Lanjut ke konten

Ini Fakta Faktor Jalan yang Bikin Kecelakaan

22 September 2014

jalan rusak dalam perbaikan jakarta

TERNYATA, jalan berlubang masih menjadi momok dalam kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Hal itu bila merujuk fakta yang ada bahwa 21,29% kecelakaan di dalam faktor jalan dipicu oleh kondisi jalan berlubang. Aspek ini merupakan pemicu terbanyak di dalam faktor jalan.

Data yang saya cukil dari Korlantas Polri untuk periode semester pertama 2014 juga memperlihatkan bahwa setiap hari terjadi tiga kecelakaan karena jalan berlubang. Bagi kita para pesepeda motor kondisi jalan berlubang merupakan situasi yang membahayakan. Bisa saja ketika sedang melaju menunggang kuda besi terperosok di dalam lubang. Atau, menghidar lubang lantas oleng dan dicium kendaraan dari arah belakang atau dari arah depan.

Jadi, jangan anggap enteng kondisi jalan yang berlubang. Para penanggung jawab jalan, seperti kementerian pekerjaan umum (Kemen PU dan dinas pekerjaan umum (Dinas PU) semestinya segera tanggap atas kondisi yang ada. Ini persoalan nasib pengguna jalan.

Nah, di dalam faktor jalan yang memicu kecelakaan, aspek kedua terbesar adalah kondisi jalan yang tidak berlampu. Aspek ini menyumbang sekitar 13,98% dari total kecelakaan yang dipicu faktor jalan. Angka ini setara dengan sekitar dua kasus kecelakaan per hari.

Bisa dibayangkan, jika jalan tidak berpenerangan plus kondisinya berlubang. Bisa-bisa nyungsep pesepeda motor yang kebetulan juga konsentrasinya menurun.

Sementara itu, tikungan tajam menjadi aspek ketiga terbesar di dalam faktor jalan. Setiap hari rata-rata ada dua kasus kccelakaan di tikungan tajam. Angka itu setara dengan 13,68% kecelakaan yang dipicu faktor jalan.

Sepanjang Januari-Juni 2014, tiap hari terjadi 15 kecelakaan yang dipicu oleh faktor jalan. Selain tiga aspek di atas, aspek lain di faktor jalan adalah jalan rusak, tidak berambu, dan jalan licin.

Dalam periode itu, faktor jalan berkontribusi sekitar 6% terhadap total kasus kecelakaan di Indonesia. Sekalipun demikian, bukan berarti para penyelenggara jalan bisa berpangku tangan. Mereka harus lebih serius dalam menyediakan jalan yang berkeselamatan. Terlebih pihak Dinas PU, semestinya lebih tanggap. Maklum, berdasarkan status jalan, mayoritas kecelakaan ada di jalan kabupaten, yakni 37,22% dan jalan provinsi yakni 28,71%. Selebihnya terjadi di jalan nasional (28%) dan jalan desa (6,19%).

Jalan kabupaten dan jalan provinsi menjadi kewenangan dinas pekerjaan umum. Tentu saja sesuai dengan tingkatannya, misal, jalan kabupaten yang bertanggung jawab tentu saja Dinas PU di kabupaten yang bersangkutan. Sedangkan jalan provinsi menjadi kewenangan Dinas PU di provinsi terkait.

Perlukah Digugat?

Para penyelenggara jalan yang bertanggung jawab atas kondisi jalan mesti lebih tanggap. Ketika ada jalan yang rusak atau berlubang semestinya bisa langsung memperbaiki. Tidak perlu menunggu ada class action, apalagi menunggu jatuhnya korban. Kewajiban para penanggung jawab sesungguhnya sudah amat jelas di dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

UU tersebut memberi ruang untuk meminta pertanggung jawaban para penyelenggara jalan bila infrastruktur jalan menyebabkan kecelakaan. Merujuk pada UU itu, sanksi yang diberikan kepada penyelenggara jalan berbeda-beda tergantung dari tingkat persoalan. Pasal 273 ayat satu hingga empat dalam UU tersebut secara berurutan mencantumkan sanksi sebagPertama, jalan rusak yang mengakibatkan kecelakaan, menimbulkan korban luka ringan, bisa menyeret penyelenggara jalan dipenjara maksimal enam bulan atau denda maks Rp 12 juta.

Tapi, kalau kecelakaannya bikin korban luka berat, penyelenggara jalan bisa dipidana maksimal satu tahun atau denda maksimal Rp 24 juta. Bikin korban tewas sanksinya maksimal lima tahun atau denda paling banyak Rp 120 juta.

Nah, penyelenggara jalan yang tidak memberi tanda atau rambu pada jalan yang rusak dan belum diperbaiki bisa dipidana penjara maksimal 6 bulan atau denda maksimal Rp 1,5 juta.

Para penyelenggara jalan mesti responsif. Ketika jalan yang memang kondisinya rusak sesegera mungkin diperbaiki. Jalan yang rusak dan berlubang tak semata bisa menimbulkan kecelakaan. Kondisi seperti itu membuat lalu lintas jalan menjadi tidak nyaman. Kemacetan lalu lintas jalan bisa terjadi dimana-mana. Kerugian ekonomi dan sosial bisa meledak. Antrean panjang akibat kemacetan bisa membawa dampak yang cukup luas.
Oh ya, para penyelenggara jalan terdiri atas kementerian pekerjaan umum, dinas perhubungan, hingga para penyelenggara pemerintahan desa. Di luar itu, khusus untuk jalan tol, para operator jalan bebas hambatan tersebutlah yang menjadi penyelenggara jalan.
Jangan tunggu anak negeri bergelimpangan, barulah jalan yang rusak diperbaiki. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 22 September 2014 00:09

    aku juga korban mbah 😦
    spakbor rompal.. velg peyang dll

  2. Aa Ikhwan permalink
    22 September 2014 06:30

    ngerii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: