Lanjut ke konten

Lampu Byson Dua Kali Diganti

15 Oktober 2014

bohlam lampu rem belakang

SEORANG kolega saya tiba-tiba mendekat. Dari atas sepeda motornya dia berujar, “Lampu belakangnya mati.”

Inilah kali kedua saya mengalami mati lampu rem atau lampu bagian belakang sepeda motor dalam rentang kurang dari satu tahun. Pemberitahuan dari kolega saya pada pertengahan Oktober 2014 malam itu mengingatkan saya akan kejadian beberapa waktu sebelumnya. Kejadiannya sama, saat malam hari dan pada sepeda motor yang sama, Yamaha Byson.

Malam terus merangkak menuju dinihari. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima menit dari lokasi diberitahu lampu mati, saya mendapati sebuah bengkel. Jadilah malam itu kencan dengan teknisi bengkel di salah satu sudut Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

“Pak, ada lampu rem belakang? Saya mau ganti,” ujar saya.

Sang mekanik bengkel mengangguk dan bergegas mengambil kunci-kunci untuk membuka lampu sang Byson. Dia membawa bohlam lampu bermerek “KGW”. Sambil membuka penutup tempat bohlam lampu belakang Byson, sang mekanik sesekali berujar. Mulai dari soal nanya jalur rute saya hingga pernyataannya soal banyak kasus lampu rem belakang Byson yang mati. “Saya sering juga nemuin yang begini,” kata mekanik yang saya perkirakan berusia dua puluhan tahun.

Tak lebih dari 15 menit, urusan ganti mengganti bohlam pun selesai. “Biayanya Rp 15 ribu. Tapi, kalau mau ngasih lebih, boleh juga sih,” seloroh sang mekanik sambil ngeloyor.

Lampu bagian belakang yang memancarkan warna merah amat penting. Cahaya lampu tersebut memberi isyarat kepada pengguna jalan lain akan keberadaan motor yang bersangkutan. Selain itu, ketika lampu rem menyala menandakan bahwa motor yang menyala lampunya sedang melakukan pengereman. Praktis hal itu membantu pengendara di belakangnya untuk lebih waspada. Setidaknya, mengingatkan pengendara yang lain untuk menjaga jarak aman saat berlalu lintas jalan.

Urusan soal lampu amat membantu untuk keselamatan pengendara saat di jalan. Lampu-lampu seperti lampu rem, lampu sein, hingga lampu utama merupakan bagian dari kelengkapan kendaraan. Satu saja dari ketiga lampu itu tidak ada, semestinya sang pengendara sesegera mungkin menggantinya, apalagi bagi pesepeda motor.

Karena itu, ketika lampu belakang motor yang saya tunggangi padam, rasanya ada yang kurang lengkap. Rasanya was-was akan terjadi tabrak belakang lantaran yang di belakang tidak bisa membaca secara pasti pergerakan apa yang saya lakukan.

Namun, di bagian lain kita juga kerap melihat pesepeda motor yang memakai lampu belakang berwarna menyilaukan. Lampu menyala kian terang manakala pemotor menginjak rem belakang.

Rasanya kita para pemotor harus ekstra waspada menghadapi lampu rem super terang itu. Jangan sampai terkaget-kaget seperti saya. Entah apa alasan sang pesepeda motor yang memakai lampu terang menyilaukan itu.
Padahal, kita semua tahu, ada aturan soal lampu yang menyilaukan. Coba saja tengok pasal 58 dalam Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam aturan ini disebutkan bahwa setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan dilarang memasang perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas.

Nah didalam penjelasan pasal 58 diuraikan bahwa yang dimaksud dengan “perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas” adalah pemasangan peralatan, perlengkapan, atau benda lain pada kendaraan yang dapat membahayakan keselamatan lalu lintas, antara lain pemasangan bumper tanduk dan lampu menyilaukan.

Soal sanksi bagi yang melanggar aturan itu bisa ditengok di pasal 279 bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang dipasangi perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas sebagaimana dimaksud dalam pasal 58 dipidana dengan pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

Waduh, kok masih aja ada yang memakai lampu rem belakang menyilaukan? Apakah sang pemakai sadar akan risikonya terhadap pengguna jalan yang ada di belakangnya? Atau sang pemakai lampu menyilaukan belum tahu ada aturannya?

Jadi, lampu belakang padam berisiko, memakai lampu belakang dengan cahaya terang menyilaukan juga berisiko. Ternyata, memang enaknya yang normal-normal saja yah? Gak gelap dan gak menyilaukan. (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. 19 Oktober 2014 00:10

    aku belum mati mati tuh 2012 …

  2. alamsuro permalink
    20 Oktober 2014 16:03

    Banyak sekali yg meremehkan fungsi dari lampu-lampu kendaraan ini pak, mirissss liat nya…..
    Salut bwt pak Edo (y)

  3. 26 Oktober 2014 20:05

    iya tuh, sering saya dapatkan orang yang ngmodif lampu belakang dengan lampu yang terang. jadinya menggagu pengguna jalan yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: