Lanjut ke konten

Namanya Juga SOTR

21 Juli 2014

sotroc-riding-malam-bayu

AKRONIM yang satu ini cukup populer belakangan ini. Lihat saja di lini masanya twitter atau jejaring media sosial lainnya. Kita dapat dengan mudah menemui akronim SOTR yang merupakan kependekan dari sahur on the road.

Secara harfiah, SOTR bermakna sahur di jalan raya. Kalau merunut ke belakangan ternyata aktifitas itu bermula dari niat baik berbagi dengan sesama yang kurang mampu di jalan raya. Dalam hal ini berbagi makanan sahur dengan mereka yang kurang beruntung dan ditemui di jalan raya.

Beberapa tahun terakhir, mulai terjadi aktifitas yang lebih bervariasi. Para penyelenggara SOTR tak semata berkeliling kota dan membagikan makanan kepada warga yang dijumpai di jalan raya. Kegiatan dilakukan di tempat tertentu, seperti di panti asuhan atau tempat lain yang dianggap tepat. Pola seperti ini memecah iring-iringan kendaraan bermotor yang ikut kegiatan sehingga tidak menciptakan barisan super panjang.

Sekalipun begitu, tetap saja kita masih menjumpai iring-iringan kendaraan bermotor yang ingin melakukan SOTR. Di kota tempat saya tinggal, di Jakarta, iring-iringan seperti itu mudah dijumpai pada waktu memasuki tengah malam menjelang dinihari. Iring-iringan kendaraan tersebut mayoritas dari kalangan sepeda motor.

Cerita menjadi berbeda ketika iring-iringan kendaraan bermotor itu dianggap mengusik pengguna jalan yang lainnya. Misalnya, supaya tidak terputus, peserta iring-iringan menutup jalan dari arah lain. Praktis pengguna jalan lainnya merasa terganggu. Atau, antrean kendaraan yang mengular dan parkir di sembarang tempat. Ada juga keluhan soal nyaringnya bunyi-bunyian yang dikeluarkan oleh iring-iringan tersebut.

Saya termasuk yang percaya bahwa niat baik, jika dilakukan dengan tidak baik, hasilnya bisa tidak baik. Karena itu, bila arogansi begitu kental saat berkendara beramai-ramai, esensi SOTR bisa melemah. Lazimnya niat baik, ia akan memberi pesan kedamaian bagi pihak yang lain, bukan kebalikannya, menciptakan kecemasan dan kesan mencekam.

Persoalan lain bisa jadi sudah siap mengintai, yakni kecelakaan lalu lintas jalan. Memang bisa ditekan peluangnya, karena itu jurus andalan soal ini ada pada manajemen lalu lintas berkelompok. Artinya, kelompok yang menggelar SOTR bisa serapih mungkin mengatur agar iring-iringan kendaraannya tidak mengusik pengguna jalan yang lain. Memecah jumlah kendaraan sehingga tidak mengular merupakan jurus jitu. Tentu saja diikuti oleh aspek pendukung, seperti mengerem perilaku arogan dengan menutup jalan. Semua ada porsinya, semua memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Disinilah peran pemimpin atau ketua rombongan menegaskan kepada anggota rombongannya bahwa keselamatan dan kenyamanan bagi semua merupakan prioritas. Perlu kita cermati menebar kedamaian dengan melabrak aturan bak menanam palawija dengan pupuk kedengkian. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: