Lanjut ke konten

Fakta-fakta Seputar Urusan Parkir di Jakarta

4 Oktober 2014

parkir nih_1

ADA sebuah spanduk yang menggoda perhatian saya di sisi Jl Raya Kalibata, Jakarta Selatan, persisnya di depan Kalibata City, Jakarta Selatan. Spanduk yang baru saya lihat mulai September 2014 itu terpasang di pagar pembatas.

Sebuah tulisan besar berwarna merah, yakni PERINGATAN amat mencolok mata. Dalam spanduk itu juga tertera sanksi bagi pelanggar parkir berupa denda Rp 500 ribu per hari per kendaraan. Dan, ini yang lebih menarik, tertera lima logo dari lima instansi. Ada dari pemda, kepolisian, hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pantas saja suasana pinggir jalan di kawasan Kalibata City arah ke TMPN Kalibata, Jakarta Selatan cenderung lebih lengang memasuki penghujung September 2014. rupanya ada gerakan penertiban parkir liar. Biasanya, di kawasan ini berjajar aneka mobil yang parkir di pinggir jalan.

Nah, berangkat dari sana lahirlah tulisan ini.

Sejumlah fakta soal perparkiran kendaraan bermotor di Jakarta terus mencuat. Mulai dari soal pendapatan, teknologi pemungutan retribusi, penertiban, hingga gaji para juru parkir. Tentu saja yang paling baru adalah metode pemungutan biaya parkir yang menggunakan mesin dan uang elektronik.

Mari kita lihat fakta-fakta tersebut.

Pertama, jumlah kendaraan di Jakarta dan sekitarnya. Data Ditlantas Polda Metro Jaya menyebutkan, hingga akhir 2013 terdapat 16,1 juta kendaraan bermotor di Jakarta dan sekitarnya, di luar Bogor. Dari jumlah tersebut, sekitar 12,01 juta adalah sepeda motor dan 4,1 juta mobil. Inilah calon pengguna lahan parkir yang ada di Jakarta ketika mereka wira-wiri di Ibukota Republik Indonesia.

Kedua, target pendapatan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pada 2014 sebesar Rp 800 miliar. Target itu lebih besar dibandingkan target setahun sebelumnya yang sekitar Rp 260 miliar, sedangkan realisasi pada 2013 sekitar Rp 226,89 miliar atau 87% dari target. Khusus untuk 2014, hingga 23 September 2014 tercatat sudah masuk Rp 290,78 miliar.

Ketiga, potensi pendapatan parkir di badan jalan yang hilang per tahun mencapai Rp 200 miliar. Selama ini, pendapatan parkir sekitar Rp 300 miliar dari gedung-gedung dan Rp 26 miliar dari pendapatan parkir on the street.

Keempat, gaji juru parkir di DKI Jakarta bakal dua kali nilai upah minimum provinsi (UMP), yakni dari Rp 2,4 juta menjadi Rp 4,8 juta per bulan.

Kelima, penertiban parkir liar. Sejumlah cara dipakai Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta untuk menertibkan praktik parkir liar. Mulai dari mengempeskan ban kendaraan, cabut pentil, digembok, hingga derek dan sanksi maksimal, yakni Rp 500 ribu bagi pelanggar ketentuan parkir di jalan umum. Penertiban tidak semata dilakukan aparat Dishub, namun juga bersinergi dengan Kepolisian bahkan pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Keenam, teknologi pemungutan uang parkir. Memasuki September 2014, Dishub DKI Jakarta menerapkan parkir meteran, yakni dengan menyediakan mesin impor asal Swedia bagi warga yang hendak parkir. Pembayaran menggunakan uang koin Rp 500 dan Rp 1. 000. Tarif sekali parkir untuk motor Rp 2.000 per jam dan mobil Rp 5.000 per jam. Saat ujicoba di kawasan Jl Sabang, Jakarta Pusat pada awal Oktober 2014, pendapatan melonjak hingga 12 kali lipat, yakni dari Rp 500 ribu per hari dengan konvensional, menjadi Rp 6 juta dengan memakai meteran. Pemprov DKI Jakarta berencana memasang meteran parkir di seluruh Jakarta. Selain menggunakan koin, Pemprov DKI Jakarta juga berencana memakai sistem uang elektronik (e-money) dalam memungut tarif parkir.

parkir dan larangan denda 500 ribu_1

Ketujuh, uang elektronik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Badan usaha milik negara (BUMN), PT KAI menerapkan sistem uang elektronik (e-money) sejak awal Oktober 2014 untuk pembayaran parkir kendaraan bermotor di areal stasiun kereta. Tahap awal, diberlakukan di 23 stasiun KRL wilayah Jabodetabek. Kelak, di seluruh areal stasiun menerapkan sistem tersebut. Tahap awal, sistem yang dijalankan oleh anak usaha PT KAI, yakni PT Reska Multi Usaha (RMU) itu menggandeng empat bank, yaitu Flazz dari BCA, e-Money (Bank Mandiri), TopCash (BNI), dan Brizzi (BRI). Tarif parkir motor satu jam pertama Rp2.000, lalu satu jam berikutnya Rp1.000, dan batas maksimal Rp 6.000. Motor yang menginap dikenai Rp12.000 per sekali parkir. Sedangkan mobil Rp5.000 untuk satu jam per tama dan Rp 2.000 untuk satu jam berikutnya dengan maksimal parkir Rp12.000 per kendaraan. Mobil yang menginap berkisar Rp 20.000-24.000 per mobil.

Kedelapan, pihak lain penikmat parkir di Jakarta. Otoritas perparkiran di DKI Jakarta mengatakan ada pihak lain yang ikut menikmati perparkiran di Jakarta, seperti perusahaan swasta dan warga yang memungut secara ilegal. Pada 2012 total seluruh satuan ruang parkir (SRP) di Jakarta mencapai 12.550 titik, terdiri atas 2.072 off street dan 10.478 on street. SRP dikelola swasta sebanyak 305.050 (untuk mobil) dan 201.804 (untuk kendaraan roda dua). Pengelola parkir swasta di Jakarta sejauh ini ada 741 penyelenggara, 52 penyelenggara di antaranya menggratiskan parkir.

Kesembilan,
besaran tarif parkir di Jakarta. Berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 120 Tahun 2012 tarif parkir off-street berksiar Rp 3.000-5.000 per jam, semula Rp 1.000-2.000 per jam. Peraturan yang disahkan Gubernur Fauzi Bowo pada 19 September 2012 itu menyebutkan, tarif parkir mobil Rp 3.000-5.000 untuk satu jam pertama dan berkisar Rp 2.000-4.000 untuk setiap satu jam berikutnya. Tarif itu diluar besaran untuk truk dan bus. Sedangkan untuk sepeda motor berkisar Rp 1.000-2.000 per jam, untuk satu jam pertama sebesar Rp 2.000. (edo rusyanto)

Sumber: dari berbagai sumber.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: