Lanjut ke konten

Buru-buru Nyalain Ponsel di Pesawat

7 Juli 2014

nelpon dilarang di pesawat udara

BANYAK kejadian lucu yang saya lihat saat naik pesawat terbang pada awal tahun 1990-an. Ada yang gak tahu cara melapor ulang ke bagian tiket maskapai (boarding), kesulitan memakai sabuk pengaman, hingga kebingungan memakai toilet.

Memasuki tahun 2000, tren perilaku penumpang pesawat udara diramaikan oleh kebiasaan lain, yakni masih banyaknya penumpang yang berponsel ria sekalipun pesawat mau terbang. Bahkan, ketika pesawat baru saja menjejakan rodanya di permukaan landasan bandara, banyak penumpang yang sibuk menghidupkan ponsel. Entah ada yang sekadar membaca pesan tertulis, menjawab pesan tertulis, hingga yang sibuk menelepon.

“Memang pas pesawat mendarat, bawaannya pengen ngidupin ponsel. Padahal gak penting, cuma gak sabaran aja,” ujar seorang eksekutif muda saat berbiincang dengan saya di Bandara Changi, Singapura, beberapa waktu lalu.

Dia mengaku, pernah melakukan hal itu saat pesawat baru saja menjejakan roda di landasan.

“Saya langsung ngidupin ponsel buat ngecek pesan-pesan yang masuk, kadang juga buat ngasih tahu yang jemput bahwa saya sudah mendarat,” kata seorang perempuan muda saat berbincang dengan saya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten belum lama ini.

Sanksi Denda

Setiap pesawat hendak mengudara para pramugari sibuk menjelaskan tentang pemakaian pelampung, kantong oksigen, hingga menjelaskan tentang tidak diperkenankannya memakai menghidupkan ponsel. Sinyal dari ponsel dianggap bisa mengganggu alat-alat navigasi yang ada di ruang pilot. Dampaknya, penerbangan bisa terganggu.

Begitu juga ketika pesawat mendarat. Peringatan dari para awak kabin tentang larangan menghidupkan ponsel di dalam pesawat kembali diingatkan. Para penumpang diminta menghidupkan ponsel ketika sudah memasuki terminal bandara.

Kesemua itu bagian dari standar operasional penerbangan. Tentu dengan tujuan untuk menjamin penerbangan menjadi lebih aman, nyaman, dan selamat. Para pramugari yang menyampaikan pesan itu selalu menyebutkan bahwa larangan berponsel bagian dari ketentuan penerbangan internasional seperti diatur oleh Federal Aviation Administration (FAA).

Di Indonesia, kita mengenal Undang Undang (UU) No 1 tahun 2009 tentang Penerbangan. Di dalam pasal 54 huruf (f) ditegaskan bahwa setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan dilarang melakukan, pengoperasian peralatan elektronika yang mengganggu navigasi penerbangan. Sanksi bagi para pelanggar aturan itu tertuang di dalam pasal 412, ayat (5) yakni bahwa setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan mengoperasikan peralatan elektronika yang mengganggu navigasi  penerbangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 54 huruf (f) dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp 200 juta.

Di sisi lain, merujuk pada UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, khususnya di pasal 33, ayat (2) ditegaskan bahwa penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit harus sesuai dengan peruntukannya dan tidak saling mengganggu. Dalam UU yang sama, yakni pada pasal 38 disebutkan bahwa setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan gangguan fisik dan elektromagnetik terhadap penyelenggaraan telekomunikasi. Makna penyelenggaraan telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan pelayanan telekomunikasi sehingga memungkinkan terselenggaranya telekomunikasi.

Situs majalahict menyebutkan, pelanggaran terhadap ketentuan ini telah diatur dalam UU Telekomunikasi dan juga PP No. 53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit. Dengan demikian, kata situs itu, komunikasi yang dimaksud dalam konteks ini adalah komunikasi navigasi udara yang dipergunakan dalam penerbangan udara.

Namun, di sisi lain, saya juga pernah mendengar soal maskapai yang menyediakan layanan menelepon di pesawat udara. Artinya, secara teknologi sesungguhnya bisa saja menelepon, asal tidak mengganggu navigasi pesawat yang bersangkutan. Mesti belajar nih soal teknologinya. (edo rusyanto)

6 Komentar leave one →
  1. 7 Juli 2014 05:30

    Duh aku belum pernah naek pesawat ne….

    Yang mau mudik monggo dibaca tips mudik ne http://mashuda.readthisstory.net/id-2038546

  2. 7 Juli 2014 14:04

    hehe… kocak banget.. sama berarti dalam hal menghidupkan hp saat landing hehe

  3. 12 Juli 2014 16:37

    iya..bener gan..namanya perkembangan zaman

  4. ucup permalink
    13 Juli 2014 15:51

    sangat berlebihan jika menganggap lucu orang yg bingung waktu pake toilet atau boarding, dll, seolah-olah menganggap orang lain udik, sedang saya orang modern udah biasa naik pesawat. sama usilnya sama mengurusi orang yg nyalain hp waktu pesawat sudah mendarat. larangannya adalah menyalakan selama penerbangan, jd setelah mendarat, tentu boleh, bahkan tidak pernah dilarang. tapi mungkin si penulis lebih sering naik pesawat dibanding saya yg udik ini. orang buru2 nyalain hp mungkin karena mau buru2 mengabarkn ke keluarga bahwa dia sudah sampe dgn selamat, atau minta segera dijemput, tau yg lain, saya nggak pernah nanya juga, usil amat, toh tidak dilarang dan gak berbahaya. jadi patuhi aja undang2nya, tp gak perlu usil kl gak melanggar. anda akan menertawakan diri anda sendiri kalo membaca artikel ini. m.kompasiana.com/post/read/567486/2/rahasia-larangan-menghidupkan-hp-di-pesawat.html

    • qadri arief permalink
      20 Juni 2018 06:24

      Ia kah..
      Sebelum pesawat bergerak ke landasan untuk take off dan waktu pesawat berjalan menuju apron setelah mendarat, pilot tetap berkomunikasi dengan menara kontrol. Alasan yang lain yang perlu dikemukakan adalah dalam kabin yang tertutup dengan padat dan simpang siurnya gelombang elektromagetik yang digunakan oleh komputer dan peralatan pesawat, sekian banyak HP penumpang yang dihidupkan dan dipakai untuk mengirim dan menerima SMS serta untuk bertelepon mengkibatkan semakin banyak gelombang elektromagnetik dapat terjebak dalam tubuh pesawat yang tertutup. Karena, gelombang elektromagnetik dapat terjebak dalam ruang tertutup yang penuh dengan logam, baik logam dalam pesawat dan logam yang ada dalam koper dan tas penumpang dan kargo. Gelombang yang terjebak ini mudah menyebabkan HP atau pesawat meledak. Karena itu, para peneliti gelombang HP melarang penggunaan HP karena dapat mengakibatkan HP atau pesawat meledak walaupun pesawat dalam posisi berhenti dan berjalan menuju ke landasan pacu atau dari landasan ke apron.
      Qadry Arief Healty & Safety Professional

  5. 14 Juli 2014 16:48

    Kalau menurutku itu karena bosen aja di dalam pesawat, sehingga begitu mendarat sontak penumpang seperti keluar dari penjara.

    Kalau kita cermati maskapai memangkas pelayanan apapun di dalam pesawat sehingga penumpang mudah merasa jenuh. Khususnya pelayanan sebelum mendarat.

    Penumpang tidak akan menjadi liar jika masih sibuk mengunyah makanan yang disediakan di pesawat atau masih asyik menyelesaikan film/musik yang disediakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: