Lanjut ke konten

Remaja Panik Bikin Tabrakan Enam Kendaraan

20 Juni 2014

mobil remaja palembang tabrakan
foto:vivanews.com

PEKAN lalu kita disodori sebuah berita yang menggelitik. Sepasang remaja, perempuan dan lelaki terlibat kecelakaan mobil dengan sejumlah kendaraan bermotor lainnya. Sang pengendara, remaja pria berusia 14 tahun, sebaya dengan sang remaja puteri yang diduga kekasihnya. Mereka terlibat kecelakaan yang diduga lantaran panik dalam mengemudi. Menggelitiknya, kepanikan terjadi karena pasangan ini ditegur oleh petugas satuan pengamanan (satpam) karena dicurigai sedang melakukan sesuatu yang diluar kelaziman.

“Security melihat mobil Yaris mencurigakan, seperti orang yang mengawasi situasi rumah. Petugas security langsung menghampiri dan mendekati mobil tersebut serta mengetok kaca pintu,” kata Kapolsek Plaju AKP Siti Farida saat dihubungi, seperti dilansir Tribunnews.com, Kamis (12/6/2014).

Ironisnya, remaja putera yang mengemudi justeru tancap gas. Dia pun menyeruduk sejumlah kendaraan bermotor. Setidaknya ada empat sepeda motor dan dua mobil yang digeruduk mobil pasangan remaja itu. Beberapa orang pun harus terluka. Mobil Toyota Yaris sang remaja berhenti mencium tiang listrik. Kejadiannya di Palembang, Sumatera Selatan.
Ya. Ada dua hal yang perlu dicermati. Panik saat mengemudi dan sang pengemudi yang masih remaja. Apa pun alasannya, situasi panik bakal merusak konsentrasi seseorang saat berada di belakang kemudi. Daya antisipasi, kemampuan mengontrol situasi, dan ketepatan dalam mengambil keputusan menjadi rapuh. Jangankan saat mengemudi, saat berdiri atau berjalan kaki dalam keadaan panik bisa berbuntut kekisruhan.

Situasi panik bakal lebih runyam saat seseorang berkendara di jalan raya karena di area itu amat mungkin ada pengguna jalan yang lain.

Nah, hal yang kedua adalah bagaimana seorang remaja berusia 14 tahun diizinkan oleh orang tuanya untuk berkendara di jalan raya. Entah orang tua, paman, kakak, atau siapapun yang mengizinkan anak-anak di bawah umur sungguh memprihatinkan. Kita tahu, anak di bawah umur belum memiliki surat izin mengemudi (SIM). Kelompok usia ini amat labil dari segi emosional. Tak aneh jika mudah terprovokasi dan cepat mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Tapi yang merisaukan, usia di bawah umur cenderung tidak mampu mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. Tuh, repotkan.

Catatan Korlantas Mabes Polri tahun 2013 perlu dicermati dengan seksama. Data menunjukkan bahwa keterlibatan usia 10-15 tahun sebagai pelaku kecelakaan mengalami peningkatan. Kelompok usia ini yang menjadi pelaku kecelakaan sumbangannya meningkat menjadi 7,15% dari semula 5,12% pada 2012. Maklum, dari jumlah orang yang menjadi pelakunya pun meningkat, yakni dari rata-rata 18 orang per hari menjadi 20 orang per hari pada 2013.

Kelompok usia 10-15 tahun adalah kelompok anak-anak yang masih di bawah umur. Artinya, kelompok yang masih menjadi tanggung jawab para orang tua. Bagaimana mungkin mereka menjadi pelaku kecelakaan di jalan jika tidak mendapat ‘restu’ dari orang tua untuk berkendara, entah mengendarai mobil atau sepeda motor. Padahal, usia di bawah umur belum stabil secara emosional, bahkan bukan mustahil juga belum mampu mengimbangi kendaraan yang dikendalikannya. (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. 20 Juni 2014 02:31

    14 tahun pake mobil… ajiib

  2. Aa Ikhwan permalink
    20 Juni 2014 16:06

    ngerii

  3. 22 Juni 2014 08:09

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: