Lanjut ke konten

Kesabaran Kita Diuji Saat di Jalan Raya

10 Mei 2014

pesan laka waktu sesaat

BANYAK diantara kita barangkali pernah gundah gulana saat berkendara di jalan raya. Kesal karena ada pengguna jalan yang super egois. Entah apa yang memicu kelakuan seperti itu.

Dalam kekinian, terutama di Jakarta, dengan mudah kita menjumpai perilaku saling serobot. Jargon waktu adalah uang seakan menjadi panglima. Pengguna jalan yang satu dengan pengguna jalan yang lainnya seperti ingin berlomba lebih dulu mencapai tujuan.

Pernah suatu ketika saya dikirimi link video di youtube yang menggambarkan bagaimana seorang pesepeda motor bersitegang dengan pengendara mobil pribadi. Dalam adegan di youtube itu terlihat bahwa pesepeda motor enggan mundur untuk memberi jalan kepada pemobil. Alih-alih memberi jalan, sang pemobil pun memepetkan moncong mobilnya ke peseda motor. Si penunggang kuda besi emosi, dia memukul kap mobil. Sang pemobil tak mau kalah, dia menyundul hingga kuda besi tergelincir.

Adegan selanjutnya mudah ditebak. Sang pesepeda motor bangkit. Emosi. Dia merangsek seperti menantang berkelahi. Beruntung, saat itu ada pesepeda motor lainnya yang memisahkan pertengkaran yang terjadi pada pagi hari tersebut.

Kehidupan yang kota yang gegap gempita tampaknya mengerosi rasa sabar warganya. Setiap detik menjadi amat berharga. Setiap waktu dimanfaatkan semaksimal mungkin, walau ada juga yang setiap waktu mengisi dengan berkomunikasi via gadget. Meramaikan jejaring sosial sebagai katup sosial menghilangkan kepenatan beban hidup sehari-hari.

Ironisnya, di jalan raya bila pengendara kehilangan rasa sabar bisa bermuara pada petaka. Gesekan sosial bisa mudah tercetus. Masih ingat kasus Koboi Palmerah? Atau kasus penembakan di Kemayoran? Masih banyak lagi kasus yang berujung pada adu mulut, adu otot, bahkan adu senjata api.

Rasa sabar yang tergerus juga bisa membangunkan sang petaka jalan raya. Saat rasa sabar hilang dan sang pengendara tergesa-gesa dengan menerobos lampu merah, bukan mustahil merusak konsentrasi. Kondisi seperti itu selangkah lagi menuju terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan.

Ketergesaan yang membuat sang pengendara lengah amat memungkinkan terjadinya tabrakan. Kelengahan merupakan aspek kedua terbesar yang memicu kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia pada 2013. Setiap hari, terjadi 81 kasus tabrakan di jalan yang dipicu oleh pengendara yang lengah. Sumbangan aspek lengah mencapai sekitar 32% terhadap total kecelakaan yang terjadi di Indonesia.

Kita tahu, pada 2013, Indonesia setiap harinya kehilangan sekitar 70-an jiwa akibat kecelakaan di jalan raya.

Rusaknya kesabaran yang menimbulkan kelengahan di jalan menjadi momok yang menakutkan. Ketidaksabaran dengan menerobos lampu merah, melibas trotoar, hingga melawan arus kendaraan, menjadi salah satu potret kelam jalan raya kita. Rasa sabar menjadi komoditas yang mahal bagi masyarakat perkotaan. Padahal, ketidaksabaran tadi bisa berbuah pahit bernama kecelakaan lalu litnas jalan. Saya jadi teringat sebuah jargon, lebih baik hilang waktu sesaat, daripada “hilang” dalam sekejap. (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. 10 Mei 2014 11:37

    benar banget.. kesabaran seakan diuji setiap hari.. tidak perlu rasanya saling menunjuk yaa.. melihat kedalam diri masing masing dulu untuk memperbaiki diri. Nice posted.

    Salam Kenal
    @ahook_
    husinpeng.blogpsot.com

  2. 10 Mei 2014 12:54

    begitulah indonesiaku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: