Lanjut ke konten

Puasa Bersabar di Jalan Raya

28 Juni 2014

pemotor di jalan jakarta

BAGI para pesepeda motor jalan raya menjadi salah satu tempat ujian kesabaran. Khusus mereka yang wira-wiri di Jakarta dan sekitarnya uji kesabaran menjadi menu sehari-hari. Rasa sabar diuji oleh kemacetan arus lalu lintas jalan yang menggila, sekaligus oleh perilaku yang ugal-ugalan.

Di sisi lain, para pesepeda motor juga kerap dianggap sebagai penguji kesabaran oleh sesama pesepeda motor. Bahkan, dianggap sebagai penguji kesabaran bagi pengguna jalan yang lain. Baik pedestrian, pesepeda kayuh, atau pengguna mobil pribadi dan angkutan umum.

Memasuki bulan puasa atau Ramadhaan, pesepeda motor yang menjalani ibadah shaum mendapat ujian kesabaran tambahan. Saat berpuasa dari menjelang matahari terbit hingga matahari terbenam, tubuh pesepeda motor menghadapi perjuangan tersendiri. Rasa haus dan lapar yang mendera, terutama di hari-hari pertama berpuasa, bisa memengaruhi konsentrasi. Tubuh yang melemah lantaran dehidrasi, teriknya sinar matahari, kebisingan suara mesin dan knalpot kendaraan bermotor, hingga debu dan asap knalpot bersatu padu menguji kesabaran pesepeda motor.

Rasa sabar mendapat ujian yang lebih berat. Sang pesepeda motor harus mampu mengatasi seluruh situasi yang ada agar tak lepas kendali. Dia juga harus mampu mengelola emosi agar tak mudah terprovokasi sehingga ikut berkendara secara ugal-ugalan.

Buah berkendara ugal-ugalan alias tidak tertib yang melanggar aturan bisa terasa amat pahit. Fakta memperlihatkan, pada 2013, perilaku tidak tertib menyumbang 42% kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Tahun itu, seperti dikutip dari data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), setiap hari terjadi 270-an kasus kecelakaan di permukaan aspal. Getirnya kecelakaan lebih terasa saat kasus-kasus kecelakaan itu merenggut 70-an anak bangsa setiap harinya.

Amat masuk akal bahwa perilaku tidak tertib salah satunya dipicu oleh menipisnya rasa sabar sang pengguna jalan. Kesabaran yang hilang karena mengutamakan ego pribadi mudah terlihat dari kelakuan merampas hak pengguna jalan yang lain. Misal, menerobos lampu merah, melawan arus kendaraan, hingga melibas trotoar jalan. Khusus perilaku merampas trotoar, memperlihatkan bagaimana pesepeda motor tidak menghargai keselamatan dirinya dan nasib para pedestrian.

Perilaku memaksakan diri bisa jadi juga berakar pada hilangnya rasa sabar. Memaksakan diri untuk melibas bahu jalan dan menerobos lampu merah suatu tindakan memaksakan diri yang memikul risiko cukup tinggi. Terpaksa dengan memaksakan diri bedanya tipis. Contoh terpaksa adalah saat seseorang bisa melompati pagar tembok setinggi dua meter akibat dipaksa oleh anjing yang mengejarnya. Sedangkan contoh memaksakan diri adalah saat seseorang mencoba memanjat tembok setinggi dua meter untuk menjangkau buah mangga yang menggoda selera. Hasil dari memaksakan diri seperti itu bisa berhasil tapi bisa juga tidak. Motivasinya beda.

Kembali soal ujian bersabar di jalan raya pada saat menjalankan ibadah puasa. Seorang muslim sadar betul bahwa shaum tak sekadar ujian menahan haus dan lapar sehingga bisa merasakan penderitaan orang lain yang tidak mampu makan secara teratur setiap hari. Bisa merasakan bagaimana orang yang kadang makan satu kali, atau kadang tidak makan dalam sehari karena tidak punya uang.

Ujian sejatinya adalah bagaimana meredam emosi yang menggerogoti diri agar tak lepas kendali. Memang semestinya kemampuan menjaga emosi agar tetap terkontrol diterapkan sepanjang tahun. Tak semata di masa bulan puasa. Kemampuan meredam emosi agar tak ugal-ugalan diharapkan mampu memangkas potensi terjadinya kecelakaan di jalan. Kita tahu, musuh terbesar di jalan raya bukanlah pengendara yang lain, justeru ada di dalam diri kita sendiri. Selamat menjalankan ibadah puasa kawan. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: