Lanjut ke konten

Jangan Tiru Yang Keliru (Lagi)

3 September 2014

Jangan Tiru Yang keliru_25_kopcau_1

SUASANA kedai roti bakar itu kian ramai. Para tamu datang silih berganti. Kian malam, justru tamu yang datang kian ramai. Barangkali karena malam akhir pekan sehingga banyak warga Jakarta yang merelaksasi dirinya dengan berkongkow ria.
Di tiap meja yang ada masing-masing kelompok asyik bersenda gurau. Sambil menikmati kudapan roti bakar dan pisang bakar dengan ditemani coklat panas dan teh manis hangat membuat suasan menjadi lebih hangat. Sesekali terdengar gelak tawa. Semua seperti ingin melepaskan rasa penat setelah sepanjang pekan bergulat dengan rutinitas, termasuk menyumbang kemacetan lalu lintas jalan Jakarta.

Mereka yang tampak asyik mahsyuk dengan perbincangan adalah di meja yang saya tempati.Di meja ini tampak sejumlah para anggota Komunitas Kopdar Pengicau (Kopcau) asyik mengulas beragam masalah keselamatan di jalan (road safety). Komunitas yang dikenal dengan poster digital-nya ini asyik berbincang sambil menikmati kudapan khas Roti Bakar Eddy, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Topik perbincangan pun mengerucut pada perilaku meniru yang kerap terjadi di jalan raya. Maksudnya, ketika ada satu pengendara yang menerobos lampu merah, maka bakal ada yang mengekor. Sang pengekor ikutan menerobos lampu merah.
Para peniru itu barangkali beranggapan bahwa jika beramai-ramai tidak akan ditindak oleh petugas. Atau, bila beramai-ramai melanggar aturan maka sang petugas akan kebingungan untuk menindak yang mana. Tak heran jika kita melihat puluhan pengendara yang ramai-ramai merangsek garis setop, zebra cross, jalur busway, hingga melawan arus.
Perbincangan Kopcau pun mencuatkan fakta lain, yakni bagaimana jika petugas yang justru melanggar aturan. Munculah pertanyaan akankah perilaku keliru itu akan ditiru oleh pengguna jalan yang lainnya?

“Bisa jadi karena menjadi pembenaran bahwa petugas aja melanggar,” sergah Yudi, salah seorang anggota Kopcau yang tinggal di Bogor, Jawa Barat.

Pembenaran atas kekeliruan menjadi wabah yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan berlalu lintas jalan. Bahkan, bukan mustahil menyulut insiden di jalan. Entah itu gesekan horizontal maupun insiden kecelakaan lalu lintas jalan. Ketika egoisme dan mentalitas jalan pintas menjadi panglima, rasa patuh pada aturan menjadi kian terkikis. Ketika ada oknum petugas yang mempertontonkan perilaku keliru, ketika itulah buru-buru para peniru membuat pembenaran.

Melihat gejala seperti itu akhirnya Kopcau merilis poster digital dengan topic “Jangan tiru yang keliru”. Lewat poster itu ajakan untuk berlalu lintas jalan yang aman dan selamat digaungkan oleh komunitas yang berdiri pada 26 Desember 2012 itu. Komunitas ini berharap lalu lintas jalan menjadi lebih humanis. Sebuah lalu lintas jalan yang minim fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan. Kita semua sudah tahu bahwa tiap hari, Indonesia harus kehilangan 70-an anak bangsanya akibat keganasan kecelakaan di jalan. Yuk, jangan tiru yang keliru. (edo rusyanto)

5 Komentar leave one →
  1. 3 September 2014 00:33

    setuju mbah, berjuang

  2. 3 September 2014 05:38

    Ijin di share posternya kalo berkenan

  3. 3 September 2014 08:15

    Berani benar walaupun sendirian… yeeee

  4. 5 September 2014 15:07

    Setuju mas bro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: