Lanjut ke konten

Dan, Segmen Motor Bebek Pun Terus Tergerus

5 Maret 2014

bakso motor_1

SELERA konsumen sepeda motor di Indonesia tergolong dinamis. Kondisi itu kian terlihat dalam lima tahun belakangan. Keputusan untuk membeli sebuah produk dipengaruhi banyak variabel, salah satunya, model dan tampilan si kuda besi. Tentu, aspek fungsi juga tetap menjadi alasan penting ketika seseorang akhirnya memboyong kuda besi ke rumah.

Di tengah kemudahan sistem pembayaran dalam jual beli sepeda motor, permintaan terhadap si kuda besi juga ikut terkatrol. Konsumen diberi kemudahan dalam sistem jual beli kredit yang saat ini meruyak. Lembaga pembiayaan cukup menerima uang muka 20% dari harga jual, lalu cicilan per bulan dipilih sesuai kemampuan dengan tenor hingga 36 bulan. Bahkan, di lapangan pada praktiknya tak perlu menyetor uang muka hingga 20% sudah bisa membawa pulang sepeda motor dengan cicilan berkisar Rp 500-700 ribu per bulan. Transaksi seperti itu kebanyakan untuk model sepeda motor underbone atau yang kini kondang disebut motor bebek. Begitu juga untuk model motor scooter automatic yang kondang disebut motor skutik.

Tak heran jika kemudian komposisi penjualan sepeda motor di Tanah Air didominasi oleh model bebek dan skutik. Sisanya, kalau mengutip data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi), diisi oleh model motor sport. Pada puncaknya, segmen bebek pernah menggenggam hingga 90% pangsa pasar di dalam negeri. Namun, kini terjadi pergeseran yang cukup dramatis.

Mari kita tengok ke belakang sejenak. Sepuluh tahun lampau atau persisnya tahun 2004, motor bebek masih Berjaya dengan penguasaan pangsa pasar hingga 90,87%. Bebek merajai selera konsumen sepeda motor di Indonesia. Sedangkan motor skutik yang saat itu disebut scooter baru icip-icip pasar, yakni 0,4%. Motor sport menjadi pilihan kedua, yakni 8,72%.

Wajah selera konsumen pun mulai berubah memasuki tahun 2005 seiring dengan langkah para produsen sepeda motor menyodorkan varian motor skutik. Salah satunya apa seperti apa yang dilakukan Yamaha pada 2005, ketika menyodorkan alternatif di kancah motor scooter dengan varian Mio. Kehadiran Mio melengkapi peluru Yamaha lainnya, yakni Nouvo. Pada saat itu, pemain skutik sudah ada lebih dulu yakni, Kymco. Sang anggota Aisi ini membidik pasar skutik dengan menghadirkan motor bermesin 100cc lewat Easy dan Free 100. Namun, ada juga yang main di segmen 125cc, yakni Metica dan Trend. Bahkan, Kymco juga punya yang 250cc, yakni Gran Dink.

Tak hanya Kymco, anggota Aisi yang lainnya, yakni Kanzen juga ikut meramaikan motor skutik dengan KS 50 dan KS 125. Nah, dari tujuh anggota Aisi, tiga di antaranya belum melirik segmen scooter atau skutik pada 2005 mereka adalah Honda, Suzuki, dan Kawasaki. Khusus Kawasaki, hingga 2013 pun masih belum tergoda menggarap segmen skutik. Namun, ceritanya lain bagi Honda dan Suzuki.

Oh ya, Yamaha masih perkasa di segmen motor skutik pada 2005. Bahkan, kehadiran Mio dan Nouvo ikut mendongkrak komposisi skutik dibandingkan dengan dua segmen lainnya. Komposisi motor di dalam negeri pada 2005 sudah berubah jika dibandingkan tahun 2004, yakni menjadi bebek (89,41%), sport (8,72%), dan skutk (3,19%).

Ketika Suzuki dan Honda ikut meramaikan segmen skutik pada 2006, segmen motor bebek secara perlahan tergerogoti. Perlahan namun pasti, pangsa pasar motor bebek terus menurun. Selain varian yang disodorkan para produsen anggota Aisi jumlahnya terus bertambah di segmen skutik, pemain sekelas Honda juga terus meningkatkan kapasitas terpasang di pabrik motor skutiknya. Triliunan rupiah digerojok Honda untuk mendongkrak kapasitas pabriknya.

barisan sepeda motor tertib di jalan raya

barisan sepeda motor tertib di jalan raya

Puncak penguasaan motor bebek terhadap pasar domestik sudah runtuh pada 2011. Bayangkan, dari 90,87% tahun 2004 menjadi 47,79% pada 2011. Bahkan, terus anjlok menjadi 22,80% pada 2013. Bagaimana dengan skutik? Jangan kaget, kini sudah mencapai 63,02%. Sebaliknya, segmen motor sport justeru naik daun menjadi 14,18% pada 2013. Bagi motor sport, angka itu menjadi torehan yang hampir sama dengan tahun 1999. Soal motor sport, nanti kita bahas di tulisan yang lain.


Kepraktisan Menjadi Unggulan

Kembali ke motor skutik dan motor bebek. Tren skutik yang terus menggilas bebek tentu bukan tanpa alasan. Setidaknya ada dua alasan utama yang memincut hati calon konsumen untuk memborong skutik.

Pertama, soal kepraktisan dalam mengoperasikannya. Sang penunggang cukup betot gas dan rem, sudah bisa melenggang di jalan raya. Seiring dengan kian padatnya lalu lintas jalan di perkotaan, motor skutik dianggap lebih praktis dan tidak terlalu menguras tenaga dibandingkan motor bebek dan motor sport. Di luar skutik, sang penunggang harus memainkan pengoperan gigi, bahkan di motor sport masih harus memainkan kopling. Di tengah laju lalu lintas jalan yang macet, kedua instrument itu membuat tenaga sang penunggang kuda besi menjadi lebih lelah. Makanya, sekalipun ada motor bebek yang memakai instrument kopling, pasarnya tak pernah menggelembung. Begitu juga dengan produk hasil kawin silang, yakni bebek matik, nasibnya lebih buruk dalam memikat hati konsumen. Barangnya gak laku di pasaran.

Kedua, secara fisik sang skutik punya dek. Dek menjadi pijakan kaki sang penunggang kuda besi menjadi lebih lebar dibandingkan pijakan kaki di motor bebek dan skutik. Bahkan, dek juga memiliki fungsi lain yakni menjadi tempat menaruh barang. Bagi ibu rumah tangga atau mereka yang butuh untuk mengangkut barang, fungsi dek lebih unggul dibandingkan dikaitkan di pengait di bawah setang motor bebek.

Berbarengan dua fungsi yang lebih menonjol dibandingkan motor bebek dan sport tadi, skutik juga terus ditonjolkan oleh produsen sebagai kendaraan yang menopang gaya hidup. Tampilan motor skutik terus dipoles dengan stripping dan instrument lainnya yang dianggap lebih gaya. Tak heran jika iklan-iklan yang dikeluarkan para produsen banyak menggeret mindset konsumen ke arah gaya hidup. Kloplah sudah, secara fungsi memenuhi kebutuhan sang penunggang, dari segi pencitraan melekatkan gaya hidup dengan motor skutik.

ms motor 2005 2013

Tak aneh jika kemudian pertumbuhan motor skutik tercatat luar biasa. Sebagai ilustrasi, dalam rentang lima tahun terakhir, 2009-2013, pertumbuhan penjualan motor skutik mencapai 26,06%. Ironisnya, motor bebek rata-rata turun 14,13% per tahun dalam rentang waktu tersebut. Padahal, pasar motor bebek secara keseluruhan justeru rata-rata bertumbuh 5,34%.

Dalam periode tersebut, tiap jam motor skutik yang diboyong konsumen mencapai 431 unit, sedangkan motor bebek sebanyak 316 unit. Khusus motor sport, tiap jam terjual 80 unit sepanjang rentang lima tahun terakhir.
Ya. Era motor bebek terus tergerus walau bukan mustahil sang bebek masih melekat di hati konsumen Indonesia. Tak heran jika kemudian para produsen motor juga terus berimprovisasi dengan memberikan fitur-fitur yang dianggap sebagai kebutuhan konsumen. Salah satunya, fitur pengisian batere untuk gadget atau ponsel yang kini juga menjadi urat nadi kehidpan masyarakat kita. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 5 Maret 2014 19:45

    matic je

  2. 6 Maret 2014 07:39

    seiring dengan semakin macetnya jalanan maka metic menjadi semakin pas buat harian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: