Lanjut ke konten

Mereka yang Perkasa di Jawa

10 Oktober 2014

skutik honda di pabrik ahm1

IBARAT gadis cantik, Jawa selalu menjadi incaran banyak kalangan. Para produsen barang dan jasa berbondong-bondong memikat Jawa dengan seabrek jurus. Mereka berlomba merengkuh pangsa pasar.

Bagi para produsen sepeda motor, pasar Jawa bisa jadi juga terlihat amat seksi. Jadilah mereka berlomba-lomba memikat sang gadis. Lantas, siapa saja yang perkasa di pasar terbesar di Indonesia ini?

Dalam rentang Januari-September 2014, produsen sepeda motor Honda masih yang terdepan. Dia tampil dengan kekuatan penuh menguasai pasar berpenghuni tak kurang dari 136 juta jiwa ini. Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) memperlihatkan, sang Sayap Tunggal mampu mengatrol penguasaan pangsa pasar, yakni dari 63,03% pada akhir September 2013 menjadi 65,21% per akhir September 2014.

Tak semata mampu mengerek penguasan market share, dari sisi volume yang digerojok ke pasar Jawa, Honda pun menorehkan peningkatan. Volume yang diguyurkan naik 5,13%, yakni menjadi sekitar 2,47 juta unit atau setara dengan 378 sepeda motor per jam.

Keperkasaan Honda masih sulit tertandingi di pasar sepeda motor Jawa. Untuk periode sembilan bulan 2014, posisi Honda masih tak tergoyahkan seperti setahun sebelumnya.

Sementara itu, mereka yang perkasa di pasar Jawa lainnya adalah Yamaha. Pesaing utama Honda ini masih menempati posisi kedua. Bedanya, pangsa pasar Yamaha sedikit terkoreksi, yakni dari 29,73% menjadi 28,76%. Per akhir September 2014, Yamaha menggerojok pasar Jawa dengan sekitar 167 motor per jam.

Baik Honda, Yamaha, atau anggota Aisi lainnya tentu masih menganggap Jawa sebagai pasar paling seksi di Indonesia. Lima anggota Aisi, yakni Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan TVS masih menempatkan pabrik mereka di Jawa, khususnya di sekitar Jabodetabek. Lewat penempatan pabrik yang di dekat pasar utama tentu saja lebih memudahkan sistem distribusi ke pasar yang dituju.

Di sisi lain, sistem layanan purna jual dan sistem pembiayaan juga cukup menunjang. Para perusahaan pembiayaan (multifinance) juga masih terkonsentrasi di Jawa. Maklum, Jawa dianggap memiliki daya beli yang cukup. Lihat saja dari segi keuangan perbankan, Jawa masih yang terbesar. Per akhir 2012, Jawa menyerap Rp 2.003 triliun (73,97%) dari total kredit perbankan yang mencapai Rp 2.707 triliun. Dari total dana pihak ketiga sebesar Rp 3.225 triliun, Jawa menguasai Rp 2.450 triliun atau 75,98%.

Belum lagi bila dilihat dari tingkat kebutuhan akan moda transportasi masyarakat yang tinggal di perkotaan. Mobilitas warga perkotaan di Jawa tampaknya masih mengandalkan sepeda motor. Sekadar ilustrasi, di Jakarta dan sekitarnya terdapat sekitar 12 juta sepeda motor, sedangkan jumlah mobil tak lebih dari tiga juta unit. Tak mengherankan bila kemudian terlihat bahwa pemanfaatan sepeda motor dari tahun ke tahun masih tergolong tinggi, sedangkan penggunaan angkutan umum seperti bus, kondisinya menampilkan hal yang berkebalikan.

Oh ya, pasar Jawa menyerap sekitar 62,47% dari total serbuan motor di Indonesia yang per akhir September 2014 mencapai 6,05 juta unit. Artinya, pada sembilan bulan 2014, Jawa diserbu sekitar nyaris 580 motor per jam. (edo rusyanto)

foto:dok ahm

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: