Lanjut ke konten

Menyepelekan Masalah Berujung Petaka Jalan Raya

14 Juni 2014

pesan laka jakarta busway

Seolah-olah kalau dengar kata safety riding, road safety, atau safety-safety yang lain yang kebayang adalah hal-hal yang rumit. Masalah yang super serius, mahal, dan merepotkan.

Pandangan seperti itu gak seluruhnya salah, tapi gak juga seluruhnya benar. Kalau kita mau agak sedikit cermat, safety riding alias keselamatan bersepeda motor atau road safety alias keselamatan di jalan adalah persoalan keseharian. Masalah yang setiap hari kita temui saat berlalu lintas jalan. Kalau begitu, mestinya safety can be fun. Eh, jadi mirip slogan iklan.

Artinya, masalah safety bisa menjadi rumit atau sebaliknya, tergantung kita mencermatinya. Tinggal bagaimana membuat yang rumit menjadi sederhana. Tapi, di masyarakat dengan sangat mudah kita temui perilaku yang justeru menyepelekan masalah yang ada saat berlalu lintas jalan. Menyepelekan masalah safety.

Padahal, antara menyederhanakan masalah dengan menyepelekan masalah jelas-jelas berbeda. Coba saja tengok di sekeliling kita, mana ada restoran sepele, yang restoran sederhana.

Eh, kok malah soal restoran. Balik lagi soal road safety.

Menyepelekan masalah bisa menjadi awal semuanya. Misal, naik sepeda motor di sekitar tempat tinggal seperti kompleks perumahan, tidak memakai helm. Bahkan, bertiga atau berempat. Alasannya jarak yang ditempuh hanya dekat-dekat saja.

Pertanyaannya, apa iya kecelakaan memilih-milih lokasi kejadian?

Contoh lain yang menyepelekan masalah adalah perilaku melibas trotoar jalan. Lantaran enggan antre di tengah kemacetan lalu lintas jalan, trotoar dijarah hanya demi kepentingan diri sendiri. Padahal, pedestrian menjadi bulan-bulanan. Sudah kesulitan berjalan, berisiko diseruduk kuda besi pula.

Untuk melengkapi contoh soal penyepelean masalah adalah perilaku menerobos jalur bus Trans Jakarta yang kondang disebut busway. Mulai dari pesepeda motor hingga pengemudi mobil pribadi, ramai-ramai menjarah busway. Alasannya untuk mencari jalan pintas. Ogah antre yang bakal menghabiskan waktu berlipat-lipat.

Ironisnya, perilaku-perilaku menyepelekan masalah di jalan tersebut sangat mungkin membuka peluang kecelakaan lalu lintas jalan. Atau, memperbesar fatalitas kecelakaan lalu lintas. Dan, perlu diingat bahwa ketiga perilaku tadi juga sekaligus contoh tindakan pelanggaran aturan di jalan. Tak heran jika kemudian muncul jargon bahwa kecelakaan kerap kali diawali pelanggaran aturan di jalan.
Tapi, kalau melihat fakta yang disodorkan Korlantas Polri, rasanya masuk akal. Data itu menyebutkan bahwa pada 2013, sekitar 42% pemicu kecelakaan adalah perilaku tidak tertib di jalan raya. Faktor itu adalah pemicu terbesar terjadinya kecelakaan tahun 2013 yang setiap hari terjadi 270-an kasus kecelakaan. Buntut kecelakaan itu merenggut 70-an orang per hari.

Kalau begitu, sederhananya adalah supaya mengurangi potensi kecelakaan adalah dengan tidak melanggar aturan. Bila semua berpendapat dan berperilaku yang sama, tak mustahil kasus kecelakaan dan fatalitasnya bisa ditekan.

Tinggal pertanyaan lanjutannya adalah kenapa pengguna jalan mesti melanggar aturan?

Barangkali karena terpaksa, malas antre, terburu-buru, atau tidak ditilang. Tapi, apa iya hanya itu? Jangan-jangan para pelanggar aturan di jalan itu melanggar karena belum merasa dirugikan atas tindakan yang dia lakukan. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. cahyadip permalink
    14 Juni 2014 19:30

    Safety itu berhubungan dengan kecakapan seseorang 🙂
    http://cahyadip.wordpress.com/2014/06/14/top-speed-yang-fair/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: