Lanjut ke konten

Bersepeda Motor, Antara Hobi dan Mencari Nafkah

23 Maret 2014

moge melbourne1

POPULASI sepeda motor terus meningkat setiap tahunnya. Di Jakarta saja, komposisi sepeda motor dengan mobil sekitar empat berbanding satu. Di tingkat nasional, komposisinya tidak jauh berbeda. Total populasi kendaraan bermotor di Indonesia ditaksir mencapai tak kurang dari 103 juta unit pada 2013.

Tak bisa dipungkiri bahwa kendaraan bermotor roda dua menjadi alternatif transportasi. Masyarakat menganggap sepeda motor menjadi solusi atas sistem transportasi publik yang belum mampu menyokong mobilitas secara mangkus dan sangkil. Keandalan sepeda motor yang mengantarkan point to point, menjadi kunci utama kenapa masyarakat menjatuhkan pilihan pada si kuda besi. Tentu, aspek keterjangkauan finansial juga menjadi sebuah alasan. Termasuk dianggap lebih murah dalam pengoperasiannya dibandingkan kendaraan roda empat.

Sepeda motor menjadi alat transportasi. Sepeda motor menjadi alat untuk mencari nafkah. Setidaknya mengantar sang pemilik menuju tempat kerja atau tempat usaha. Sekalipun, ada juga yang memanfaatkan sepeda motor sebagai alat angkut untuk mengantarkan barang dan orang.

Di luar itu, sepeda motor menjadi alat interaksi sosial dan berekreasi. Si kuda besi dianggap menjadi alat untuk menyalurkan hobi. Mulai dari hobi olahraga seperti balapan atau tunggangan untuk berekreasi keluar kota. Tak pelak dengan mudah kita menjumpai rombongan anggota kelompok sepeda motor yang bepergian keluar kota atau popular disebut touring pada waktu-waktu musim liburan atau akhir pekan.

Pada gilirannya, entah untuk mencari nafkah atau untuk sekadar hobi dan rekreasi, perlu menjadi perhatian adalah risiko yang membayangi para pesepeda motor. Keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan lalu lintas jalan masih tergolong tinggi. Di tingkat nasional, pada 2013, keterlibatan sepeda motor mencapai 71,09%, selebihnya mobil sebesar 28,81%.. Tahun itu, setiap hari rata-rata ada 320-an sepeda motor yang terlibat kecelakaan di jalan.
Secara natural sepeda motor lebih ringkih dibandingkan mobil roda empat. Si kuda besi lebih mudah tergelincir atau terjerembab karena hanya beroda dua. Karena itu, menjaga keseimbangan menjadi mutlak. Melihat sifat naturalnya itu, para penunggang kuda besi tak bisa main-main. Guna menjaga keseimbangan sang penunggang harus selalu sigap, waspada, dan penuh konsentrasi.

Masih dari sifat naturalnya, pesepeda motor lebih terbuka dibandingkan pengemudi mobil yang dilindungi kerangka besi. Keterbukaan penunggang kuda besi membuatnya lebih ringkih ketika terjerambab apalagi ketika terjadi benturan. Makanya muncul jargon, mobil adalah daging yang dibungkus besi, sedangkan motor, besi dibungkus daging.
Melihat risiko yang ada di jalan raya, yakni ditabrak atau menabrak, mau tidak mau mengharuskan para penunggang kuda besi untuk ekstra waspada. Mesti faham betul apa saja yang bisa memicu terjadinya petaka di jalan raya. Mesti meningkatkan terus kemampuan menjaga keseimbangan, tekni menguasai si kuda besi. Dan, ini amat penting, selalu mengedepankan keadaban sebagai manusia dengan mengikuti aturan yang ada serta menghargai etika. Soal ini, tentu juga berlaku bagi para pengemudi mobil, bahkan seluruh para pengguna jalan.

Manusia hanya bisa berupaya untuk mengurangi risiko yang terjadi akibat kecelakaan di jalan. Atau, memperkecil potensi terjadinya kecelakaan di jalan. Selebihnya serahkan kepada Sang Maha Pencipta. Pertanyaannya, sudah sejauh mana ikhtiarnya? (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. andikakusumaharyanto permalink
    23 Maret 2014 11:42

    Jinba ittai…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: