Lanjut ke konten

Kita pun Menjadi Permisif

12 Oktober 2014

pesan laka anak di motor

ANAK-ANAK remaja saat ini cenderung kritis. Mereka tumbuh di tengah derasnya informasi. Pada kondisi seperti itu para orang tua mesti sigap mengimbangi dinamika yang ada. Salah mengantisipasi bisa-bisa membuat suasana menjadi kontraproduktif.

Orang tua dituntut untuk punya pendekatan yang pas dan bisa dicerna oleh anak remaja mereka. Saya sendiri termasuk yang harus bergulat menghadapi fenomena remaja. Peran keluarga dalam membekali pengetahuan ternyata tidak cukup. Komunikasi dua arah dan keterbukaan diantara anggota keluarga ternyata menjadi amat vital.

Maklum, di luar keluarga, anak remaja memiliki kehidupannya sendiri. Pergaulan dengan teman-teman sebaya memiliki kekuatan daya pengaruh yang cukup besar bagi sang anak. Banyak orang tua yang “kebobolan”, anak remajanya lebih “patuh” pada wejangan sang teman ketimbang sang orang tua. Kita sadar bahwa anak-anak bertumbuh atas campur tangan banyak sisi, baik itu sekolah, lingkungan, bahkan tentu saja keluarga itu sendiri.

Anak-anak tercipta dari sistem yang ada di sekelilingnya. Dia buah dari sistem masyarakatnya. Tentu saja termasuk dari sikap permisif keluarga. Salah satunya, ketika para orang tua dengan sadar membiarkan anak-anak di bawah umur mereka berkendara di jalan raya. Permisifme orang tua menjadi faktor pendorong lahirnya generasi yang bisa jadi abai pada regulasi yang ada.

Orang tua berdalih bahwa permisifme yang ditampilkannya karena kondisinya “memaksa”. Dalih itulah yang membuat keluarnya izin mengemudi sekalipun belum cukup umur. Salah satu yang kerap dituding sebagai kondisi memaksa tadi adalah moda transportasi umum yang ada tidak mampu mengakomodasi kebutuhan bermobilitas sang anak. Atau, biaya ekonomi yang dipikul terlalu tinggi untuk menyerahkan urusan transportasi kepada angkutan kota (angkot) atau ojek sepeda motor. dalih lainnya, sang anak sudah dianggap mampu berkendara dan hanya berkendara untuk jarak dekat saja. Kloplah sudah.

Jangan salahkan anak-anak yang wira-wiri dengan kendaraan bermotor di jalan raya. Anak-anak di bawah umur itu lahir lantaran kita para orang tua bersikap permisif. Mengizinkan bahkan memfasilitasi mereka berseliweran di jalan raya. Mereka yang bersepeda motor tak hanya sendirian, kadan bertiga bahkan lebih. Plus, mereka menunggang kuda besi tanpa memakai helm pelindung kepala.

Jadilah anak-anak kita memikul risiko yang tidak kecil. Jalan raya kita sudah menunjukan kebengisannya. Bagaimana tidak, setiap hari 70-an jiwa raib lantaran sang jagal jalan raya yang bernama kecelakaan lalu lintas jalan. Angka itu menjadi sebuah ironi bila ditambah ratusan orang lainnya menderita luka-luka, baik ringan maupun berat.

Ironisnya, setiap hari tak kurang dari 69 anak-anak di bawah umur yang bertumbangan karena kecelakaan lalu lintas jalan. Data tahun 2013 versi Korlantas Polri itu juga memperlihatkan bahwa anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan tak kurang dari 20 setiap harinya. Mereka memikul risiko yang tak sebanding.

Anak-anak kita memikul risiko lain seperti kriminalitas dan terjaring operasi penegakan hukum. Maklum, regulasi yang ada mewajibkan seorang pengendara memiliki surat izin mengemudi (SIM). Sedangkan syarat utama memiliki SIM selain cakap dalam berkendara, juga mesti berusia paling rendah 17 tahun.

Disini juga pemerintah mesti hadir. Ketika salah satu akar permisifme adalah kondisi angkutan umum yang belum memadai, jawabannya hanya satu, pemerintah mesti hadir. Pemerintah mutlak menyediakan angkutan umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, dan ramah lingkungan. Tak semestinya pemerintah berpangku tangan melihat anak-anak di bawah umur yang bertumbangan di jalan raya.

Sedangkan peran sekolah sebagai pendidik juga mutlak menanamkan budi pekerti yang luhur. Sekolah tak semata mencetak anak-anak yang berpengetahuan luas, sekolah berkewajiban melahirkan anak-anak yang punya nurani dan mampu menggunakan akal sehatnya. Para pendidik mesti mampu menjadi contoh bagi anak-anak, termasuk persoalan keselamatan jalan. Perilaku berlalu lintas jalan yang aman dan selamat.

Ketika anak-anak remaja tampil dengan slogan kebebasannya, dengan ekspresi yang ingin memikat perhatian orang tua, mereka punya agenda sendiri. Sebuah agenda bahwa kehidupan mereka adalah kehidupan yang dinamis. Mereka punya selera sendiri dalam segala urusan yang mungkin bertolak belakang dengan kehidupan keluarganya. Disinilah pentingnya sikap tegas dan mendidik diperlihatkan oleh para orang tua bila tak ingin melahirkan generasi yang permisif. Generasi yang kemungkinan besar memiliki mentalitas jalan pintas. Generasis yang tak sudi kerja keras demi menggapai cita-cita. Mereka yang ingin selalu mencapai secara cepat apa yang diangankan. Padahal, hidup tak semata berangan-angan, tapi butuh kerja keras dan kerja cerdas.

Pertanyaannya, masihkah kita para orang tua rela bersikap permisif dengan berlindung di bawah ketiak kondisi yang terpaksa? Kemanakah akal sehat dan nurani kita? (edo rusyanto)

7 Komentar leave one →
  1. 12 Oktober 2014 19:40

    Solusinya om?

    • 12 Oktober 2014 20:28

      kalau saya, sedang belajar tidak permisif. di sisi lain, berharap negara menyediakan angkutan umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, dan ramah lingkungan.

  2. irwan permalink
    13 Oktober 2014 13:13

    izin share oom

  3. 15 Oktober 2014 15:13

    izin share dan kutip om Edo

  4. 16 Oktober 2014 10:03

    generasi hedonis,Eyang…jalan pintas mencari kenyaman hidup dikombinasi sifat serakah menjadikan suburnya perllaku koruptif.

Tinggalkan Balasan ke Andung Teguh Budiono Wangid Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: