Lanjut ke konten

Perjuangan Mereka Bukan Tanpa Risiko

6 Oktober 2014

angkutan bak terbuka

NYARIS setiap dalam perjalanan pulang kerja di malam hari menjumpai kendaraan bak terbuka yang mengangkut orang. Tampaknya, mereka adalah pedagang ikan yang akan berjualan ke pasar seperti di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Mereka duduk berhimpitan di kendaraan bermotor bak terbuka bersama sejumlah barang dagangan.

Pemandangan serupa tapi tak sama juga sempat saya jumpai saat perjalanan menuju kantor. Kali ini jumlah penumpangnya tak sebanyak di kendaraan yang mengangkut pedagang ikan. Hanya tampak dua atau tiga orang dan mereka adalah pedagang sayuran. Tampaknya mereka baru saja berbelanja di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur yang terkenal sebagai pusat perdagangan sayuran dan buah-buahan terbesar di Jakarta.

Siang itu adegan kembali terlihat. Dua orang perempuan dewasa duduk di antara tumpukan belanjaan. Mereka duduk di bagian belakang kendaraan bak terbuka.

Jakarta memang penuh dengan peluang, sekaligus sejumlah tantangan. Perjuangan mereka yang mencari nafkah tersebut bukan tanpa risiko. Maklum, kendaraan bak terbuka sejatinya memang bukan untuk mengangkut penumpang. Kendaraan itu didesain untuk mengangkut barang. Tapi, lagi-lagi risiko diambil di tengah pilihan yang sedikit.

Eloknya, kendaraan angkutan barang dan angkutan penumpang dipisah. Hal itu tentu saja dengan tujuan untuk memangkas risiko terjadi insiden kecelakaan lalu lintas jalan. Maklum, sang jagal jalan raya lebih ramah kepada mereka yang mengumbar risiko. Ikhtiar mengurangi risiko dimulai lewat manajemen angkutan yang berbasis keselamatan jalan. Aspek keselamatan menjadi prioritas dibandingkan aspek lain seperti efisiensi biaya maupun waktu. Apalagi kita tahu bahwa nafkah yang dikumpulkan adalah untuk kehidupan yang lebih baik, bukan sebaliknya.

Peran pemangku kepentingan keselamatan jalan (stakeholder road safety) menjadi amat vital dalam menjaga keselamatan para pengguna jalan. Sekalipun, langkah awal dimulai dari diri sendiri, termasuk pihak korporasi penyelenggara angkutan. Lebih baik mencegah daripada mengobati. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 6 Oktober 2014 00:17

    suka merasa agak trenyuh kalau liat ibuk ibuk tua di bak truk… 😦

  2. 6 Oktober 2014 13:31

    iya nih ane juga sering pulang malem, dan kebetulan rumah anee deket kramat jati.

    mampir kesini ya http://bit.do/mampir-ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: