Lanjut ke konten

Tiga Jenis Kecelakaan Terbesar di Indonesia

9 Juni 2014

laka berita koran tempo

INDONESIA punya catatan kelam soal kecelakaan lalu lintas jalan. Tahukah Anda soal jenis-jenis kecelakaan yang dominan melanda negara kita?

Mengutip data Korp Lalu Lintas (Korlantas) Kepolisian Republik Indonesia (Polri), pada 2013, jenis kecelakaan terbesar adalah tabrakan depan dengan depan. Maksudnya, tabrakan antara bagian depan kendaraan dengan bagian depan kendaraan lainnya. Tabrakan jenis ini populer disebut adu kambing atau adu banteng.

Kecelakaan jenis adu kambing menyumbang 23,46% terhadap total kasus kecelakaan yang terjadi pada tahun lalu. Setiap hari setidaknya rata-rata ada 64 kasus kecelakaan jenis yang satu ini.

Jenis kecelakaan yang satu ini kerap terjadi di ruas yang memiliki dua arah tanpa median jalan. Bisa jadi karena salah satu dari kendaraan yang terlibat sedang mendahului. Namun, lantaran kurang perhitungan dari arah berlawanan muncul kendaraan lain. Tabrakan pun tak bisa dihindari. Sedikit kasus seperti yang terjadi di jalan layan non tol Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta beberapa waktu lalu. Sekalipun tabrak depan-depan, tapi terjadi di jalur yang sama karena salah satu kendaraan melawan arah.

Jenis kecelakaan kedua terbesar adalah tabrakan depan samping. Kontribusi jenis yang satu ini sebesar 22,30%. Sedangkan setiap harinya terjadi sekitar 61 kasus kecelakaan di Indonesia.

Nah, jenis kecelakaan ketiga yang terbesar adalah tabrak depan-belakang. Kontribusinya sekitar 17,26% terhadap total kasus kecelakaan tahun 2013. Setiap hari rata-rata terjadi 47 kasus tabrakan depan-belakang di Indonesia.
Khusus mengenai tabrak belakang, baru-baru ini kita mendengar bagaimana kisah seorang ibu dan anaknya harus meregang nyawa. Sepeda motor yang ditungganginya menabrak truk yang sedang berhenti. Sang sopir truk sedang mencari bahan bakar minyak (BBM) solar untuk mengisi truknya yang mogok. Sang sopir belum sempat memberi tanda bahwa truknya sedang mogok.

Ya. Kecelakaan bisa kapan saja dan menimpa siapa saja. Tidak mengenal status sosial, ekonomi, dan politik. Tidak mengenal gender. Tabrakan antara bagian depan dan belakang menjadi kasus yang mesti dicermati. Bisa jadi karena konsentrasi kendaraan yang dari arah belakang tidak maksimal. Dia mengira kendaraan yang di depannya dalam kondisi berjalan, ternyata sedang berhenti. Tak sempat menghindar, terjadilah tabrakan.

Karena itu, konsentrasi menjadi mutlak saat kita berkendara. Fokus dan waspada menjadi sebuah kata kunci. Tak perlu menggadaikan keselamatan dengan mencoba-coba lengah sesaat. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: