Lanjut ke konten

Menyeberang Jalan Sambil Menelepon

8 Agustus 2014

penyeberangan tombol

KEJADIANNYA persis di depan mata saya. Seorang pria muda dengan nyantainya menyeberang jalan raya sambil menelepon. Nyaris terjadi insiden.

“Goblok lu! Nyebrang yang benar dong!” Teriak seorang penunggang sepeda motor, suatu siang pada awal Agustus 2014, di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Sang peneriak kembali melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya terpaksa mengerem mendadak. Sedangkan yang diteriakin tetap nyantai aja menyeberang jalan. Tak ada rasa bersalah, apalagi permintaan maaf. Sudah demikian bebalkah mental pengguna jalan kita?

Ya. Adegan seorang pejalan kaki yang menyeberang jalan sambil menelpon dengan telepon seluler (ponsel) nya kerap saya jumpai di Jakarta. Hanya kali ini agak berbeda. Akibat ulah sang pejalan kaki tersebut hampir saja terjadi insiden dan memprovokasi pesepeda motor untuk tarik urat leher. Entah apa yang ada di benak sang penyeberang jalan tersebut.

Risiko terjebak kecelakaan lalu lintas jalan sesungguhnya sudah di depan mata. Manakala sang pengendara sepeda motor tidak mengerem, entah petaka apa yang bakal terjadi. Barangkali bisa menjadi instrospeksi bagi kita semua bahwa perilaku menelpon sambil berjalan, apalagi sambil menyeberang jalan, bisa berdampak fatal. Alih-alih ingin tak lepas berkomunikasi, bisa berujung terkapar di atas aspal.

Risiko yang dipikul para pedestrian di Jakarta dan sekitarnya sudah cukup tinggi. Bisa lebih tinggi lagi jika perilaku menelepon sambil menyeberang jalan tetap dipertahankan. Sekadar menyegarkan ingatan kita, data Ditlantas Polda Metro Jaya menyebutkan bahwa pada 2013, setiap empat hari ada satu pedestrian yang tewas akibat kecelakaan di jalan.

Dari keseluruhan korban tewas akibat kecelakaan tahun 2013 di Jakarta, sebanyak 11,68% adalah para pedestrian.

Ya. Rentannya pedestrian sebagai korban kecelakaan lalu lintas jalan bukan hanya persoalan Indonesia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’, menyebutkan bahwa hampir seluruh dunia punya problem soal pedestrian. Rentannya pedestrian terlihat dari laporan tersebut, yakni sebanyak 22% dari 1,24 juta korban tewas akibat kecelakaan adalah para pedestrian. Artinya, tiap hari 747 pedestrian tewas, atau sekitar 31 orang per jam.
WHO bilang, berkendara ngebut dinilai meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan dan parahnya dampak kecelakaan terhadap pedestrian. Mesti dilengkapi menjadi, bakal lebih parah jika pedestrian asyik menelepon sambil menyeberang jalan. Duh. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: