengan saya di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Artinya, kesadaran menggunakan helm masih perlu terus ditingkatkan. Barangkali lupa soal risiko fatalitas seperti yang dilontarkan WHO.

Di tengah itu semua, termasuk yang tidak memakai helm adalah anak-anak. Baik itu yang berkendara bersama orang tuanya, maupun anak-anak di bawah umur yang nekat diizinkan berkendara sendiri bersama teman-temannya. Terkait hal ini, Jonter Sitohang MT, Kepala Seksi Keselamatan Awak Angkutan Umum Direktorat Keselamatan Transportasi Darat, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan punya usulan.

“Kami merekomendasikan dalam penjualan sepeda motor termasuk di dalamnya adalah helm, yakni satu helm dewasa ditambah satu helm anak,” kata dia dalam seminar yang digelar Aisi, di Jakarta, baru-baru ini.

Tampaknya usulan tersebut berangkat dari fakta di lapangan bahwa banyak anak-anak yang wira-wiri di jalan tanpa memakai helm. Atau, fakta lain, kesulitan para orang tua mencari helm yang sesuai dengan ukuran anaknya.

Apa pun itu, kesadaran memakai helm saat bersepeda motor masih menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan kesadaran berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Edukasi terkait hal ini menjadi tanggung jawab banyak pihak. Peran keluarga menjadi salah satu sisi yang penting. Keluarga mestinya menjadi benteng yang kuat dalam mengajak anggota keluarga lebih aman dan selamat ketika berkendara.

Walau, keluarga mendapat gempuran luar biasa dari berbagai lini. Mulai dari lingkungan hingga kotak hitam bernama televisi di ruang keluarga. Untuk hal yang satu ini, perlu juga menjadi perhatian serius. Bayangkan, televisi menjejali anggota keluarga dengan tayangan seenak jidatnya, yakni naik motor tanpa memakai helm. Baik itu lewat tayangan film remaja dan dewasa, sinetron, hingga film kartun yang untuk anak-anak.

Bayangkan, film kartun untuk anak-anak sudah menjejali tayangan yang mengajak orang melanggar aturan, yakni naik motor tanpa helm. Jika itu terus membombardir benak pemirsa, bukan tidak mungkin menimbulkan persepsi bahwa tidak masalah bersepeda tanpa helm. Ini kan keliru.

Padahal, negara kita memiliki aturan yang berlaku untuk seluruh warga negara, yakni UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang mewajibkan pesepeda motor memakai helm. Siapapun, ketika bersepeda motor di jalan wajib memakai helm dengan kualitas Standard Nasional Indonesia (SNI). Kalau melanggar, sanksinya denda maksimal Rp 250 ribu atau penjara maksimal satu bulan.

“Tapi, hakim rata-rata memutuskan denda maksimal Rp 30 ribu. Hal ini tidak membuat jera para pelanggar aturan di jalan,” sergah Komisaris Besar Polisi Indrajit, kepala bidang Pembinaan Penegakan hukum, Korlantas Polri.
Efek jera menjadi salah satu kata kunci dalam menghidupkan budaya aman dan selamat di jalan raya. Bagaimana setiap orang yang ingin melanggar aturan akhirnya membatalkan niatnya karena tahu dampak dari pelanggaran itu sendiri. Pelangaran bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Betul? (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 31 Oktober 2014 09:57

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: