Lanjut ke konten

Nasionalisme di Jalan Raya

20 Mei 2014

kopcau brotherhood

SETIAP tanggal 20 Mei Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Hari yang dijadikan momentum untuk memompa nasionalisme tersebut kini memasuki usia ke 106 tahun jika dihitung sejak 1908.
Berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 menjadi momentum bagi anak bangsa untuk membongkar cengkeraman kolonial Belanda. Semangat terus bergulir pada 28 Oktober 1928 hingga puncaknya pada 17 Agustus 1945, saat proklamasi dikumandangkan ke seantero dunia. Indonesia merdeka.

Kemerdekaan membawa kehidupan pada situasi yang jauh berbeda. Kini wajah Indonesia dipenuhi dengan seabrek problema sebagai konsekuensi pertumbuhan ekonomi. Benar bahwa ekonomi Indonesia bisa bertumbuh 5-6% per tahun. Benar bahwa Indoesia punya tingkat konsumsi otomotif yang tinggi, bahkan hingga konsumsi properti yang luar biasa. Di setiap sudut kota kita menjumpai beragam kemajuan. Tapi di tempat yang sama kita menjumpai sejumlah persoalan, termasuk di jalan raya.

Nasionalisme memiliki substansi mencintai negera beserta isinya. Mencintai Tanah Air bermakna juga saling toleran dengan sesama anak bangsa. Tak heran jika pemerintah dalam sambutan Hari Kebangkinan Nasional yang ke 106 Tahun 2014 mencuatkan tiga makna. Salah satunya adalah bahwa nasionalisme pada dasarnya menginginkan sebuah keharmonisan dalam perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini, termasuk keharmonisan di jalan raya.

Cita-cita mewujudkan jalan raya yang humanis masih relevan saat ini. Ketika mayoritas kecelakaan lalu lintas jalan dipicu oleh faktor berkendara tidak tertib, yakni 42%, menyiratkan bahwa ada problem serius di jalan raya. Toleransi dan ketaatan pada aturan di jalan menjadi dua kata kunci penting dalam mewujudkan jalan raya yang humanis.

Toleransi sebagai akar harmonisnya kehidupan di jalan raya baru bisa terwujud ketika ego tiap individu diekspresikan secara hati-hati. Egoisme alias mementingkan diri sendiri mengikis keadaban kita sebagai manusia. Pasalnya, egoisme bisa melatarbelakangi perilaku enggan antre di tengah kepadatan arus kendaraan, saling serobot, hingga saling sikut. Padahal kita faham bahwa perilaku seperti itu bisa mengoyak konsentrasi saat berkendara. Pada gilirannya, konsentrasi yang terganggu bisa memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan.

Ya. Harmonisasi dalam tataran kehidupan berbangsa dan bernegara sudah semestinya bukan sekadar retorika belaka. Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki budi pekerti luhur. Ketika itu menjadi jatidiri, semestinya lalu lintas jalan juga dengan mudah menepis perilaku egois dan antitoleran. Nasionalisme kita bukan semata anti penindasan dan anti penjajahan para kolonial, tapi juga anti terhadap penjajahan perilaku diri sendiri yang bisa merugikan pihak lain. Dalam hal di jalan raya perlu kita kumandangkan pentingnya nasionalisme yang terwujud dalam humanisnya perilaku para pengguna jalan. Demi keselamatan seluruh pengguna jalan. Jangan lupa, setiap hari, jalan raya kita merenggut 70-an jiwa akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Selamat Hari Kebangkitan Nasional. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 28 Mei 2014 09:37

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: