Lanjut ke konten

Menyepelekan Masalah Saat Bersepeda Motor

29 Mei 2014

anak di motor lombok 1

ADA sebuah anekdot. Begini bunyinya.

“Menyederhanakan masalah berbeda dengan meremehkan masalah. Lihat aja, gak ada rumah makan remeh, yang ada rumah makan sederhana.”

Hanya senyum kecil yang hadir saat mendengar atau membaca anekdot tadi. Saat direnungi lebih dalam anekdot tadi member pembelajaran penting bagi yang menyimaknya.

Masalah yang rumit bisa disederhanakan dengan gagasan cemerlang. Kerumitan yang ada bisa dituntaskan dengan cara yang elegan. Biasanya ide trengginas hadir lewat pemerasan otak secara efektif.

Misal, 25 pesepeda motor ingin touring, namun lebih dari separuh baru pertamakali. Lalu, sebagian besar tidak bisa berkendara pada malam hari dan lebih dari separuh memakai mesin yang lebih besar. Selain itu, peserta ingin lebih banyak beristirahat di lokasi ketimbang di jalan dan tidak ingin mengganggu pengguna jalan yang lain.
Penyederhanaan masalah dengan cara memilih keberangkatan pagi hari dan keberangkatan dibagi menjadi lima kelompok.
Dari contoh di atas penyepelean masalah bisa seperti ini. Seluruh rombongan berangkat pada tengah malam dalam satu keberangkatan tanpa memperhatikan daya tahan fisik peserta. Lalu, muncul gagasan agar rombongan tidak terputus meminta prioritas di jalan.

Banyak tindakan yang menyepelekan masalah saat di jalan raya. Dalam bersepeda motor kita dengan mudah mendengar alasan tidak memakai helm karena jaraknya dekat. Mengizinkan anak di bawah umur mengendarai motor karena jaraknya dekat. Bersepeda motor lebih dari dua orang karena jarak dekat. Semua berlindung di kata-kata jarak dekat. Seakan tidak ada risiko saat berkendara dalam jarak yang dianggap dekat tadi.

Penyepelean masalah juga muncul ketika merangsek busway. Demi memangkas waktu karena malas antre di tengah kemacetan yang mengular, busway dijarah menjadi my way. Atau, melibas marka jalan demi ego masing-masing seperti melibas bahu jalan. Bahkan, menjarah trotoar jalan hanya demi memangkas waktu beberapa menit.

Alasan lain di luar ‘jarak dekat’ yang kita sering jumpai adalah ‘tidak ada petugas’. Maksudnya, karena tidak ada petugas yang berjaga maka tidak akan ditilang. Sekalipun ditilang, ada yang berani merogoh kocek untuk berdamai.
Dalih lain adalah ‘terpaksa’. Nah soal yang ini justeru menimbulkan pertanyaan balik, ‘terpaksa’ atau ‘memaksakan’ diri. Kira-kira begini. Saat dikejar anjing seseorang ‘terpaksa’ memanjat tembok setinggi dua meter. Ketika hendak mengambil buah mangga tetangga, seseorang ‘memaksakan’ diri memanjat tembok setinggi dua meter.

Apapun dalihnya, menyepelekan masalah saat bersepeda motor bisa berisiko kecelakaan lalu lintas jalan. Tentu saja termasuk risiko kian fatal dampak dari kecelakaan tersebut. Misal, menganggap sepele tidak memakai helm pelindung kepala saat bersepeda motor di kawasan pemukiman, dampaknya lebih fatal ketika terjebak insinden yang menimbulkan benturan di kepala. Pasti banyak yang sudah tahu soal itu, tapi kenapa menyepelekan masalah soal helm?

Budaya aman saat berlalu lintas jalan masih rendah. Kira-kira begitu kesimpulan yang bisa ditarik. Faktanya, sekitar 42% pemicu kecelakaan lalu lintas jalan adalah perilaku berkendara tidak tertib.

Itu adalah faktor terbesar dari berbagai aspek yang memicu terjadinya kecelakaan. Soal alasan tidak tertib bisa jadi karena menyepelekan masalah.

Jangan-jangan, selain karena populasinya lebih banyak, keterlibatan sepeda motor yang mencapai 74% dari total kendaraan yang terlibat kecelakaan lantaran menyepelekan masalah. Ini baru dugaan.

Sebagai manusia yang beradab kita hanya mampu berikhtiar. Berusaha sekuat tenaga untuk terhindar dari petaka di jalan raya. Tentu saja termasuk ikhtiar agar tidak menderita lebih fatal ketika terjebak dalam insiden di jalan raya. Ikhtiar hari ini mesti lebih maksimal dibandingkan kemarin. Salah satu ikhtiar, tidak menyepelekan persoalan ketika bersepeda motor. Itu pun kalau mau. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. cahyadip permalink
    29 Mei 2014 01:33

    Makasih pencerahannya bro

    http://cahyadip.wordpress.com/2014/05/29/yamaha-vino-classic-2014/

  2. 3 Juni 2014 21:24

    salam kenal..
    menarik sekali postinganya.
    kunjungi balik kami untuk melakukan wisata bersepeda lintas alam di Sumatra Barat
    aet.co.id
    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: