Lanjut ke konten

“Membeli” Masa Depan

25 September 2014

pesan laka_mentari pagi

PARA investor saham di lantai bursa selalu berkata bahwa saat membeli saham mereka membeli prospek. Sedangkan para pedagang polis asuransi kerap berseloroh apa yang dilakukannya adalah menjamin risiko.
Keduanya punya esensi yang sama, yakni “membeli” masa depan. Berikhtiar pada hari ini untuk esok hari yang lebih baik.
Nah, hal itulah yang mencuat saat berbincang dengan kolega saya, Tedy. Dalam perbincangan singkat, Rabu, 24 September 2014 siang terselip “membeli” masa depan tadi. Ceritanya begini.

Pria muda yang tinggal di Bandung itu bercerita tentang kiprahnya mengajak orang sadar berkendara yang aman dan selamat. Selain mengasah kemampuan berkendara yang mumpuni, juga menerapkan perilaku yang toleran dan mentaati aturan di jalan. Selain itu, ikhtiar juga dilengkapi dengan aspek lain. Salah satunya, melengkapi diri saat berkendara, khususnya bersepeda motor dengan pakaian yang aman, nyaman, dan selamat. Misalnya, jaket.

Ajakan tadi menjadi relevan dengan situasi saat ini. Indonesia masih harus bergulat dengan permasalahan kecelakaan lalu lintas jalan. Setiap hari tak kurang dari 200-an kasus kecelakaan. Baik itu antara sepeda motor dengan sepeda motor, atau sepeda motor dengan mobil. Mobil dengan mobil. Bahkan, antara kendaraan bermotor dengan pejalan kaki.
Duka di jalan raya masih menjadi catatan hitam Indonesia. Bagaimana tidak, dampak dari 200-an kasus kecelakaan tadi merenggut 70-an jiwa anak bangsa. Mereka bergelimpangan di permukaan aspal lantaran sang jagal jalan raya tak pernah tidur. Belum lagi ratusan orang harus menderita luka-luka hingga menderita catat tetap.

Saatnya kita harus bergerak. Menyuarakan pentingnya berlalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan selamat.
Segenap ikhtiar lewat berkendara yang aman dan selamat tadi mempunyai tujuan utama, yakni menjaga masa depan. Maksudnya, ketika hari ini berikhtiar dan terus berikhtiar agar terhindar dari petaka jalan raya, sang pengendara sudah berupaya “membeli” masa depannya. Ketika terhindar dari petaka di jalan raya, lalu sang pengendara bisa merajut kehidupan serta menggapai cita-cita, langkah “membeli” tadi menjadi strategis.

Betul bahwa kita tidak tahu apa yang terjadi esok hari. Tapi, kita juga percaya bahwa apa yang dilakukan hari ini mempengaruhi masa depan. Siapa menanam, dia akan menuai. Siapa yang ugal-ugalan di jalan, bisa menuai petaka jalan raya.

Oh ya, dari perbincangan singkat tadi kami sepakat berniat menggelar aksi nyata mengajak publik lebih peduli atas keselamatan dirinya dan orang lain saat berlalu lintas jalan. Aksi nyata kali ini bakal menyasar perguruan tinggi sebagai tempat para intelektual muda menempa diri. Lewat kampus pula diharapkan bisa menularkan gerakan perubahan atas mentalitas jalan pintas yang saat ini kerap dipertontonkan sebagian pengguna jalan. Indonesia butuh perubahan perilau berkendara, dari semula ugal-ugalan menjadi lebih toleran. Soal kapan dan bagaimana aksi nyata yang bakal digelar di Bandung itu tunggu saja perkembangannya. Semangat. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. Aa Ikhwan permalink
    25 September 2014 16:23

    sip eyang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: