Lanjut ke konten

Sayang Anak (nya)

25 Februari 2014

anak diapit tanpa helm

BAGI para orang tua, anak adalah segalanya. Segenap tenaga dicurahkan untuk membahagiakan sang anak. Kerja banting tulang, siang dan malam, demi anak tertawa bahagia.

Keceriaan dan kebahagiaan anak menjadi oase menyejukan bagi orang tua. Kepenatan hidup raib seketika saat melihat senyum dan tawa canda si buah hati. Rasa lelah seusai bekerja seharian sirna saat menatap wajah lugu si kecil tercinta.

Ada banyak cara membuat anak-anak bahagia. Bagi yang berkocek tebal bisa memilih wahana hiburan yang menguras isi dompet. Bagi yang berdompet tipis cukup riang dengan hiburan disekeliling. Kebahagiaan tak bisa diukur dengan wahana hiburan berbanderol ratusan ribu rupiah sekali main.

Hiburan yang dipilih sebisa mungkin tak mengundang risiko membahayakan bagi sang anak. Maklum, darah daging kita masih punya perjalanan panjang. Dia harus menggapai cita-citanya yang setinggi langit. Dia harus menikmati hidup yang demikian berwarna.

Mengajak anak berkeliling kampung dengan sepeda motor motor bisa menjadi salah satu wahana hiburan. Menikmati perjalanan sambil melihat pemandangan atau menikmati belaian angin di wajah saat si kuda besi bergulir. Namun, cerita menjadi lain ketika sang anak diajak menggoda risiko kecelakaan lalu lintas jalan ketika si buah hati didirikan di tengah orang dewasa. Atau, memberi si kecil kuda besi untuk bermain-main dengan teman-temannya keliling kampung.

Anak-anak di bawah umur, yakni di bawah usia 17 tahun, masih menjadi tanggung jawab orang tua. Segala tindakan anak di bawah umur menjadi tanggung jawab orang tua. Anak-anak cenderung tidak memahi tindakan yang dilakukannnya. Anak-anak tidak berpikir layaknya orang dewasa soal tanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Tingkat kestabilan emosi sang anak di bawah umur cenderung lebih mudah diprovokasi, termasuk saat berkendara sepeda motor. Diprovokasi oleh teman sebayanya untuk memacu kencang, sang anak bisa ikut-ikutan ngebut.

Fakta memperlihatkan bahwa pada 2013, anak-anak sebagai pelaku kecelakaan lalu lintas jalan angkanya meningkat. Data Korlantas Polri menyebutkan, pada 2013, anak usia 5-15 tahun yang menjadi pelaku kecelakaan menjadi tujuh ribuan pelaku dari enam ribuan pelaku pada 2012. Artinya, angka itu setara dengan meningkat sekitar 10%. Padahal, di kelompok usia yang lain justeru terjadi kebalikannya.

usia pelaku kecelakaan 2013

Anak-anak usia 5-15 tahun yang menjadi pelaku kecelakaan kontribusinya sekitar 7,15% pada 2013. Dalam tiga tahun terakhir, kontribusi kelompok usia ini terus meningkat. Coba saja lihat pada 2011 yang baru 5,10% dan 2012 yang 5,12%. Lantas pertanyaannya, kenapa orang tua membiarkan ini terjadi?

Sementara itu, anak-anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan pada 2013 tercatat sebanyak 26 ribuan anak. Kontribusinya sekitar 15% dari total korban kecelaan di Indonesia. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 25 Februari 2014 12:07

    menurut pendapat saya pak, sebenernya keinginan orang tua itu kan membahagiakan anaknya, tapi caranya salah, seperti membiarkan anaknya naik motor sebelum dewasa.
    mungkin dalam benak orang tua nya cara itu dapat menyenangkan anaknya, namun mereka tidak sadar akan resikonya..

  2. 25 Februari 2014 13:01

    Reblogged this on Suetoclub's Blog and commented:
    yup para ortu harus memikirkan kesehatan dan keselamatan anaknya..seharusnya perlu edukasi untuk ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: