Skip to content

General Manager Ini Menyetujui Pelanggaran Aturan

22 Oktober 2014

anak bertiga tanpa helm1

MIMIK wajahnya seperti mengiba. Nada bicaranya merendah kadang cenderung bergetar. Dia bercerita tentang keterpaksaannya menyetujui pelanggaran aturan.

Tak main-main, aturan yang dilibas itu bisa berbuntut mendekam satu tahun di balik jeruji penjara bagi sang pelanggar. “Saya malu kalau ngomong ke pak Edo, saya terpaksa mengizinkan anak saya yang kelas tiga SMP untuk bersepeda motor,” urai sang general manager di salah satu perusahaan swasta di Jakarta, saat berbincang dengan saya baru-baru ini.

Dia menjelaskan bahwa situasi terpaksa itu adalah kebutuhan alat transportasi untuk di lingkungan tempat tinggal. Mobilitas sang anak tak bisa mengandalkan angkutan umum yang ada. Karena itu, kata dia, sepeda motor menjadi alternatif sekalipun sang anak belum memiliki surat izin mengemudi (SIM). Maklum, sang anak masih berusia 14 tahun.
“Di sisi lain, saya perlu mengajarkan sang anak mampu menghadapi risiko dalam kehidupan. Selama ini saya terlalu memanjakan anak,” tukasnya.

Namun, sambungnya, izin mengendarai sepeda motor hanya diberikan untuk aktifitas di sekitar lingkungan tempat tinggal. Lebih dari itu, katanya, dia tak mengizinkan sang anak. Dia juga selalu wanti-wanti kepada sang anak agar ketika mengendarai sepeda motor selalu memakai helm pelindung kepala. “Dampaknya, anak saya yang paling safety dibandingkan teman-temannya. Anak saya selalu pakai helm,” sergah pria berusia 40 tahunan itu.

Dia mengaku bukan tak tahu risiko atas pelanggaran tersebut. Baik itu risiko ditindak petugas, terlebih risiko terjadinya kecelakaan mengingat sang anak masih di bawah umur yang mentalnya belum stabil. Anak-anak di bawah umur memiliki perilaku tidak memahami dan tidak mampu mempertanggung jawabkan apa yang diperbuatnya. Secara teknis, kemampuan mengendalikan si kuda besi juga masih terlalu ringkih. Namun, hal yang lebih berat adalah soal kestabilan emosi.

Data Korlantas Mabes Polri menyebutkan, di Indonesia, anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan mencapai 20 setiap harinya. Sedangkan mereka yang menjadi korban kecelakaan, tiap hari mencapai 23 anak.

Untuk di Jakarta dan sekitarnya, tiap lima hari sekali satu anak di bawah umur menjadi pelaku kecelakaan. Dari sisi korban, tiap hari satu anak di bawah umur menjadi korban sang jagal jalan raya.

Tentu kita berharap daftar tersebut tidak terus bertambah. Para orang tua memiliki kewajiban melindungi para anak-anaknya agar terhindar dari potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Termasuk untuk melindungi jangan sampai sang anak menjadi pelaku kecelakaan.

Nah, terkait ancaman sanksi bagi pengendara yang tidak memiliki SIM diatur dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). UU ini menegaskan bahwa pengendara yang tidak memiliki SIM bisa dikenai sanksi denda maksimal Rp 1 juta. Atau, dikenai sanksi penjara maksimal satu tahun.
Tuh kan, repot. (edo rusyanto)

Iklan
4 Komentar leave one →
  1. 22 Oktober 2014 00:27

    apa kabar Eyang dah lama tidak jumpa?

    • 22 Oktober 2014 11:42

      baik, kemana aja nih?

      • 22 Oktober 2014 18:34

        Tinggal di bangladesh sekarang saya Eyang 🙂

  2. 31 Oktober 2014 09:27

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: