Lanjut ke konten

Sang Office Boy Menjadi Penyelamat

14 Oktober 2014

helm pemotor jakarta_1

KISAH ini ada di sekitar kita.

Malam terus merangkak. Jarum jam sudah melebihi angka sembilan. Tiba-tiba di ruang kantor terjadi kegaduhan. Mereka yang masih bekerja pun menjadi tersedot kegaduhan tadi. Ada apa?

“Eh ada pak Edo loh, nanti dimarahin kalau naek motor gak pake helm,” seloroh seorang karyawan kolega saya, suatu malam pada September 2014.

Ternyata, ada seorang karyawati yang ingin nebeng naik sepeda motor. Perempuan muda berparas ayu itu ingin nebeng dengan karyawati lainnya yang kebetulan rumahnya satu arah. Namun, karyawati yang ditebengi tidak memiliki dua helm. Seperti biasa, dia hanya membawa satu helm pelindung kepala untuk dipakainya sendiri. Dia tidak membawa helm cadangan.

Jadilah perbincangan simpang siur soal pentingnya memakai helm saat bersepeda motor, termasuk selaku penumpang. Ada yang berkomentar, “Penumpang itu lebih riskan karena ketika terjadi benturan atau pengereman mendadak bukan mustahil penumpanglah yang terjungkal lebih keras. Bakalan runyam jika ditambah tidak memakai helm.”

Saya hanya mencoba mengingatkan soal pentingnya pemakaian helm sebagai pelindung. Setidaknya, sebagai ikhtiar melindungi diri jika terjebak dalam insiden. Maklum, lebih dari 80% kematian pesepeda motor dalam kecelakaan akibat cedera di kepala dan leher. Memakai helm menjadi upaya untuk mereduksi kondisi yang lebih fatal.

Tak heran, jika negara pun mengaturnya di dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Regulasi itu menegaskan bahwa pengendara dan penumpang sepeda motor wajib memakai helm. Bahkan, kualitas helmnya pun diatur, yakni helm yang memenuhi Standard Nasional Indonesia (SNI), yakni jenis helm melindungi seluruh wajah (full face) dan helm separuh wajah (open face).

Lazimnya aturan, ketentuan pemakaian helm itu pun menyediakan sanksi bagi para pelanggarnya. Ada dua pilihan, mau didenda maksimal Rp 250 ribu atau kurungan badan alias dipenjara maksimal satu bulan. Walau, kita belum pernah dengar ada sanksi penjara bagi pesepeda motor yang kedapatan tidak memakai helm.

Kadang, ada yang menganggap tidak memakai helm adalah masalah kecil. Apalagi, jika dikaitkan dengan alibi, hanya berkendara dalam jarak pendek. Atau, terpaksa tidak memakai helm karena tidak punya atau tidak ada. Mereka yang menganggap itu adalah masalah kecil perlu diingatkan bahwa masalah besar kadang dimulai oleh persoalan yang dianggap secuil.

Kembali soal kegaduhan di kantor saya. Sang karyawati yang ingin ditebengi justru akhirnya sibuk mencari helm bagi koleganya. Dia menemui sejumlah orang yang ada di dalam ruangan kantor yang diperkirakan membawa helm cadangan. Setelah berputar kesana kemari, akhirnya karyawati tadi berseloroh, “Saya dapat pinjaman dari Robi.”

Robi yang dimaksud adalah pekerja bagian kebersihan di kantor atau office boy. Akhirnya, sang office boy pun menjadi penyelamat agar karyawati yang hendak nebeng sepeda motor bisa memakai helm. Kegaduhan di ruangan pun mereda. Semua tampak lega. Sebagian kembali merampungkan pekerjaannya, sebagian lainnya bersiap-siap untuk bekerja. (edo rusyanto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: