Lanjut ke konten

Ini Dia Biang Kerok Kecelakaan di Jakarta

11 Maret 2014

faktor manusia jakarta nov 13

TAK perlu mencoba-coba untuk lengah saat berkendara di jalan raya. Sangat tidak sebanding risiko yang dipikul dengan faedahnya. Malah, bisa-bisa berujung petaka, yakni mencium kerasnya aspal jalan raya.
Kelengahan seseorang saat berkendara di jalan raya bisa dipicu oleh banyak aspek. Sebut saja misalnya, terpancing oleh pemandangan di sekeliling sehingga sang pengendara menengok ke pemandangan itu. Seusai menengok atau berpaling untuk kembali memandang ke arah depan searah laju kendaraan, tiba-tiba jarak sudah sangat dekat dengan kendaraan yang ada di depan sehingga tidak mustahil bertabrakan.

Atau, setelah berpaling, situasi di depan kendaraan dikejutkan oleh kehadiran obyek bergerak sehingga manuver untuk menghindar atau melakukan pengereman menjadi tidak maksimal. Insiden kecelakaan pun sulit dihindari. Brakk!

Karena itu, jargon bahwa berkendara butuh konsentrasi penuh menjadi amat relevan. Terlebih, fakta memperlihatkan bahwa di Jakarta dan sekitarnya, pada 2013, aspek lengah menyumbang 50,9% terhadap faktor manusia yang memicu kecelakaan di jalan. Data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, sedikitnya ada delapan kasus kecelakaan per hari yang dipicu oleh aspek lengah.

Kelengahan saat berkendara masih menjadi biang kerok alias pemicu utama kecelakaan di faktor manusia. Jika pada 2013 ada delapan kasus per hari, setahun sebelumnya sebanyak sebelas kasus per hari.

Namun, dari segi kontribusi, aspek lengah cenderung meningkat. Coba saja simak, pada 2011, kontribusi aspek lengah baru sekitar 39,93%. Namun, setahun kemudian melompat menjadi 49,07% dan menjadi 50,90% pada 2013. Sekalipun, untuk tahun 2013, data Ditlantas yang saya kutip ini untuk periode Januari-November. Selebihnya, untuk 2011 dan 2012, periode sepanjang tahun.

Di bawah aspek lengah, pemicu kedua terbesar di faktor manusia adalah berkendara tidak tertib. Pada 2013, aspek tidak tertib menyumbang 38,45%. Angka tahun 2013 meningkat, sekalipun hanya tipis saja, yakni dari 38,38% menjadi 38,45%.

Melihat data yang ada, perlu menjadi perhatian bahwa berkendara tidak tertib hanya selangkah lagi menuju kecelakaan. Beberapa contoh berkendara tidak tertib di antaranya adalah melawan arus kendaraan dan menerobos lampu merah. Berkendara tidak tertib tak semata membuat sang pelaku terjebak pada kecelakaan. Justeru yang memprihatinkan adalah membuat pengguna jalan lain menjadi korban sia-sia. Gara-gara kelakuan seseorang, orang lain menderita karena tertimpa kecelakaan di jalan. (edo rusyanto)

6 Komentar leave one →
  1. 11 Maret 2014 07:17

    wah lengah..

  2. Aa Ikhwan permalink
    11 Maret 2014 07:17

    Reblogged this on Aa Ikhwan Blog and commented:
    Biang Kerok Kecelakaan di Jakarta

  3. 11 Maret 2014 10:57

    semua merugikan

  4. 11 Maret 2014 20:40

    sekalian nitip lapak om.. kayaknya masih ada kaitannya.. 😀

    Awak Bus Pukuli Anggota Klub Motor yang lagi touring? Mana yang benar dan mana yang salah?

    http://wp.me/p4gQMO-6C

  5. 12 Maret 2014 11:43

    Indonesia beud’z … XD

  6. 12 Maret 2014 15:58

    yang warna merah mengecewakan di ibukota kok bisa kayak gitu. tertib donk masak kalah sama daerah. ternyata hidup di daerah lebih baik. coba aja liat alam kami di daerah daerah di blog saya http://www.7og4nk.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: