Skip to content

Mahasiswi Bandung Panas

26 Oktober 2014

IMG-20141023-WA017

MAHASISWI berparas ayu berambut sebahu itu terbata-bata. Sekalipun begitu, tatapannya tetap tajam ke arah depan. Di hadapannya, pria tegap berseragam coklat dengan tanda kepangkatan dua melati di pundaknya.

Saskia, kita sebut saja begitu mahasiswi yang siang itu begitu menggebu-gebu. Pernyataan pun mengalir dari bibirnya yang mungil. “Ini pengalaman saya. Ikut ujian tertulis SIM tiga kali baru lulus. Setelah itu tes praktik. Tapi, ada yang gak lulus ujian tertulis, bisa ikut tes praktik dan lulus. Kok bisa?” Sergahnya.

Belum berhenti disitu. Bak mitraliur, rangkaian kalimat berikutnya pun meluncur bertubi-tubi. Mahasiswi Bandung ini tampak panas.

“Polisi mesti mengusut petugas yang bisa dengan mudah memberikan SIM kepada mereka yang tidak lulus tes,” tegas sang mahasiswi dalam sebuah seminar di Bandung, baru-baru ini.

Bak gayung bersambut. Mahasiswi yang lainnya, kita sebut saja Ida, berseloroh soal pemberian SIM. “Kalau seperti itu berarti petugas tidak mendukung perwujudan berlalu lintas jalan yang aman dan selamat,” sergahnya.

Pria tegap berseragam coklat tadi tampak sibuk menyimak dan mencatat bombardir kedua mahasiswi yang berparas ayu tadi.

“Jika ada petugas yang seperti itu sebaiknya dilaporkan dengan bukti-bukti. Pasti ditindak,” ujarnya dengan nada suara tenang.

Dia juga menambahkan, petugas juga manusia pasti ada salahnya. Karena itu butuh kerjasama semua pihak agar perbaikan-perbaikan bisa dilakukan di segala lini. “Mahasiswa juga harus konsisten, jika ditindak karena melanggar aturan di jalan, harus menerima,” katanya.

Alur tanya jawab mahasiswi dan petugas tersebut mengalir dengan terbuka. Sang petugas mengaku senang mendapat pertanyaan kritis. Dia menghimpun seluruh pertanyaan dan menjawabnya secara sabar.

Saskia dan Ida adalah dua dari ribuan bahkan jutaan pengguna jalan yang berharap lalu lintas jalan yang lebih manusiawi. Lontaran pernyataan keduanya bermuara pada perlunya petugas bertindak tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu.

“Ada teman ditilang, tapi dibiarkan karena bapaknya petugas. Kok bisa begitu?” Sergah Saskia.

Fakta menunjukan bahwa perilaku manusia menjadi pemicu utama kecelakaan tersebut. Setidaknya 42% kasus kecelakaan dipicu oleh perilaku berkendara yang ugal-ugalan. Selebihnya perpaduan dari aspek manusia lainnya, seperti lengah dan ngantuk, serta faktor jalan, kendaraan, dan alam.

Melihat fakta data tersebut kesimpulan mengerucut pada perlunya pengubahan paradigma berlalu lintas jalan. Menjadi mutlak untuk menanamkan kesadaran berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Di sisi lain, penegakan hukum menjadi absolut untuk meredam pelanggaran aturan yang ada. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. nawirotom permalink
    26 Oktober 2014 12:30

    itulah Indonesia, mari kita perbaiki Indonesia dari yang paling dekat, yaitu diri sendiri

    • 26 Oktober 2014 12:35

      setuju, dan dimulai dari sekarang.

  2. 27 Oktober 2014 05:18

    nocan Saskia dan Ida dah dikasih Bodats belum Eyang ? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: