Lanjut ke konten

Tabrak Lari Lebih Mematikan

19 September 2014

pesan laka tabrak lari

BERITA anak baru gede (ABG) yang ditabrak mobil hingga kritis menambah panjang daftar kasus tabrak lari. Dalam kasus yang terjadi di Ciputat, Jakarta Selatan, belum lama ini sang ABG mengendarai sepeda motor ditabrak dari belakang oleh minibus. Sang ABG terpental, lalu tertabrak sepeda motor.

Tabrak lari ternyata lebih mematikan dibandingkan kecelakaan lalu lintas jalan secara umum. Menurut data Korlantas Polri, sepanjang Januari-Juni 2014, sekitar 23% korban tabrak lari berujung pada kematian. Sedangkan kecelakaan secara umum merenggut sekitar 15% dari total korban yang ditimbulkannya.

Pada enam bulan 2014, ada 29 kasus tabrak lari yang terjadi setiap hari. Sekalipun angka itu menurun dibandingkan periode sama 2013, tetap saja amat mematikan bagi para korbannya. Oh ya, per akhir Juni 2014, kasus tabrak lari turun 12%, sedangkan korban meninggalnya anjlok sekitar 15%.
Mematikannya tabrak lari bisa dilihat dari jumlah korban yang direnggut. Pada enam bulan pertama 2014, setiap hari ada delapan jiwa yang tewas sia-sia akibat tabrak lari. Sedangkan total korban tabrak lari secara keseluruhan mencapai 36 orang per hari. Mereka ada yang meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan.

Bagaimana dengan di Jakarta?

Data Ditlantas Polda Metro Jaya meneybutkan menyebutkan, pada 2013, sekitar 11% korban kecelakaan tabrak lari berujung pada kematian. Fatalitas tersebut lebih buruk dibandingkan dengan korban kecelakaan secara keseluruhan pada 2013. Tahun itu, sekitar 8% korban kecelakaan berujung pada kematian.

Lantas, kenapa mereka yang terlibat kecelakaan melarikan diri?

Bila alasan kabur untuk menghindar dari tindakan anarkis masyarakat, seseorang yang diduga menjadi pelaku tabrakan semestinya meminta perlindungan kepolisian setempat. Setelah berhasil menghindar dari aksi anarkis yang bersangkutan bisa melapor ke kepolisian. Selain meminta perlindungan diri, sekaligus juga secara ksatria mempertanggungjawabkan tindakannya. Tokh, pembuktian bersalah atau tidak mesti melalui mekanisme pengadilan.

Seorang pelaku kecelakaan lalu lintas jalan yang melarikan diri meninggalkan korbannya bisa diganjar sanksi cukup berat.

Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) di pasal 312 menegaskan bahwa sanksinya bisa berupa pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta.

Pasal itu membidik pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kecelakaan lalu lintas kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia terdekat tanpa alasan.

Di bagian lain, kolega saya di kepolisian menyebutkan bahwa untuk kasus tabrak lari semestinya surat izin mengemudi (SIM) sang pelaku dicabut oleh Negara. SIM sebagai bukti kompetensi mengemudi diterbitkan oleh Negara melalui Kepolisian RI. Bila terbukti sang pemegang SIM membahayakan pengguna jalan yang lain, sudah layak SIM-nya dicabut. Terlebih, bila kasus tabrak lari yang melibatkan sang pemegang SIM menimbulkan korban jiwa.

Oh ya, jika dibandingkan dengan kecelakaan tunggal, ternyata kasus tabrak lari kalah mematikannya. Dalam kecelakaan tunggal, sekitar 24% korbannya berujung pada kematian. Tragis! (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. Aa Ikhwan permalink
    19 September 2014 14:20

    ngerii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: