Lanjut ke konten

Sampai Kapan Motor Sebagai Alternatif?

9 Agustus 2014

motor dan kopaja jakarta

SEORANG rekan bercerita bahwa sepeda motor memangkas waktu tempuhnya. Maksud dia, dengan menunggang sepeda motor dia butuh sekitar satu jam untuk berangkat kerja ke kantor. Sedangkan dengan menggunakan mobil pribadi sekitar 2,5 jam. Jarak kantor dengan rumahnya sekitar 38 kilometer.

“Sepeda motor memangkas waktu tempuh. Tapi, risikonya cukup tinggi,” sergah pria yang tinggal di pinggiran Jakarta itu suatu senja saat berbincang dengan saya.

Problem transportasi seperti diutarakan Budiantho, sebut saja begitu, cukup banyak dialami masyarakat yang beraktifitas di Jakarta. Mereka yang tinggal di kota satelit Jakarta, seperti di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi lalu bekerja di Jakarta, pasti banyak yang mengalami rutinitas seperti Budhianto.

Problem di atas terjadi seiring pertumbuhan Jakarta dan kota-kota di sekitarnya. Doktor Bambang Susantono menyebutkan, populasi penduduk Jabodetabek bertumbuh pesat. Pada 1970, kawasan itu berpenduduk 8,4 juta jiwa, membengkak menjadi 28 jutaan jiwa pada 2010. Bahkan, koran Investor Daily yang terbit di Jakarta pada edisi 2 Agustus 2014 menyebutkan, tingginya urbanisasi mendongkrak penduduk Jadebotabek menembus 30 juta pada 2014. Sekitar 10 juta berdiam di Jakarta dan sisanya, 20 juta, di Debotabek. Agar infrastruktur Ibu Kota mampu menunjang kehidupan warga – mengurangi kemacetan, banjir, serta menyediakan cukup air bersih dan kerapian kota – konsep megapolitan yang pernah digagas pada masa lalu perlu segera direalisasikan. Inilah metropolitan terbesar di Asia.

Doktor Bambang Susantono dalam bukunya Manajemen Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (2012) menyebutkan, pertumbuhan ekonomi telah meningkatkan jumlah perjalanan di wilayah Jabodetabek karena jumlah perjalanan per kapita (average number of trips per capita) bertumbuh positif seiring meningkatnya pendapatan. Sebagai ilustrasi, rumah tangga di DKI Jakarta dengan pendapatan Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta per bulan, melakukan 1,87 perjalanan harian per kapita. Sedangkan rumah tangga dengan pendapatan antara Rp 2-3 juta melakukan 2,21 perjalanan harian per kapita.

Jumlah penduduk yang tinggal di daerah suburban Jakarta naik sebesar 50% dalam rentang 2002-2010. Buntutnya, terjadi peningkatan jumlah perjalanan dari wilayah Bodetabek memasuki DKI Jakarta yang cukup signifikan dalam 8 tahun terakhir.

Berdasarkan studi Jakarta Urban Transport Policy Integration (JUTPI), pergerakan komuter dari wilayah Bodetabek pada 2002 adalah sebesar 743 ribu orang per hari. Sedangkan pada 2010, jumlah pergerakan komuter sebanyak 1,1 juta orang per hari atau meningkat sebesar 1,5 kali lipat. Pada periode yang sama, jarak perjalanan komuter meningkat sebesar 43%, yakni dari 6,7 km menjadi 9,6 km. Pergerakan komuter tersebut terbagi atas 54,1% pengguna sepeda motor, 24,2% mobil pribadi, dan 14,5% bus. Hanya 6,3% saja komuter yang memanfaatkan moda kereta api (KA).
Nah, di tengah itu semua, sepeda motor menjadi alternatif transportasi. Si kuda besi ini dianggap lebih mangkus dan sangkil dibandingkan jenis angkutan lain. Sepeda motor bisa point to point.

Bagi pemain bisnis sepeda motor kondisi ini tentu saja amat menguntungkan usahanya. Seorang eksekutif di perusahaan penjual sepeda motor mengaku mampu menjual sedikitnya 30 ribu sepeda motor setiap bulannya di wilayah Jakarta.

Tak heran jika pada 2013, dari total kendaraan di wilayah Polda Metro Jaya yang mencapai sekitar 16 juta uni, sebanyak 12,01 juta unit adalah sepeda motor. Artinya, jumlah sepeda motor mencapai 74,54% dari total kendaraan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Oh ya, jumlah mobil atau kendaraan roda empat atau lebih sebanyak 4,1 juta unit atau 25,46% dari total kendaraan.

Pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta dalam tiga tahun terakhir rata-rata per tahunnya mencapai 11,26%. Sedangkan pertumbuhan jalan hanya sekitar 0,01% per tahun. Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto pernah mengatakan bahwa panjang jalan di DKI Jakarta 7.208 kilometer (Km), padahal kebutuhannya sekitar 12 ribu km. Artinya, panjang jalan yang ada baru memenuhi 60% dari total kebutuhan. Kalau begitu, tak heran jika setiap hari Jakarta mempertontonkan kemacetan lalu lintas jalan.
Pertanyaannya, sampai kapan sepeda motor sebagai alat transportasi? Akankah angkutan umum mampu memfasilitasi pergerakan masyarakat secara keseluruhan? Entah kapan. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 10 Agustus 2014 11:10

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: