Lanjut ke konten

Oh Begini Indeks Perlindungan Konsumen Otomotif

3 Oktober 2014

mobil ringsek

LAGI baca-baca media online suatu sore di penghujung September 2014, eh ketemu artikel soal Indeks Perlindungan Konsumen Otomotif 2014 alias Consumer Protection Index Automotive (CPIA) 2014 versi Indonesia. Penghargaan CPIA itu dikeluarkan oleh Markplus Inc, Korlantas Polri, dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), di Jakarta, Jumat, 27 September 2014.

Menurut Chief Executive MarkPlus Insight Taufik, indeks itu diukur berdasarkan penilaian terhadap upaya sosialisasi produsen otomotif atas enam dimensi keselamatan berkendara. Nah, keenam dimensi itu seperti dilansir laman Antara, mencakup keamanan kendaraan, gangguan berkendara, kondisi kendaraan, kecepatan mengemudi, batas muatan, dan pengaruh alkohol.

Keenam dimensi tadi dilihat pada tiga titik sentuh yaitu program komunikasi, penjelasan tenaga penjualan, serta penjelasan personil bengkel.

Oh ya, produsen mobil yang mendapat peringkat paling tinggi dalam CPIA 2014 terdiri atas Toyota dengan skor 80,65; Ford (76,73); Honda (75,71); dan Mazda (75,62). Keempatnya masuk dalam kategori gold.

Ada dua kategori lagi, yakni silver dan bronze. Mereka yang masuk kategori Silver adalah Kia (73,15), Daihatsu (72,75), Suzuki (72,34), dan Nissan (71,93). Lalu, yang mendapat kategori Bronze Chevrolet (68,68), Isuzu (68,28), dan Mitsubishi (67,48).

Indeks itu lahir dari hasil survey yang dilakukan terhadap pengemudi kendaraan bermotor di daerah Jabodetabek, Medan, Bandung, Surabaya, dan Makassar. Jumlah responden yang terlibat 450 responden yang dipilih dengan metode quota sampling pada rentang Juni-Juli 2014.

Enam Dimensi

Mari kita lihat keenam dimensi yang dijadikan indeks CPIA 2014. Keenamnya mencakup keamanan kendaraan, gangguan berkendara, kondisi kendaraan, kecepatan mengemudi, batas muatan, dan pengaruh alkohol. Aspek-aspek itu selaras dengan masalah keselamatan berlalu lintas jalan atau yang kondang disebut road safety.

Sebut saja misalnya dua aspek, yaitu kecepatan mengemudi dan pengaruh alkohol. Kita mahfum bahwa regulasi yang berlaku di Indonesia menetapkan batas kecepatan maksimal. Bila pengguna jalan melampaui batas kecepatan maksimal makin lebar celah terjadinya kecelakaan di jalan. Menurut catatan Korlantas Polri tahun 2013, aspek ngebut menyebabkan sekitar 36 kecelakaan setiap harinya. Aspek ini menyumbang sekitar 13% terhadap total kecelakaan tahun itu.

Mereka yang memacu kecepatan melampaui batas kecepatan maksimal di jalan raya umum kemungkinan mudah celaka karena kesulitan mengendalikan kendaraannya. Tingginya laju kendaraan membuat sang pengemudi sulit mengerem dengan baik ketika pada saat yang sama berpapasan dengan kendaraan lain, yang apalagi juga dalam kondisi kecepatan tinggi. Intinya, ngebut di jalan raya sama dengan maut.

Sedangkan aspek pengaruh alkohol bagi pengemudi bisa merusak konsentrasi. Saat konsentrasi mengemudi terganggu bisa dipastikan kemampuan mengantisipasi situasi juga menurun. Pada faktanya, kesulitan mengantisipasi situasi bisa membuka celah terjadinya kecelakaan kian melebar.

Data Korlantas Polri tahun 2013 memperlihatkan bahwa pengemudi yang terpengaruh alkohol masih menjadi salah satu pemicu terjadinya kecelakaan di jalan. Dalam catatan Kepolisian RI, setidaknya tiap hari terjadi tiga kasus kecelakaan yang dipicu aspek alkohol. Aspek ini menyumbang sekitar satu persen terhadap total kecelakaan di Indonesia.

Pada 2013, tiap hari terjadi sekitar 270-an kecelakaan. Ironisnya, kecelakaan tersebut merenggut 70-an jiwa setiap harinya. Itu belum lagi mereka yang menderita luka-luka, yakni mencapai 380-an orang per hari. Miris.
Balik lagi soal indeks CPIA 2014. Bila survey ini dilakukan setiap tahun semoga bisa mengingatkan para produsen otomotif untuk lebih peduli pada nasib para konsumennya. Konsumen yang sehat walafiat tentu menguntungkan bagi sang produsen. Kemungkinan, konsumen tadi kelak membeli kembali produk yang dibesut sang produsen.

Saya tidak tahu pertanyaan apa saja yang diberikan sang penyelenggara CPIA 2014 kepada para respondennya. Misalnya, apakah juga diberikan pertanyaan, “Menurut Anda, mobil jenis apa yang paling banyak terlibat dalam kecelakaan?”
Rasanya, kalau ada pertanyaan itu bakal lebih lengkap lagi indeks yang dikeluarkan. Barangkali.

Oh ya, kalau mengutip data Korlantas Polri, pada 2013, dari berbagai tipe kendaraan yang terlibat kecelakaan, di luar sepeda motor, minibus merupakan kontributor kedua terbesar. Setiap hari, ada 28 minibus yang terlibat kecelakaan dengan sumbangan sekitar 10% terhadap total kendaraan yang terlibat. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: