Skip to content

Belajar dari Kecelakaan Mudik Tahun 2013

2 Juli 2014

mudik 1 dvd

MUSIM mudik Lebaran tahun 2013 kita disodori fakta tewasnya 50 orang tiap hari akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Angka itu, mengutip data Korlantas Mabes Polri, turun sekitar 12% dibandingkan korban tewas pada periode sama tahun 2012 yang rata-rata 57 jiwa.

Sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) sekaligus juga pemudik, saya melihat kerja para pemangku kepentingan (stakeholder) keselamatan jalan selama arus mudik dan balik Lebaran, patut diapresiasi. Upaya mereka menurunkan fatalitas kecelakaan ada hasilnya. Hal itu selaras dengan instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada saat membuka sidang kabinet paripurna yang membahas persiapan Lebaran di kantor Presiden, di Jakarta, Kamis, 18 Juli 2013. Seingat saya, media massa memberitakan permintaan Presiden agar jajarannya bekerja keras untuk mengurangi angka kecelakaan, sekalipun kecelakaan tidak bisa dicegah.

Faktanya, lagi-lagi seperti dilansir Korlantas Mabes Polri, kasus kecelakaan lalu lintas jalan pun bisa diturunkan sangat signifikan, yakni sekitar 30%. Bila pada 2012, rata-rata per hari terjadi 327 kasus kecelakaan, setahun kemudian melorot menjadi 230 kasus. Penghitungan dilakukan dalam rentang 16 hari, yakni H-7 hingga H+7 tentu termasuk H1 dan H2.

Pertanyaannya, apa saja yang bisa membuat penurunan-penurunan itu semua?

Mari kita longok sejenak. Dalam amatan saya yang awam, saat periode mudik dan Lebaran para stakeholder begitu antusias melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing. Keterpaduan diantara mereka cukup solid. Misal, penanggung jawab infrastruktur jalan, yakni kementerian pekerjaan umum begitu sigap memperbaiki kualitas jalan. Perbaikan dilakukan disana-sini.

Begitu juga dengan kementerian perhubungan. Pemangku kepentingan yang satu ini begitu agresif membenahi marka dan rambu jalan. Kemenhub juga melakukan koordinasi dengan para penyelenggara transportasi, mulai dari perusahaan otobus hingga perusahaan kereta api. Sejumlah program digelar untuk menata transportasi yang aman, nyaman, dan selamat. Bahkan, kementerian ini agresif menjaring awak bus yang tidak layak mengemudi dengan razia obat-obatan dan minuman keras, termasuk memeriksa kondisi kesehatan awak bus.

Pada bagian lain, kepolisian juga sibuk dengan mengatur rekayasa lalu lintas jalan agar bisa mengurai kemacetan yang terjadi. Sejumlah posko dan petugas disebar di titik-titik rawan kemacetan maupun rawan kecelakaan, serta titik rawan kriminalitas. Polisi bahkan bekerjasama dengan masyarakat, seperti dengan Pramuka untuk membantu mengurai kemacetan lalu lintas jalan.

Di sisi lain, para perusahaan swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) berbondong-bondong menggelar kegiatan mudik bareng untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor. Para pemudik diangkut dengan bus, sedangkan sepeda motornya diangkut menggunakan truk. Memang tidak semua penyelenggara mudik bareng mengangkut sepeda motor. Namun, langkah ini dinilai turut memperkecil peluang terjadinya kecelakaan, terutama kecelakaan yang melibatkan sepeda motor. Faktanya, kecelakaan yang melibatkan sepeda motor bisa dikurangi. Catatan Korlantas Polri menyebutkan, sepeda motor yang terlibat kecelakaan anjlok hingga 20% pada 2013 menjadi rata-rata 286 unit per hari.
Perusahaan-perusahaan tersebut juga membuka posko-posko untuk beristirahat dan posko pemeriksaan kendaraan pemudik. Untuk yang ini, biasanya dilakukan oleh perusahaan otomotif, baik produsen sepeda motor maupun para produsen mobil.

laka mudik 2012 dan 2013

Perhatian pada keselamatan pemudik juga dilakukan oleh kalangan media massa, baik cetak, elektronik, maupun televisi. Tidak sekadar memberitakan peristiwa mudik dan balik, media massa juga ikut memberikan tips-tips mudik yang aman dan selamat. Soal peliputan, ada media massa yang rela merogoh kocek menyewa helikopter untuk keaktualan berita yang disiarkan.

Apa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut tentu saja tidak serta merta sebagai corporate social responsibility (CSR), namun juga berisi program pemasaran (marketing). Lihat saja bagaimana logo-logo perusahaan dan produk mereka bertebaran lewat spanduk, umbul-umbul, maupun medium lainnya.

Keterpaduan di kalangan pemangku kepentingan bisa begitu membahana tentu juga ditopang oleh unsur anggaran yang digelontorkan masing-masing instansi. Tanpa adanya logistik tentu saja kurang membuat nyaman para petugas yang bekerja siang dan malam. Artinya, ada anggaran, ada pekerjaan yang sistematik. Kalau di lini perusahaan swasta dan BUMN, ada programa CSR ada unsur pemasaran atau iklan. Kloplah.

Pertanyaan lanjutannya, kenapa keterpaduan dalam mengamankan para pengguna jalan yang melintas sepanjang arus mudik dan balik tidak bisa dilanggengkan sepanjang tahun?

Apalagi, jika kita bandingkan antara fatalitas kecelakaan rata-rata per hari sepanjang tahun dengan rata-rata sepanjang rentang mudik, angkanya cukup jomplang. Maksudnya, fatalitas sepanjang rentang mudik angkanya lebih kecil. Sebagai ilustrasi, rata-rata per hari sepanjang tahun 2013 jumlah korban jiwa sekitar 70-an jiwa, sedangkan selama arus mudik sebanyak 50 jiwa. Artinya, anjlok sekitar 31%. Fantastis kan? (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. 2 Juli 2014 00:36

    menurun drastis yak . tapi alay sekarang dimana mana

Trackbacks

  1. Uniknya Kegitana Ramadhan Ini. Hanya Ada Di Negara Kita, Indonesia. - Moodster
  2. Gila! Suasana Jakarta Ketika Lebaran Idul Fitri Ternyata Begini – SiKecilLucu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: