Lanjut ke konten

Mereka Tak Ingin Tabrakan!

10 Agustus 2014

edo di ahmt agus 2014_resize

SUARA mereka serempak. “Tidak mau tabrakan di jalan!”

Ya. Nyaris seluruh dari tiga puluhan anggota kelompok pesepeda motor yang hadir di dalam ruangan menjawab serempak saat saya tanya, “Apakah ingin tabrakan di jalan?”

Itulah interaksi awal saat saya bertemu dengan para anggota Asosiasi Honda Motor Tangerang (AHMT) di Jatake, Tangerang, Banten, Sabtu, 9 Agustus 2014 sore. Kami bersua di ruangan yang cukup nyaman di lantai dua kawasan gudang sepeda motor milik PT Wahana Makmur Sejati, di Jatake. Kehadiran saya atas undangan kolega saya di distributor sepeda motor nomor tiga terbesar di kelompok PT Astra Honda Motor itu.

Pertanyaan sederhana di atas saya lontarkan untuk mengantar ajang berbagi dengan asosiasi yang berdiri sejak lima tahun lalu itu. Sebuah pertanyaan yang bisa mengungkapkan naluri dasar kita sebagai manusia untuk terbebas dari kesengsaraan dan petaka, khususnya di jalan raya. Kita semua tahu, sang jagal jalan raya bertubi-tubi mencabik-cabik Indonesia. Tahun 2013, setidaknya 72 jiwa melayang sia-sia setiap hari lantaran kecelakaan lalu lintas jalan. Khusus untuk wilayah Banten, data Korlantas Polri menyebutkan, setiap hari dua nyawa melayang. Secara nasional, para penunggang kuda besi merupakan kelompok yang paling banyak meradang lantaran pemicu kematian terbesar di luar faktor penyakit tersebut.

Pertemuan dengan AHMT yang memiliki 22 anggota klub sepeda motor di kawasan Tangerang kali ini merupakan satu lagi kesempatan saya bisa menyambangi anggota penunggang kuda besi di kawasan Tangerang. Beberapa anggota asosiasi yang hadir tampak dari klub BRICT, HCST, HVIC, HSFI, TSC, Bhatic, VRCI, dan HVC-T. Mereka hadir dalam rangka halal bi halal sekaligus berbagi seputar masalah keselamatan jalan (road safety). “Kali ini kami mengundang bro Edo Rusyanto untuk kita sharing mengenai safety riding, selain berhalal bi halal,” sergah bro Wiyarto ‘Sakti’ Mulyono, group Head of Corporate Communication PT Wahana Makmur Sejati, selaku pengayom AHMT, saat membuka ajang yang bertajuk ‘Dealers Café’ besutan Wahana.

ahmt 2014 bareng_resize

Mengingat masih suasana Lebaran, sempat saya singgung mengenai fenomena musim mudik. Tentu saja termasuk dinamisnya lalu lintas angkutan jalan. Tahun 2014, sang petaka jalan raya masih mewarnai arus mudik. Sekalipun kecelakaan lalu lintas jalan menurun dibandingkan tahun 2013, korban tewas masih cukup tinggi, yakni 42 jiwa per hari. Angka itu turun sekitar 18% jika dibandingkan setahun sebelumnya.

Saat berinteraksi, para anggota AHMT melontarkan sejumlah pengalaman dan pertanyaan. Bro Imam dan bro Eko, misalnya. Mereka menceritakan pengalaman terlibat kecelakaan saat menunggang kuda besi. Ada yang mengaku terjebak insiden lantaran menghindari mobil yang mengerem mendadak dan terpuruk lantaran bantalan rel saat mendahului mobil. Intinya, kecelakaan bisa hadir kapan saja.

buku dan ahmt 2014_resize

Lontaran pertanyaan berkutat pada bagaimana mengetahui kadaluarsa helm pelindung kepala dan penggunaan alat pelindung diri saat bersepeda motor. Selain itu, masalah kecelakaan dan hukum, serta penggunaan sirine strobo.
Terkait masalah helm, saya kemukakan pentingnya memakai helm saat bersepeda motor. Badan Kesehatan Dunia (WHO) melansir bahwa 90% korban tewas di kalangan pesepeda motor yang terlibat kecelakaan, dipicu oleh luka di kepala. Melihat hal itu, pemakaian helm merupakan bagian dari upaya memperkecil risiko. Sedangkan terkait kadaluarsa helm, kolega saya yang hadir dalam ajang kali ini, yaitu bro Ivan mengatakan, silakan lihat di kode tahun produksi helm. “Biasanya ada di bagian dalam helm,” katanya.

Bro Ivan yang merupakan kepala divisi kegiatan Road Safety Association (RSA) Indonesia juga menegaskan bahwa pemakaian sirbo sudah diatur oleh Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Intinya, jangan sampai salah kaprah, kelompok yang tidak berhak justru memakainya dengan beragam dalih. Padahal, sudah jelas yang berhak memakai bunyi-bunyian dan cahaya khusus itu antara lain, polisi, militer, pemadam kebakaran, ambulans, truk kontainer, dan pemberi bantuan bencana.

“Soal APD adalah upaya untuk ikhtiar,” tambah bro Ivan.

buku dan wahana sakti 2014_resize

Sementara itu, terkait dengan masalah kecelakaan lalu lintas dan dampak hukumnya, jelas-jelas diatur oleh UU yang sama. Pihak yang terjebak kasus kecelakaan sebaiknya melibatkan penegak hukum untuk menentukan siapa salah dan benar. Perundangan yang ada memungkinkan untuk memastikan siapa yang menjadi pemicu dan siapa korban. Segudang sanksi sudah tersedia bagi pelaku kecelakaan. Mulai dari pidana penjara hingga membayar sejumlah denda uang. Masalahnya, kita semua tahu, tinggal bagaimana penegakan hukum yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Maklum, jika pandang bulu maka yang menang mereka yang berbulu banyak. Tuh kan.

Tiga dari penanya mendapat merchandise dari pihak Wahana, sedangkan saya memberikan dua buku “Menghapus Jejak Roda” yang diterbitkan tahun 2014 kepada Ketua AHMT bro Iwan dan bro Sakti dari Wahana. Ajang berbagi yang berlangsung penuh kekeluargaan itu terasa singkat, padahal sudah bergulir sekitar dua jam. Sebelum kembali ke Jakarta, kami sempat berpose bersama sebagai kenang-kenangan. Terimakasih teman-teman AHMT, bro Sigit, bro Sakti, dan sist Adin atas ajakannya untuk berbagi. Terus bergerak untuk saling mencerahkan. Sekalipun kecil, lebih berfaedah daripada diam apalagi berpangku tangan. Semangat. (edo rusyanto)

edo ivan dan sigit jatake 2014_resize

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: