Lanjut ke konten

Begini Korban Tabrak Lari di Jakarta

5 April 2014

pelopor keselamatan jalan_kaos1

DAMPAK kecelakaan lalu lintas jalan pasti menyakitkan. Entah sebagai pemicu atau sebagai korban, sama-sama dirugikan. Terlebih bagi mereka yang tertimpa kasus tabrak lari. Sang pelaku kecelakana melarikan diri, ingin lepas dari tanggung jawab.

Potret kasus tabrak lari mencerminkan perilaku primitif. Sudah berbuat, lepas tanggung jawab.

Di Jakarta dan sekitarnya kasus tabrak lari masih menjadi salah satu fenomena memprihatinkan. Setiap hari ada lima kasus tabrak lari pada 2013. Data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan bahwa setiap dua hari ada satu korban tewas akibat kasus tabrak lari.

Tahun 2013, kasus tabrak lari menyumbang sekitar 27% dari total korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di Jakarta. Angka korban tewas akibat tabrak lari pada 2013 anjlok sekitar 29% jika dibandingkan dengan setahun sebelumnya.

Data Ditlantas Polda Metro Jaya juga menyebutkan, 11% korba kecelakaan tabrak lari berujung pada kematian. Fatalitas tersebut lebih buruk dibandingkan dengan korban kecelakaan secara keseluruhan pada 2013. Tahun itu, sekitar 8% korban kecelakaan berujung pada kematian.

Pada kesempatan artikel sebelumnya, sempat saya tulis bahwa lari dari tanggung jawab menjadi sebuah perilaku yang memprihatinkan. Karena itu, Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mengganjar pelaku tabrak lari dengan hukuman berat. Lihat saja di pasal 312. Dalam pasal itu disebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kecelakaan lalu lintas kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia terdekat tanpa alasan, patut dipidana dengan pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta.

Kecelakaan lalu lintas jalan memang menyakitkan dan berdampak cukup luas. Tak semata pedihnya luka yang diderita atau hilangnya jiwa seseorang, pelaku kecelakaan juga bisa dijebloskan ke balik bui. Melihat risiko seperti itu sudah sepatutnya kita berupaya memperkecil celah terjadinya kecelakaan di jalan. Tentu, termasuk sekuat tenaga mengurangi fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Dimulai dari hal kecil, dimulai dari diri sendiri, dan dimulai saat ini. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 7 April 2014 07:48

    ikut berduka eyang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: