Lanjut ke konten

Belajar dari Putri yang Tegar

14 April 2014

kompas minggu Putri

Membaca kisah Elianaputri Antonio di harian Kompas, edisi Minggu, 13 April 2014, memberi sejumlah pembelajaran, sekaligus inspirasi. Desainer permata lulusan Jepang itu berbagi pengalamannya ketika harus berhadapan dengan tragedi jalan raya. Mobilnya yang melaju sekitar 40 kilometer per jam (kpj) dihantam mobil berkecepatan 184 kpj. Brakkk!!!

Di dalam mobil, selain Putri yang duduk di balik kemudi, ada dua anaknya, yakni Matthew (11 tahun) dan Samara (9 tahun) yang duduk di kursi belakang. Putri koma tiga hari dan terluka parah. Kepalanya disangga sekrup yang akhirnya bisa dilepas setelah empat bulan. Luka fisik tak seberapa dibandingkan luka batin karena kehilangan Matthew. Di tengah itu semua dia bersyukur anak perempuannya selamat tanpa cedera serius. Belakangan baru ketahuan bahwa sang penabrak dalam peristiwa pada Oktober 2009 di Australia itu adalah pengemudi yang sedang dipengaruhi obat dan sedang dikejar polisi. Tragedi.

Bangkit dari keterpurukan setelah mengalami kecelakaan lalu lintas jalan sebuah hal yang mutlak. Hidup harus terus bergulir. Putri mengajarkan hal itu kepada kita semua. Setelah koma dan luka parah dan melewati pergulatan luka batin atas kehilangan putera yang dicintainya, kini ia menjalani hidup dengan penuh cinta. Berkarya dan berbagi dengan sesama. Dia membuat karya desain perhiasan emas, perak, dan batu berharga di bengkelnya di Bali. Putri mengusung merek Epajewel yang diluncurkan secara resmi pada 2012. Ada sejumlah koleksi, salah satunya adalah Prince Matthew. Khusus koleksi yang ini, seluruh penjualannya disumbangkan untuk kegiatan sosial.

Di Indonesia, menurut data Korlantas Polri, setiap hari ada 270-an kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Buntut dari hal itu, setiap hari 70-an jiwa melayang sia-sia. Selain itu, sekitar 77 orang menderita luka berat dan 300-an orang menderita luka ringan. Setiap hari.

Kecelakaan lalu lintas jalan menjadi sebuah tragedi bagi anak manusia yang tak terperikan. Para keluarga yang ditinggalkan, apalagi jika yang pergi adalah tulang punggung ekonomi keluarga, tragedi itu menimbulkan dampak yang cukup luas. Mereka harus bangkit. Begitu juga dengan mereka yang menderita luka-luka, baik itu luka berat maupun ringan.

Bangkit dari keterpurukan mutlak. Hidup harus terus berjalan. Rasa sedih dan luka menyayat hati harus disembuhkan. Tinggal bagaimana cara terbaik untuk melanjutkan hidup yang sempat terputus lantaran luka berat yang diderita.
Terkait hal ini, saya jadi ingat seorang kolega yang menggulirkan aksi sosial membagikan kaki palsu bagi para korban kecelakaan lalu lintas jalan yang terpaksa kehilangan kakinya. Kaki palsu dibagikan kepada mereka yang berhak dan diharapkan bisa membantu proses pemulihan kembali kehidupan sang korban. Aksi sosial itu layak diapresiasi.

Di luar sana pasti banyak orang-orang yang mampu secara ekonomi dan bisa membantu mereka yang terpuruk. Para korban kecelakaan adalah termasuk kelompok yang rentan. Pemulihan kemampuan sang korban untuk menghidupi keluarga bisa terganggu. Butuh proses pemulihan yang tepat atas luka fisik dan luka batin atau trauma kecelakaan sehingga sang korban bisa kembali seperti sediakala. Saatnya kita bergandengan tangan membantu melepaskan anak negeri dari jeratan nestapa akibat petaka di jalan raya. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: