Lanjut ke konten

Unika Semarang Soroti Aturan Lalin

26 September 2014

rambu uu lalin bandung

Lima tahun pasca diterbitkannya regulasi Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) ternyata tidak mampu mengurangi tingginya angka kecelakaan lalu lintas jalan raya. Kecelakaan terus terjadi bertubi-tubi bagai enggan hengkang dari bumi Nusantara.

Untuk mengkaji hal tersebut, Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) Unika Soegijapranata, Semarang menggelar seminar bertema “Kesiapan pemerintah dalam Implementasi UU no 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas”

Menurut Algooth Putranto dosen FHK Unika sekaligus ketua penyelenggara seminar, Undang-Undang no. 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Jalan berikut Peraturan Pemerintah No 79 Tahun 2013 secara jelas memaparkan kewajiban pemerintah sebagai penanggung jawab lalu lintas, yang artinya terdapat jerat hukum penyelenggaraan jalan sesuai dengan kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah.

“Tanggung jawab tersebut memiliki implikasi gugatan hukum masyarakat pengguna jalan raya terhadap pemerintah pusat dan daerah sebagai penyelenggara jalan raya. Masyarakat dapat menggugat pemerintah sebagai penyelenggara jalan raya,” ujarnya, di Semarang, Kamis, 25 September 2014.

Acara yang digelar Senin 29 September mulai pukul 08.00 hingga 13.00 di Ruang Teater Gedung Thomas Aquinas mnenghadirkan sejumlah pembicara a.l. Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, Hari Sasono (Ketua Yayasan Astra Honda Motor), Edo Rusyanto, penulis buku ‘Menghapus Jejak Roda’ dan Ketua Umum Road Safety Association (RSA) Indonesia, Kombes Istu Hari, Direktur Lalu Lintas Polda Jateng dan Val. Suroto, Ahli Hukum Keperdataan FHK Unika Soegijapranata.

“Pertanyaannya apakah seluruh pihak telah sadar dengan regulasi tersebut? Kami mencoba menggali lebih dalam perihal diseminasi UU, kesiapan pemerintah menjalankan UU, meningkatkan perlindungan masyarakat terhadap keselamatan di jalan raya,” ujarnya.

Sejak UU Lalu Lintas diteken, lanjutnya, lalu lintas jalan raya merupakan salah satu pembunuh terutama generasi muda. Kelompok usia muda menjadi figur yang memilukan. Kelompok ini menjadi korban, sekaligus pemicu kecelakaan yang dominan.

Data Korlantas Polri membeberkan sekitar 41% korban kecelakaan lalu lintas jalan adalah rentang usia 16-30 tahun. Sedangkan sekitar 27% pemicu kecelakaan adalah kelompok usia yang sama.

Generasi muda menempati posisi dominan. Setidaknya 42% kasus kecelakaan dipicu oleh perilaku berkendara yang ugal-ugalan. Selebihnya perpaduan dari aspek manusia lainnya, seperti lengah dan ngantuk, serta faktor jalan, kendaraan, dan alam.

Sementara di Jawa Tengah, data Korlantas Polri selama periode 2012 dan 2013 menunjukkan kasus kecelakaan lalu lintas di Jateng secara konstan menempati nomor dua nasional.

Pada 2012, Jateng mencatat 63 kasus kecelakaan per hari dengan korban tewas sekitar 11 jiwa per hari. Provinsi berpenduduk sekitar 32 juta jiwa ini mencatat penurunan kasus kecelakaan hingga hampir 16% pada 2013. Namun jumlah korban yang tewas akibat kecelakaan justru meningkat sekitar 7% menjadi 12 orang per hari. (ed)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: