Lanjut ke konten

Mayoritas Pelaku Kecelakaan Tidak Punya SIM

17 September 2014

laka bus sumedang 2012

PELAKU kecelakaan lalu lintas jalan ternyata mayoritas tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM). Walau, bukan berarti lantas pemilik SIM bisa tenang-tenang saja tidak memicu kecelakaan di jalan. Lengah sedikit saja, sang jagal jalan raya sudah siap menerkam.

Data Korlantas Polri menyebutkan bahwa pada semester pertama 2014, sebanyak 56,12% pelaku kecelakaan tidak memiliki SIM. Pada enam bulan pertama 2014 itu ada sekitar 44 ribu lebih pelaku kecelakaan. Bila dibandingkan periode sama 2013, jumlah mereka yang menjadi pelaku kecelakaan turun sekitar 10%.

Kecelakaan tampaknya masih belum mau beranjak dari bumi Nusantara. Pada enam bulan pertama 2014, rata-rata setiap harinya ada 246 kasus kecelakaan di jalan. Angka itu memang turun sekitar 10% bila dibandingkan dengan periode sama 2013. Namun, kasus kecelakaan semester pertama 2014 menyebabkan lebih dari 73 ribu orang menderita. Ironisnya, sekitar 15% dari korban tersebut harus menemui ajal.

Kembali soal SIM. Pada rentang Januari-Juni 2014, pengendara yang tidak memiliki SIM memicu 138 kasus kecelakaan per hari. Tentu bukan persoalan sepele.

Lantas, kenapa pengendara belum memiliki SIM?

Jawabannya pasti beragam. Sekadar menduga-duga saja. Pertama, mereka adalah pengendara di bawah umur. Fakta memperlihatkan bahwa sekitar 2% pelaku kecelakaan adalah mereka yang berusia di bawah 15 tahun. Kedua, belum sempat mengurus SIM ke kantor polisi, atau belum punya biaya dan kelengkapan administrasi untuk mengurusnya. Dan, ketiga, sudah mengurus namun belum lulus sehingga harus mengulang.

Ketiga hal itu baru sekadar dugaan. Boleh jadi ada alasan lain kenapa orang tidak memiliki SIM.

Lalu, kenapa seseorang yang tidak memiliki SIM bisa wira-wiri di jalan raya?

Lagi-lagi, sekadar dugaan. Pertama, karena perilaku permisif. Kelompok yang ini misalnya, para orang tua membiarkan anak di bawah umurnya berkendara dengan dalih hanya jarak dekat. Atau, berdalih sang anak sudah mampu berkendara. Perilaku permisif juga berlaku tidak hanya pada kelompok usia di bawah umur. Bisa jadi mereka yang sudah dewasa dibiarkan berkendara walau tidak punya SIM karena dianggap sudah mampu mengendarai kendaraan bermotor.

Kedua, memaksakan diri. Maksudnya, nekat berkendara karena menganggap dirinya sudah mampu dan tidak ditindak oleh petugas. Atau, sekalipun ditindak bakal bisa diselesaikan dengan cara damai. Memilukan.
Ketiga, terpaksa. Nah yang ini barangkali lebih tepatnya memaksakan diri. Tahu bahwa dirinya belum punya SIM, namun memaksakan diri mengemudi karena beragam alasan.

Apa pun alasannya, berkendara tidak memiliki SIM sungguh berisiko. Setidaknya dari sisi regulasi. Maksudnya, aturan yang berlaku saat ini menegaskan bahwa pengemudi yang tidak memiliki SIM bisa dikenai sanksi pidana atau sanksi denda. Di dalam UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) disebutkan bahwa sanksi denda maksimalnya Rp 1 juta. Sedangkan sanksi pidana penjara maksimalnya empat bulan.

Oh ya, pelaku kedua terbesar dari jenis SIM, ternyata adalah kelompok para pemilik SIM C alias para pengendara sepeda motor. Bila mereka yang tidak memiliki SIM menyumbang 56,12%, kelompok pemegang SIM C menyumbang sebanyak 23,69%. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 17 September 2014 00:27

    ilegal = tidak bisa menuntut apa2 ke dinas terkait

  2. 21 Desember 2014 09:13

    Pantesan aja kalo gitu,eyang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: